← Beranda
Xavi Hernández Dituntut Bermain Menyerang Meski Lini Tengah Timnas Belanda dalam Masalah
M Shofyan Dwi Kurniawan• Jumat, 25 September 2026 | 05.12 WIB
ig @xavi

JawaPos.com - Xavi Hernández datang ke Timnas Belanda dengan sebuah misi yang cukup jelas: mengembalikan identitas permainan yang dominan, agresif, dan berbasis penguasaan bola.

Namun, menjelang pertandingan pertamanya, ia langsung menghadapi masalah. Dua pemain yang secara karakteristik tampak sangat cocok dengan filosofi Xavi, Frenkie de Jong dan Xavi Simons, harus absen. Situasi tersebut membuat lini tengah menjadi pekerjaan rumah pertama bagi mantan pelatih Barcelona itu.

Filosofi Xavi Bertemu Identitas Belanda

Melansir Sportsmole, Xavi memiliki hubungan yang cukup erat dengan filosofi sepak bola yang selama ini identik dengan Barcelona dan Belanda.

Ia tumbuh dalam sistem Barcelona yang sangat dipengaruhi pemikiran Johan Cruyff, kemudian bermain di bawah Pep Guardiola sebelum mengembangkan interpretasinya sendiri mengenai sepak bola posisional ketika menjadi pelatih.

KNVB juga menginginkan perubahan setelah kepergian Ronald Koeman. Timnas Belanda diharapkan bermain dengan lebih banyak inisiatif, kontrol, serta keberanian dalam menyerang.

Masalahnya, menerapkan filosofi tersebut di level tim nasional bukan pekerjaan mudah. Xavi hanya memiliki waktu latihan yang terbatas. Para pemain juga datang dari klub dengan sistem dan kebiasaan taktik yang berbeda.

Kini, ia bahkan harus memulai tanpa dua pemain yang berpotensi menjadi bagian penting dari sistemnya.

De Jong dan Simons Jadi Kehilangan Besar

Frenkie de Jong tampaknya merupakan salah satu pemain yang paling cocok dengan gagasan permainan Xavi.

Keduanya pernah bekerja sama di Barcelona. Xavi mengetahui kemampuan De Jong dalam membawa bola melewati tekanan, menciptakan sudut umpan, dan mengalirkan permainan dari area dalam menuju lini yang lebih maju.

Absennya De Jong berarti Xavi kehilangan salah satu pemain yang paling siap menerjemahkan tuntutan posisinya.

Xavi Simons juga memberikan profil berbeda. Pemain tersebut mampu beroperasi di antara lini tengah dan lini depan serta menawarkan kualitas teknis ketika Belanda membutuhkan pemain yang bisa membuka ruang di area menyerang.

Tanpa keduanya, Xavi harus mencari solusi dari pemain yang tersedia. Nama Ryan Gravenberch, Tijjani Reijnders, dan Teun Koopmeiners menjadi beberapa pilihan utama.

Gravenberch, Reijnders, dan Koopmeiners

Ketiganya memiliki karakter berbeda. Gravenberch bisa membawa bola melewati lini tengah dan beroperasi di beberapa posisi. Reijnders nyaman menerima bola di area tengah sekaligus melakukan penetrasi ke ruang yang lebih maju.

Sementara itu, Koopmeiners menawarkan kemampuan untuk membantu proses pembangunan serangan sekaligus memberikan ancaman melalui pergerakan di sepertiga akhir.

Keragaman tersebut justru bisa menjadi keuntungan bagi Xavi. Sebab, sistem permainan yang pernah ia gunakan di Barcelona tidak selalu bergantung pada formasi 4-3-3 yang kaku.

Pemain bisa bertukar posisi antara area dalam dan area maju. Bek sayap dapat masuk ke tengah, sementara bentuk tim bisa berubah ketika penguasaan bola berhasil dikuasai.

Intinya bukan sekadar formasi awal. Xavi ingin menciptakan keunggulan jumlah pemain di sekitar bola, menemukan pemain yang bebas, kemudian menggunakan penguasaan bola untuk menggerakkan lawan dan membuka ruang.

Belanda memiliki sejumlah pemain yang bisa menjalankan tugas tersebut. Tantangannya adalah membangun hubungan antarpemain hanya dalam hitungan hari.

Laga Melawan Jerman Jadi Ujian Pertama

Pertandingan melawan Jerman akan memberikan gambaran awal mengenai seperti apa Belanda di bawah Xavi. Namun, susunan pemain pertamanya belum tentu menjadi gambaran final dari proyek tersebut.

Virgil van Dijk tetap menjadi kapten. Cody Gakpo masih menjadi salah satu pemain penting di lini depan, sementara pemain berpengalaman seperti Denzel Dumfries dan Nathan Aké tetap berada dalam skuad.

Di sisi lain, Memphis Depay tidak dipanggil. Xavi juga memberikan kesempatan kepada pemain seperti Ruben van Bommel dan Gjivai Zechiël untuk menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi bagian dari rencana baru.

Karena itu, pertandingan melawan Jerman lebih tepat dilihat sebagai awal sebuah proses daripada pernyataan taktik yang sudah final.

Xavi sendiri ingin timnya memiliki intensitas, semangat, ritme, dan inisiatif. Penguasaan bola yang ia inginkan juga bukan sekadar memainkan bola dari satu pemain ke pemain lain tanpa tujuan.

Bola harus digunakan untuk memanipulasi posisi lawan, menciptakan ruang, dan membawa tim menuju area berbahaya. Pada saat kehilangan bola, pemain juga dituntut segera melakukan pressing.

Lini Tengah Harus Menjawab Tantangan

Semua tuntutan tersebut membuat lini tengah menjadi bagian yang sangat penting dalam debut Xavi.

Gravenberch dan Reijnders berpotensi memegang peranan besar untuk menggantikan fungsi yang biasanya bisa diberikan De Jong. Koopmeiners juga memberikan opsi berbeda untuk menyeimbangkan permainan dari fase pembangunan serangan hingga pergerakan menuju kotak penalti.

Namun, pekerjaan Xavi tidak berhenti pada satu pertandingan. Proyek ini baru akan bisa dinilai lebih lengkap ketika De Jong dan Simons kembali tersedia.

Untuk sementara, Belanda yang akan tampil di bawah Xavi adalah versi yang belum sepenuhnya lengkap dari tim yang mungkin ingin ia bentuk. Justru di situlah tantangan pertamanya.

EDITOR: Hanny Suwindari