← Beranda
Kelemahan Lini Tengah Chelsea Menjadi PR Terbesar bagi Xabi Alonso
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 8 September 2026 | 01.11 WIB
Xabi Alonso (Bein Sports)

 

 

JawaPos.com - Tidak banyak manajer Liga Premier yang memahami pentingnya memenangkan pertarungan di lini tengah lebih baik daripada Mikel Arteta dan Xabi Alonso.

Menariknya, keduanya memiliki latar belakang yang hampir identik. Arteta dan Alonso sama-sama tumbuh dari lingkungan sepak bola yang sama di San Sebastián dan menghabiskan masa muda dengan saling berhadapan.

Pengalaman bertahun-tahun bertarung di lapangan pasir Antiguo itu pada dasarnya menjadi pelajaran panjang tentang bagaimana memenangkan duel di lini tengah.

Karena itu, pendekatan Arteta dalam membangun tim dengan pemain-pemain yang kuat secara fisik sekaligus memiliki kualitas umpan terasa sangat masuk akal. Filosofi tersebut bahkan sudah ditanamkan sejak ia berada di klub junior Antiguoko, tempat sepak bola memiliki satu prinsip sederhana: "semuanya tentang bola."

Ironisnya, filosofi tersebut justru terlihat menjadi masalah bagi Alonso. Pelatih Chelsea itu mengakhiri pertandingan melawan Arsenal dengan dua bek kanan murni yang bermain di lini tengah. 

Di sisi lain, Arteta bahkan bisa memasukkan dua pemenang Piala Dunia dari bangku cadangan untuk memperkuat sektor tengah. 

Sementara itu, Bruno Guimarães, gelandang andalan Arsenal yang didatangkan dengan harga $101 juta pada musim panas, bahkan tidak perlu dimainkan dalam kemenangan 2-1 tersebut. Situasi ini menunjukkan betapa besarnya perbedaan kedalaman lini tengah kedua tim.

Arsenal Menghukum Kelemahan Tengah Chelsea

Melansir Sports Illustrated, cedera, situasi bursa transfer, dan sejumlah keputusan yang tidak berjalan sesuai rencana membuat Alonso harus menggunakan konfigurasi lini tengah yang sebenarnya tidak ideal.

Cedera di awal musim yang dialami Moisés Caicedo memaksa Alonso memasangkan Reece James dan Roméo Lavia di lini tengah.

Sebelum musim ini, keduanya bahkan belum pernah bermain bersama sebagai pasangan gelandang. Chelsea sebenarnya sempat mencoba mencari solusi.

Lamine Camara dari Monaco menjadi salah satu target yang dianggap ideal untuk didatangkan pada hari terakhir bursa transfer. Namun, kesepakatan tersebut batal pada Selasa malam.

Chelsea kemudian memiliki kesempatan untuk membatalkan kepindahan Enzo Fernández ke Manchester City setelah Camara tidak lagi tersedia. Namun, The Blues tetap melanjutkan rencana mereka karena alasan "kehormatan."

Bagi Alonso, keputusan tersebut mungkin meninggalkan satu pertanyaan besar: apakah lebih baik mempertahankan prinsip atau memiliki satu gelandang tambahan?

Chelsea Memang Tidak Mengejar Penguasaan Bola

Ada anggapan bahwa Chelsea memang sengaja mengubah pendekatan mereka musim ini. The Blues kini terlihat lebih nyaman bermain tanpa menguasai bola terlalu lama. 

Ini merupakan pertandingan ketiga berturut-turut ketika Chelsea mencatatkan jumlah operan lebih sedikit daripada lawannya. Musim lalu, situasi tersebut tidak pernah terjadi lebih dari dua pertandingan secara beruntun.

Namun, statistik tersebut perlu dilihat dengan konteks. Dalam tiga pertandingan tersebut, Chelsea selalu mencetak gol cepat yang mengubah jalannya pertandingan. Ketika sudah unggul, pendekatan bertahan dan mengandalkan transisi tentu menjadi masuk akal.

Hal serupa terjadi ketika Morgan Rogers mencetak gol pada menit kedua di Emirates. Chelsea kemudian tidak perlu memaksakan penguasaan bola. Mereka bisa menunggu Arsenal dan mencari ruang melalui serangan balik.

Masalahnya, Arsenal justru sangat menikmati situasi tersebut. Untuk pertama kalinya sejak bertandang ke Manchester City pada pertengahan April, Arsenal tertinggal lebih dulu dan harus mengejar pertandingan.

Respons mereka sangat agresif. The Gunners merebut bola dari Chelsea berulang kali dan memaksa lini tengah The Blues bekerja ekstra keras.

Emiliano Martínez bahkan harus melakukan lima penyelamatan dari tembakan yang semuanya dilepaskan dari jarak kurang dari enam meter dari garis gawangnya.

Chelsea memang mampu membuat Arsenal sedikit kacau, tetapi setelah The Gunners menemukan kembali kendali permainan, kelemahan di lini tengah mulai terlihat.

"Kami menderita," aku Alonso.

Formasi Dua Gelandang Mudah Dihukum

Penggunaan dua gelandang dalam formasi 3-4-2-1 memang memberikan beberapa keuntungan, terutama saat melakukan transisi.

Namun, sistem tersebut juga memiliki risiko besar ketika lawan mampu menggerakkan bola dengan cepat dari satu sisi ke sisi lain.

Hal tersebut terlihat jelas ketika Arsenal mulai menyerang. Lavia dan James berkali-kali terpisah oleh serangan cepat Arsenal ke area sayap. Di saat bersamaan, Morgan Rogers dan Cole Palmer tidak cukup cepat untuk menutup ruang yang ditinggalkan.

Arsenal kemudian bisa menyerang ruang di antara lini tengah dan pertahanan Chelsea. Gol Martin Ødegaard menjadi contoh paling jelas.

Lavia tertarik keluar untuk mengawal Christos Tzolis. Pergerakan tersebut membuka ruang di tengah dan membuat Martin Lewis-Skelly tidak terjaga.

Maxence Lacroix sibuk mengikuti pergerakan Riccardo Calafiori, sementara Wesley Fofana harus memperhatikan Kai Havertz.

Di sisi lain, Reece James seharusnya mengawasi Ødegaard. Namun, ia gagal mengikutinya ketika kapten Arsenal tersebut masuk ke kotak penalti.

Ødegaard kemudian memiliki cukup waktu untuk menenangkan diri sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang.

Gol itu bukan hanya kesalahan individu. Ada masalah struktural yang lebih besar di baliknya.

Alonso memang bisa menyayangkan kelengahan tersebut, tetapi sulit untuk mengabaikan fakta bahwa ia menggunakan pemain di posisi yang bukan posisi aslinya.

Situasi bahkan semakin jelas setelah Malo Gusto masuk pada babak kedua. Chelsea akhirnya memiliki dua bek sayap yang bermain di lini tengah ketika Arsenal sudah sepenuhnya mengendalikan pertandingan.

"Kami Ingin Menjadi Protagonis"

Alonso tentu ingin Chelsea menjadi tim yang mampu mengendalikan pertandingan.

"Kami ingin menjadi protagonis," keluh Alonso.

Namun, untuk menjadi protagonis, Chelsea membutuhkan pemain yang tepat untuk menjalankan peran tersebut.

Masalahnya bukan sekadar apakah Reece James atau Malo Gusto mampu bermain di lini tengah.

Keduanya memiliki kualitas dan kemampuan teknis. Persoalannya adalah bagaimana Chelsea bisa menjaga keseimbangan ketika menghadapi lawan yang mampu menguasai area tengah dan menyerang ruang secara terus-menerus. Melawan Arsenal, jawaban tersebut belum ditemukan.

Arteta Juga Harus Beradaptasi

Menariknya, Arsenal juga memiliki masalah mereka sendiri setelah gagal mendapatkan penyerang baru yang benar-benar mereka inginkan pada bursa transfer musim panas.

Mikel Arteta mungkin mengatakan semua persyaratan telah terpenuhi "100%", tetapi kebutuhan untuk menambah kekuatan di lini depan tetap terlihat.

Arsenal gagal mendapatkan beberapa target utama, sementara Gabriel juga meninggalkan klub. Tanpa perubahan besar pada personel, Arteta kemudian harus melakukan sejumlah penyesuaian taktis.

Martin Ødegaard sesekali bergerak ke sisi kiri. Riccardo Calafiori bermain di berbagai area, sementara Kai Havertz bergerak ke sayap kanan.

Pergerakan Havertz di sisi kanan kemudian memberikan ruang bagi Bukayo Saka untuk bergerak seperti seorang penyerang tengah dan menyerang pertahanan tiga bek Chelsea.

Kerja sama tersebut menjadi salah satu kunci gol penyama kedudukan Arsenal. Havertz mampu bergerak ke dalam, mendapatkan ruang, lalu mengecoh Martínez di tiang dekat.

Arteta menunjukkan bahwa sebuah tim tidak selalu membutuhkan pemain baru untuk mengatasi masalah. Terkadang, penyesuaian taktik bisa menjadi solusi.

Ketika terus ditanya mengenai kurangnya tambahan penyerang menjelang derbi London tersebut, Arteta tetap memberikan kepercayaan kepada pemain yang sudah dimilikinya.

“Yang ingin saya katakan adalah saya menyukai para pemain yang kami miliki.”

Penampilan Arsenal melawan Chelsea tentu semakin memperkuat keyakinan tersebut.

PR Besar Alonso

Bagi Chelsea, kekalahan dari Arsenal bukanlah bencana. Namun, pertandingan tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai area yang harus segera diperbaiki Xabi Alonso.

Lini tengah adalah persoalan utamanya. Selama Caicedo belum sepenuhnya tersedia, Alonso harus menemukan formula yang mampu membuat Chelsea tetap kompetitif tanpa harus mengorbankan keseimbangan.

Mengandalkan Reece James atau Malo Gusto di lini tengah mungkin bisa menjadi solusi darurat. Tetapi jika Chelsea benar-benar ingin menantang Arsenal dan tim-tim papan atas lainnya, solusi darurat tidak bisa menjadi strategi jangka panjang.

Pertandingan di Emirates memperlihatkan satu hal dengan sangat jelas: Chelsea memiliki banyak pemain berkualitas, tetapi mereka masih kekurangan keseimbangan di area paling penting dalam sebuah pertandingan.

Dan untuk seorang pelatih seperti Alonso yang memahami betapa pentingnya memenangkan pertarungan di tengah lapangan, itulah PR terbesar yang harus segera diselesaikan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti