← Beranda
Empat Hal Penting yang Terlihat dari Kekalahan Pertama Chelsea Era Xabi Alonso
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 8 September 2026 | 01.08 WIB
Xabi Alonso. (ig @chelseafc)

 

 

JawaPos.com - Awal musim Liga Premier 2026–27 sempat membuat Chelsea terlihat seperti calon penantang gelar. Namun, ujian besar pertama langsung datang ketika mereka harus bertandang ke markas sang juara bertahan, Arsenal.

The Blues memang akhirnya kalah 1-2 di Emirates Stadium, tetapi pertandingan tersebut memberikan sejumlah gambaran penting mengenai proyek Xabi Alonso.

Morgan Rogers membawa Chelsea unggul hanya pada menit kedua. Arsenal kemudian merespons dengan cara yang mengesankan, menyamakan kedudukan melalui Kai Havertz sebelum Martin Ødegaard mencetak gol kemenangan di awal babak kedua.

Chelsea kesulitan membangun momentum setelah itu. Arsenal semakin nyaman mengendalikan permainan dan pertahanan mereka terbukti sulit ditembus.

Meski demikian, Chelsea tidak tampil buruk secara keseluruhan. Bahkan, mereka mampu membuat Arsenal berada dalam pertandingan yang jauh lebih terbuka dibandingkan beberapa laga kandang The Gunners sebelumnya.

Melansir Sports Illustrated, berikut empat hal penting yang terlihat dari kekalahan pertama Chelsea di era Xabi Alonso.

1. Absennya Moisés Caicedo Sangat Terasa

Xabi Alonso sebenarnya berharap Moisés Caicedo bisa kembali bermain setelah mengalami masalah kebugaran. Namun, gelandang Ekuador itu akhirnya tidak masuk skuad untuk menghadapi Arsenal.

Absennya Caicedo terasa semakin penting karena Chelsea gagal mendapatkan pengganti Enzo Fernández pada Deadline Day. Alonso pun harus melakukan eksperimen dengan menempatkan Reece James sebagai gelandang bertahan bersama Roméo Lavia.

Lavia sendiri memiliki kualitas yang cukup untuk memainkan peran tersebut. Ia bahkan tampil cukup baik di sebagian besar pertandingan. Namun, celah di lini tengah Chelsea terlihat jelas dalam proses terciptanya gol kemenangan Arsenal.

Lavia bergerak menjauh dari area tengah untuk mengawal Christos Tzolis. Pergerakan tersebut meninggalkan ruang yang kemudian dimanfaatkan Arsenal.

Gerakan tanpa bola yang cerdas dari para pemain Arsenal membuat struktur pertahanan Chelsea berantakan. Reece James kemudian gagal mengawal Martin Ødegaard dengan baik.

Tzolis memanfaatkan gerakan tipuan Kai Havertz untuk menemukan Ødegaard, dan kapten Arsenal tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Duet James dan Lavia memang tidak sepenuhnya kewalahan menghadapi lini tengah Arsenal. Namun, pertandingan ini menunjukkan bahwa Chelsea masih memiliki celah besar ketika harus mempertahankan area tengah dalam situasi tertentu.

Kehadiran Caicedo bisa menjadi sangat penting untuk mengatasi masalah tersebut.

2. Emiliano Martínez Bukan Jaminan

Chelsea melakukan perubahan di posisi penjaga gawang pada musim panas. Robert Sánchez tersingkir setelah melakukan kesalahan dalam pertandingan melawan Fulham pada pekan pembukaan, sementara Chelsea mendatangkan Emiliano Martínez.

Martínez memang memiliki reputasi sebagai salah satu kiper terbaik Liga Premier dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, performanya saat ini menunjukkan bahwa Chelsea belum tentu mendapatkan solusi permanen di bawah mistar.

Mantan penjaga gawang Aston Villa tersebut memang masih mampu menghasilkan penyelamatan penting. Bahkan, ia mengakhiri pertandingan dengan delapan penyelamatan.

Namun, ada satu momen yang cukup mengganggu. Gol penyama kedudukan Kai Havertz seharusnya bisa menjadi peluang yang lebih mudah untuk dihentikan oleh Martínez. Bola memang tidak datang dengan kecepatan luar biasa dan posisinya memungkinkan sang kiper untuk melakukan penyelamatan.

Kesalahan seperti ini memang bukan hal baru bagi Martínez. Ketika berada dalam performa terbaiknya, kemampuannya menghasilkan penyelamatan penting biasanya mampu menutupi kelemahan tersebut.

Tetapi jika Chelsea ingin bersaing dengan tim-tim terbaik, mereka membutuhkan penjaga gawang yang mampu memberikan konsistensi sekaligus menghindari kesalahan pada momen krusial.

Pertandingan melawan Arsenal setidaknya menunjukkan bahwa posisi kiper masih bisa menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan Alonso.

3. Serangan Bintang Chelsea Berhasil Dijinakkan

Salah satu daya tarik terbesar Chelsea musim ini adalah lini serang mereka. The Blues mencetak tiga gol ketika menghadapi Fulham dan empat gol saat melawan Brighton & Hove Albion.

Namun, menghadapi pertahanan Arsenal yang belum kebobolan tembakan tepat sasaran selama 180 menit pertama musim ini merupakan tantangan yang berbeda.

Awalnya, Chelsea terlihat mampu membuat pertahanan Arsenal kerepotan. Gol Morgan Rogers pada menit kedua memberi mereka awal sempurna. Arsenal juga tidak langsung memberikan tekanan berlebihan sehingga pertandingan berlangsung terbuka dan memberikan ruang bagi trio penyerang Chelsea.

Rogers bahkan hampir mencetak gol keduanya setelah bekerja sama dengan João Pedro. Pedro Neto juga membentur tiang gawang menjelang akhir babak pertama, sementara ia hampir memanfaatkan umpan indah dari Cole Palmer.

Artinya, Chelsea sebenarnya memiliki beberapa kesempatan untuk memperbesar keunggulan atau setidaknya menyamakan kedudukan setelah Arsenal berbalik unggul.

Namun, ketika Arsenal mulai mengendalikan lini tengah, ruang yang sebelumnya tersedia perlahan menghilang. Chelsea akhirnya lebih banyak mengandalkan serangan balik dan tembakan dari jarak jauh.

Lini depan mereka memang tetap terlihat berbahaya, tetapi trio penyerang The Blues mungkin meninggalkan Emirates dengan perasaan bahwa mereka belum memaksimalkan peluang-peluang yang tersedia.

4. Masih Ada Alasan untuk Tetap Optimistis

Kekalahan dari Arsenal tentu memberikan sejumlah peringatan bagi Chelsea. Pembicaraan mengenai mereka sebagai penantang gelar mungkin memang masih terlalu dini. Penguasaan bola juga menjadi salah satu masalah yang perlu diperbaiki.

Chelsea hanya memiliki rata-rata penguasaan bola 36,2% dalam tiga pertandingan pertama mereka yang merupakan angka terendah kedua di Liga Premier.

Ketergantungan terhadap serangan balik juga bukan formula yang selalu bisa menghasilkan kesuksesan dalam jangka panjang.

Namun, ada sisi positif yang tidak boleh diabaikan. Chelsea mampu membuat Arsenal benar-benar bekerja keras.

The Gunners memang akhirnya mengendalikan pertandingan dan memenangkan laga 2-1, tetapi Chelsea berhasil menyeret sang juara bertahan ke dalam pertandingan yang lebih terbuka dan kompetitif dibandingkan banyak pertandingan Arsenal di Emirates selama setahun terakhir.

Untuk beberapa periode, Chelsea mampu bersaing secara langsung dengan sang juara bertahan. Itu menjadi tanda bahwa proyek Alonso mungkin memang memiliki fondasi yang menjanjikan, meski masih membutuhkan banyak perbaikan.

Chelsea Masih Punya Banyak Waktu

Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa Chelsea belum berada di level Arsenal. Namun, jarak antara kedua tim tidak terlihat sebesar yang mungkin digambarkan oleh sejumlah statistik.

Arsenal tampil luar biasa setelah tertinggal cepat dan menunjukkan mengapa mereka masih menjadi tolok ukur di Liga Premier.

Bagi Chelsea, tugasnya sekarang adalah mendekati level tersebut. Alonso masih berada di tahap awal proyeknya. Ada ketidakseimbangan dalam skuad, masalah penguasaan bola, serta kebutuhan untuk menemukan kombinasi terbaik di lini tengah.

Namun, kekalahan dari Arsenal bukanlah alasan untuk panik. Chelsea memang kalah, tetapi mereka juga menunjukkan bahwa mereka mampu memberikan perlawanan serius kepada sang juara bertahan.

Pada akhirnya, Arsenal adalah tim luar biasa. Status mereka sebagai juara bertahan bukan sesuatu yang datang tanpa alasan. Dan itulah level yang ingin dicapai Chelsea di bawah Xabi Alonso.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti