JawaPos.com - Fiorentina mengambil keputusan mengejutkan setelah start buruk di Serie A 2026/2027. Fabio Grosso dipecat setelah hanya memimpin empat pertandingan resmi dan Paolo Vanoli kembali dipercaya menangani La Viola.
Fiorentina resmi memecat Fabio Grosso setelah hanya memimpin empat pertandingan resmi pada awal musim 2026/2027. Tiga kekalahan beruntun di Serie A membuat masa bakti Grosso bersama La Viola berakhir kurang dari dua bulan setelah ditunjuk pada Juni lalu.
Pengumuman pemecatan Grosso dirilis Fiorentina pada Senin (7/9), dua hari setelah La Viola kalah 1-2 dari Torino. Kekalahan tersebut menjadi pukulan terakhir setelah Fiorentina tidak mampu meraih kemenangan dalam tiga laga awal Serie A.
Situasi berbeda sebenarnya terlihat ketika Grosso memimpin Fiorentina pada laga pramusim dan Coppa Italia. Ia bahkan mengawali kiprahnya dengan kemenangan meyakinkan atas Benevento di Coppa Italia.
Namun, hasil positif tersebut tidak berlanjut di Serie A. Fiorentina kemudian kalah 4-0 dari AS Roma dalam pertandingan tandang.
Kekalahan tersebut masih dianggap dapat dimaklumi karena Roma dinilai memiliki kualitas yang lebih unggul. Masalah Fiorentina semakin serius ketika mereka dipermalukan Frosinone dengan skor 3-0 di Stadion Artemio Franchi.
Kekalahan dari Frosinone terasa semakin menyakitkan karena pertandingan tersebut berlangsung bertepatan dengan perayaan 100 tahun klub. Tekanan terhadap Grosso pun semakin besar.
Puncaknya terjadi ketika Fiorentina menghadapi Torino. La Viola sempat membuka keunggulan, tetapi Torino mampu membalikkan situasi dan menang 2-1.
Kekalahan itu membuat Fiorentina gagal mengamankan poin pertama di Serie A. Tiga kekalahan beruntun sekaligus menjadi salah satu start terburuk La Viola dalam sejarah klub di kompetisi tersebut.
Tekanan suporter sebenarnya sudah terlihat ketika menghadapi Torino. Tuntutan agar Grosso mundur menggema dari tribun stadion.
Manajemen Fiorentina sebelumnya sempat menyatakan posisi Grosso aman. Namun, perkembangan setelah kekalahan dari Torino membuat keputusan berubah.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, manajemen awalnya berniat melakukan evaluasi terhadap Grosso ketika jeda internasional. Namun, perselisihan antara Grosso dan Direktur Olahraga Fabio Paratici mengenai jalan keluar dari krisis membuat hubungan keduanya tidak lagi dapat dipertahankan.
Fiorentina akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri masa kerja Grosso. Sebagai pengganti, La Viola kembali menunjuk Paolo Vanoli.
Pemecatan Grosso juga tidak bisa dilepaskan dari besarnya ekspektasi terhadap proyek Fiorentina musim ini. Klub telah menghabiskan sekitar EUR 130 juta atau sekitar Rp2,6 triliun pada bursa transfer dengan mendatangkan 13 pemain baru.
Namun, investasi tersebut belum menghasilkan performa sesuai harapan. Grosso harus membangun tim dengan banyak wajah baru, sementara sejumlah pemain anyar bahkan baru tiba dua hari sebelum penutupan bursa transfer.
Situasi itu turut memengaruhi keputusan taktik Grosso. Pelatih tersebut semula berencana menggunakan formasi 4-3-3 yang selama ini menjadi pilihannya.
Keterbatasan pemain sayap kemudian membuat Grosso beralih ke skema 4-3-1-2. Pada akhir pertandingan melawan Torino, ia kembali mengubah pendekatan dengan menggunakan formasi 4-2-3-1.
Pergantian sistem tersebut belum mampu membuat permainan Fiorentina lebih stabil. Dalam tiga pertandingan Serie A, Grosso juga tidak pernah menurunkan susunan pemain yang sama dalam dua laga beruntun.
Setidaknya empat hingga lima pemain mengalami perubahan dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Rotasi tersebut menunjukkan Grosso masih berusaha menemukan formula terbaik untuk skuadnya.
Namun, hasil di lapangan belum mendukung upaya tersebut. Fiorentina akhirnya memilih mengakhiri proyek Grosso lebih cepat.
Kini, Paolo Vanoli mendapat tugas untuk menghidupkan kembali Fiorentina setelah start buruk musim ini. Tantangan pertamanya adalah memperbaiki performa La Viola sekaligus mengembalikan kepercayaan diri skuad yang baru dibentuk.