JawaPos.com — Manchester United harus belajar membunuh harapan lawan setelah kembali gagal mempertahankan keunggulan. Unggul dua kali atas Everton, Setan Merah tetap harus puas bermain imbang.
Setelah peluit panjang dibunyikan, para pemain Manchester United kembali menghampiri tribun tandang yang sudah jauh lebih kosong untuk berterima kasih kepada suporter. Di sisi lain, fans Everton merayakan gol penyama kedudukan Ainsley Maitland-Niles pada menit ke-96.
"Benar-benar sangat kecewa," ujar pelatih Manchester United Michael Carrick menggambarkan suasana hati timnya dikutip dari New York Times.
Manchester United dua kali memimpin, tetapi dua kali pula tiga poin lepas dari genggaman. Penampilan Setan Merah memang jauh dari sempurna, tetapi pertandingan tersebut seharusnya bisa mereka menangkan.
Terlebih, laga itu sebenarnya menjadi kesempatan bagi Manchester United untuk menunjukkan naluri membunuh ketika Everton sedang berada dalam situasi sulit setelah pekan yang penuh tantangan di internal klub.
Memang, dua gol penyama kedudukan Everton lahir dari penyelesaian individu yang luar biasa. Tyrique George mencetak gol pada menit ke-83 untuk membatalkan keunggulan Bryan Mbeumo. Kemudian, Maitland-Niles yang merupakan pemain baru sekaligus pemain pengganti melepaskan tembakan keras dari tepi kotak penalti.
Namun, peluang bagi Everton untuk membalikkan keadaan seharusnya tidak diberikan Manchester United jika mereka mampu mengelola pertandingan dengan lebih baik.
Komentar pelatih Everton David Moyes bahkan bisa dengan mudah ditujukan kepada Manchester United.
"Kami berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, dan saya merasa jika ada tim yang kemungkinan besar akan berada di atas dan memenangi pertandingan, itu adalah kami. Saya merasa kami tidak benar-benar mendapatkan kembali bola, tidak benar-benar mengendalikan pertandingan selama beberapa menit setelah itu, yang memungkinkan mereka unggul 2-1," kata Moyes.
Hal serupa terjadi pada Manchester United setelah gol Sesko. Gol pada menit ke-88 seharusnya menjadi gol kemenangan. Namun, Manchester United gagal mempertahankan penguasaan bola, tidak mampu membersihkan bola dari area pertahanan dengan baik, dan secara umum masih menyisakan rasa tidak nyaman yang membuat suara suporter di dalam stadion semakin keras.
Ketika tambahan waktu lima menit diumumkan, respons suporter Everton sebenarnya masih terdengar setengah hati. Namun, beberapa saat sebelum Maitland-Niles melepaskan tembakannya, suara dukungan kembali membesar. Everton mulai mencium peluang untuk membalikkan keadaan.
Gol Maitland-Niles dan gol George yang melewati Senne Lammens di tiang dekat memang merupakan penyelesaian yang sangat baik. Namun, tanda-tanda kebangkitan Everton sebenarnya sudah terlihat sebelum kedua momen tersebut.
Lammens melakukan tiga penyelamatan pada babak kedua. Salah satunya berasal dari tendangan Kiernan Dewsbury-Hall sekitar menit ke-60 yang bisa saja menjadi gol penyama jika dieksekusi lebih sempurna.
Manchester United juga tidak pernah benar-benar terlihat nyaman ketika menghadapi situasi bola mati. Hal tersebut mulai menjadi masalah yang berulang pada awal musim ini.
Catatan pertahanan mereka juga patut mendapat perhatian. Manchester United kebobolan dua gol dalam masing-masing dari tiga pertandingan pembuka musim.
Namun, persoalan bukan hanya berada di lini belakang. Urgensi dalam menyerang juga masih kurang.
Setelah tampil kurang meyakinkan pada babak pertama, Manchester United seolah menemukan momentum yang dibutuhkan selepas turun minum. Gol Mbeumo melalui aksi individu dari sisi kanan dan penyelesaian apiknya tercipta hanya semenit setelah babak kedua dimulai.
Gol tersebut seharusnya menjadi fondasi bagi Manchester United untuk mendominasi pertandingan.
Namun, mereka gagal mempertahankan ketajaman tersebut.
Di pertengahan babak kedua, ketika Everton tertinggal satu gol, rasa frustrasi suporter tuan rumah terhadap timnya terlihat jelas. Everton beberapa kali gagal melakukan pressing agresif maupun membangun serangan dengan cepat.
Manchester United sebenarnya bisa memanfaatkan situasi tersebut dengan menunjukkan urgensi yang lebih besar.
Pada satu momen, setelah Lammens menangkap tendangan Dewsbury-Hall dari situasi sepak pojok yang mengakhiri gelombang serangan Everton, para pemain Manchester United justru membutuhkan waktu untuk kembali mengambil posisi sebelum membangun serangan dari belakang.
Padahal, banyaknya pemain Everton yang maju ke depan sebenarnya membuka ruang besar untuk serangan balik. Manchester United hanya perlu lebih cepat membaca peluang tersebut.
Jika mampu mencetak gol kedua, suasana di dalam stadion bisa berubah dan kemenangan mereka kemungkinan besar akan lebih mudah diamankan.
"Ketika skor 2-1, Man United sebenarnya bisa saja mencetak gol ketiga untuk menjadi 3-1 karena mereka memiliki beberapa peluang serangan balik. Saat itu kami memang sedikit lebih terbuka karena berusaha mencari gol penyama," kata Moyes setelah pertandingan.
Manchester United Harus Matikan Harapan Lawan
Mengelola pertandingan bukan sekadar bertahan untuk mempertahankan keunggulan tipis. Proses tersebut juga tidak baru dimulai ketika pertandingan memasuki menit ke-80.
Manchester United seharusnya sudah melakukannya sejak unggul 1-0 dengan pendekatan yang lebih proaktif. Mereka harus mampu membuat Everton kelelahan dan terus berada dalam tekanan.
Namun, di antara dua gol Manchester United, mereka tidak sekalipun melepaskan tembakan tepat sasaran. Mereka hanya mencatatkan satu percobaan dari dalam kotak penalti.
Sebaliknya, Everton melepaskan sembilan tembakan sejak gol pembuka Mbeumo hingga gol penyama kedudukan George.
Masalah serupa juga terlihat saat menghadapi Hull City pada pertandingan pembuka musim. Kegagalan Manchester United untuk membuat lawan berada dalam kondisi bertahan dan mempertahankan tekanan tersebut membuat pertandingan berkembang menjadi kacau hingga berujung kekalahan 0-2.
Manchester United harus belajar bagaimana meredam atmosfer stadion sekaligus mematikan harapan lawan. Caranya bukan hanya dengan tenang ketika bertahan, tetapi juga harus lebih kejam ketika menyerang.
Kembalinya Sesko ke kondisi kebugaran penuh bisa membantu aspek tersebut. Setelah masuk pada menit ke-70, ia memang hanya menyentuh bola enam kali. Namun, dua di antaranya merupakan tembakan.
Golnya, yang juga diawali dengan peran penting dalam proses serangan, menunjukkan apa yang bisa diberikan Sesko kepada Manchester United.
Penarikan Marcus Rashford pada waktu yang sama juga tidak membantu daya gedor Manchester United. Carrick mengatakan penyerang tersebut merasakan sedikit ketidaknyamanan setelah sebelumnya menjadi salah satu pemain yang paling mengancam pertahanan Everton.
"Kami sebenarnya tidak mengawali musim dengan buruk, sejujurnya," kata Carrick ketika ditanya apakah terlalu sederhana jika mengharapkan timnya melanjutkan performa bagus dari musim lalu.
"Kami sangat dekat untuk membawa pulang tiga poin hari ini. Itulah sepak bola; ada momen-momen kecil yang bisa kami tangani dengan lebih baik, tetapi kami akan baik-baik saja," sambungnya.
Carrick benar bahwa momen-momen kecil pada akhirnya membuat Manchester United kehilangan dua poin saat menghadapi Everton.
Namun, jika ingin melangkah lebih jauh dibandingkan musim lalu, pertandingan seperti ini adalah laga yang harus mampu mereka "matikan".