← Beranda
Frank Lampard Ungkap Mourinho dan Ancelotti sebagai Inspirasi Melatih
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 1 September 2026 | 18.47 WIB
Frank Lampard Ungkap Mourinho dan Ancelotti sebagai Inspirasi Melatih / ig @franklampard

JawaPos.com - Frank Lampard punya kesempatan belajar langsung dari sejumlah pelatih top dunia ketika masih aktif sebagai pemain. Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Guus Hiddink, Rafael Benitez, hingga sang paman, Harry Redknapp, pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Melansir BBC Sport, setelah delapan tahun menjalani karier sebagai manajer, Lampard mengakui ada dua sosok yang paling banyak memengaruhi pendekatannya sebagai pelatih: Mourinho dan Ancelotti.

Menariknya, kedua pelatih tersebut memiliki karakter yang sangat berbeda.

"Jose dan Carlo seperti dua sisi mata uang," kata pria berusia 48 tahun itu.

"Jose sangat mengawasi Anda, dia menularkan rasa percaya dirinya, tetapi jika Anda melanggar aturan atau melakukan kesalahan, Anda akan merasakan ketegasannya, sedangkan Carlo tenang dan kalem.”

“Ketika Anda mengingat kembali, Anda akan berpikir, 'itu lingkungan kerja yang menyenangkan'. Rasanya seperti dia mempercayai Anda. Jadi saya mencoba mengambil sedikit demi sedikit. Saya mungkin berada di tengah-tengah."

Lampard memang memiliki pengalaman istimewa bersama keduanya. Ia pernah bermain di bawah Mourinho dan Ancelotti di Chelsea, sekaligus memenangkan Premier League dan Piala FA bersama masing-masing pelatih.

Lampard Berusaha Berada di Tengah

Bagi Lampard, menjadi manajer bukan soal memilih salah satu pendekatan. Ia justru mencoba mengambil elemen terbaik dari dua karakter yang sangat berbeda tersebut.

"Terkadang saya cenderung menjadi seperti Jose, terkadang saya lebih seperti Carlo," tambahnya.

Menurut Lampard, pengalaman selama bertahun-tahun membuatnya memahami bahwa seorang manajer harus mampu melihat pemain sebagai manusia, bukan sekadar bagian dari sistem.

"Saya telah belajar bahwa para manajer muda, ketika datang, merasa harus mengkritik kinerja yang buruk atau mengatakan sesuatu tentang seseorang yang datang terlambat. Semakin lama saya menjalani pekerjaan ini, saya menyadari bahwa mereka semua adalah manusia."

"Terkadang ada pemain yang datang terlambat, Anda tidak tahu latar belakangnya. Jadi, jika Anda mencoba untuk langsung menegurnya dan menjadi manajer yang keras, Anda harus lebih seperti Carlo. Tetapi jika Anda sedikit lebih santai dan orang-orang di lapangan tidak melakukan pekerjaan mereka, terkadang Anda bisa lebih seperti Jose."

Keseimbangan itulah yang kini coba diterapkan Lampard di Coventry City.

Tak Terobsesi Membungkam Para Pengkritik

Lampard juga berbicara mengenai tekanan sebagai seorang manajer, terutama setelah membawa Coventry kembali ke Premier League untuk pertama kalinya dalam 25 tahun.

Meski pernah menghadapi kritik selama periode kepelatihannya di Derby County, Chelsea, dan Everton, Lampard menegaskan bahwa ia tidak ingin menjadikan keinginan membungkam para skeptis sebagai motivasi utama.

"Yang perlu diketahui tentang sepak bola modern adalah – Anda bisa tampil brilian di satu menit, lalu mungkin tidak brilian di menit berikutnya, dan semua orang akan memberi tahu Anda tentang hal itu," katanya kepada musisi dan penggemar Sky Blues, Tom Grennan.

"Anda harus berhati-hati dalam mencoba membuktikan setiap orang yang meragukan Anda salah, karena itu tidak mungkin."

Lampard membawa Coventry meraih gelar Championship dengan 95 poin musim lalu setelah mengambil alih klub pada November 2024.

Sebelumnya, ia berhasil membawa Derby County ke final play-off Championship pada 2019, meski akhirnya kalah dari Aston Villa. Perjalanannya di Premier League sebagai pelatih kemudian jauh lebih sulit bersama Chelsea dan Everton.

Namun, pengalaman tersebut membuat Lampard semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan emosional.

"Ambisi pribadi saya untuk membuktikan bahwa semua orang yang meragukan saya salah selalu ada, tetapi saya berusaha untuk tidak membiarkan hal itu menjadi pendorong utama saya," jelas Lampard.

"Saya pernah berada di Liga Premier sebagai pemain, saya pernah sebagai manajer, saya memahami tantangannya. Saya tidak boleh terlalu percaya diri dan tidak boleh terlalu khawatir tentang dunia luar karena jika tidak, Anda akan menyerah dan membuat keputusan yang berbeda."

Promosi Coventry Jadi Salah Satu Pencapaian Terbesar

Sebagai pemain, Lampard memiliki koleksi prestasi luar biasa. Ia memenangkan tiga gelar Premier League, Liga Champions 2012, empat Piala FA, dua Piala Liga, dan Liga Europa bersama Chelsea.

Namun, promosi Coventry musim lalu tetap memiliki tempat khusus dalam perjalanan kariernya.

"Ketika Anda promosi, sulit untuk menyeimbangkannya dengan memenangkan Liga Champions bersama Chelsea," kata Lampard.

"Kemenangan di Munich adalah malam sepak bola terbaik dalam hidup saya sebagai pemain, jauh melebihi yang lain. Tetapi kemudian, ketika Anda melakukan sesuatu dengan klub yang telah melalui banyak hal, ketika Anda bekerja dengan sekelompok pemain yang begitu hebat di ruang ganti - saya belum pernah mengalami, terutama sebagai pelatih, memiliki kelompok pemain sebaik ini."

"Saat kami promosi melawan Blackburn, saya merasakan luapan emosi yang luar biasa, semuanya datang sekaligus. Itu pasti masuk dalam daftar hal-hal terbaik yang pernah saya raih."

Kini tantangan Lampard jauh berbeda. Coventry tidak lagi berjuang untuk naik kasta, melainkan harus membuktikan bahwa mereka layak bertahan di Premier League.

Lampard Minta Coventry Bermain Berani

Lampard sadar bahwa gaya permainan Coventry harus beradaptasi dengan level kompetisi yang lebih tinggi, terutama ketika menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas lebih besar.

"Kami ingin mempertahankan hal-hal baik dari tahun lalu," tambahnya.

"Akan menjadi tindakan bodoh jika kita berpikir bahwa kita akan bermain seperti yang kita lakukan di 'Champ' setiap minggu ketika kita mendominasi banyak pertandingan."

Target bertahan di Premier League memang menjadi pembicaraan utama, tetapi Lampard tidak ingin para pemainnya memasuki musim dengan mentalitas terlalu defensif.

"Semua orang akan bertanya kepada saya, 'bertahan di liga, apakah itu target Anda?'," kata Lampard.

"Tentu saja ini akan menjadi sebuah kesuksesan, karena ini merupakan tantangan besar bagi kami, tetapi pada awalnya, kami akan menghadapinya dengan penuh percaya diri dan berani."

"Para pemain ini telah berjuang untuk mencapai posisi mereka sekarang, jadi hadapi pertandingan dengan sikap seperti itu. Ada banyak hal yang bisa dipertaruhkan, tetapi tunjukkan kemampuan kalian."

Awal musim memang belum berjalan sempurna. Coventry kalah 3-0 dari juara bertahan Arsenal pada pertandingan pembuka.

Namun, ujian berikutnya memberikan kesempatan untuk merespons. Coventry akan menjamu sesama tim promosi, Hull City, pada pertandingan kandang pertama mereka musim ini.

Bagi Lampard, inilah saatnya membuktikan bahwa pelajaran dari Mourinho dan Ancelotti bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi benar-benar telah membentuk dirinya sebagai seorang manajer.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho