JawaPos.com - Manchester City membuat keputusan besar ketika mengumumkan kedatangan Ayyoub Bouaddi pada Rabu pagi. Gelandang berusia 18 tahun itu didatangkan dari Lille dengan nilai transfer awal €95 juta plus bonus €5 juta.
Untuk seorang pemain yang baru menginjak usia 18 tahun, angka tersebut jelas bukan nominal kecil. Bahkan, Bouaddi langsung menjadi pemain remaja termahal dalam sejarah Premier League.
Namun, City punya alasan kuat untuk berani mengeluarkan dana sebesar itu. Slogan yang digunakan klub saat mengumumkan transfernya terasa sangat tepat: "masa depan tidak menunggu gilirannya."
City Tidak Mau Menunggu
Melansir ESPN, Bouaddi sebenarnya diproyeksikan sebagai investasi jangka panjang. Ia sendiri mengakui bahwa perannya di Manchester City adalah "untuk masa depan".
Namun, situasi di lini tengah membuat rencana tersebut berubah. City kehilangan sejumlah pemain penting pada musim panas ini. Rodri, Bernardo Silva, Tijjani Reijnders, dan Nico González semuanya meninggalkan klub.
Saat ini, hanya Mateo Kovacic, Elliot Anderson, dan Bouaddi yang secara natural dapat mengisi posisi gelandang tengah. Nico O'Reilly memang dimainkan di lini tengah saat menghadapi Bournemouth, tetapi Maresca lebih melihatnya sebagai bek kiri.
Bahkan dalam pertandingan melawan Bournemouth, Maresca sempat memainkan bek tengah Marc Guéhi di lini tengah. Situasi tersebut membuat City tidak punya banyak ruang untuk menunggu perkembangan Bouaddi.
"Dia sudah siap," kata Maresca dalam konferensi pers pada hari Kamis. "Dia telah berlatih dengan klub lamanya sehingga dia dalam kondisi prima. Kita akan lihat berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk beradaptasi, tetapi yang pasti dia siap untuk bekerja."
Artinya, pemain yang awalnya dianggap sebagai proyek masa depan bisa saja langsung mendapatkan peran penting musim ini.
City Sudah Memantaunya Sejak Usia 16 Tahun
Keputusan mendatangkan Bouaddi bukanlah keputusan mendadak. Manchester City telah memantau perkembangannya sejak ia melakukan debut senior bersama Lille pada usia 16 tahun pada 2023.
Namanya kemudian semakin dikenal setelah tampil impresif dalam pertandingan Liga Champions melawan Real Madrid ketika usianya baru 17 tahun.
Performa tersebut membuat nilai Bouaddi terus meningkat. Penampilannya bersama Maroko di Piala Dunia 2026 bahkan semakin memperkuat keyakinan City bahwa sang gelandang memiliki sesuatu yang istimewa.
City juga sadar bahwa mereka menghadapi persaingan dari klub-klub besar seperti Real Madrid dan Paris Saint-Germain.
Sempat muncul gagasan untuk mengamankan tanda tangannya sekarang kemudian meminjamkannya kembali ke Lille. Ada pula pembicaraan mengenai kemungkinan menunggu satu tahun sebelum mengambil keputusan.
Pada akhirnya, City memilih opsi yang paling agresif: membayar harga yang diminta Lille dan membawa Bouaddi langsung ke skuad utama.
Hugo Viana Yakin dengan Potensinya
Direktur sepak bola City, Hugo Viana, mengungkapkan bahwa klub semakin yakin dengan kemampuan Bouaddi setelah melakukan pemantauan secara mendalam.
"Kami telah mengamatinya dengan sangat, sangat cermat dan selama proses itu kami semakin yakin bahwa dia adalah talenta luar biasa yang akan berkembang di City," kata Viana pada acara perkenalan Bouaddi. "Kami sangat senang dia bergabung dengan kami, dan tugas kami sekarang adalah memastikan kami menyediakan semua yang dia butuhkan untuk mewujudkan potensinya."
Keyakinan tersebut bukan hanya didasarkan pada kemampuan teknis Bouaddi.
Ia dinilai memiliki kecerdasan bermain yang sangat menonjol untuk pemain seusianya.
"Potensi Ayyoub sangat tinggi, seorang pemain yang memiliki semua yang dibutuhkan seorang gelandang top," kata Viana.
"Di usianya yang baru 18 tahun, ia sudah memiliki kecerdasan sepak bola yang luar biasa dan itu hanya akan meningkat di bawah bimbingan Maresca."
Bukan Sekadar Talenta, Bouaddi Juga Punya Kecerdasan
Salah satu hal yang membuat Bouaddi berbeda adalah kedewasaannya. Di luar sepak bola, ia dikenal serius dengan pendidikan dan telah meraih diploma di bidang matematika dan fisika.
Kecerdasannya juga terlihat ketika berada di lapangan. Dalam debutnya di Piala Dunia melawan Brasil, Bouaddi harus berhadapan dengan pemain-pemain berpengalaman seperti Casemiro, Bruno Guimarães, dan Lucas Paquetá.
Alih-alih terlihat gugup, ia mampu tetap tenang dalam duel lini tengah dan mengakhiri pertandingan dengan jumlah sentuhan serta akurasi umpan yang lebih baik dibandingkan rekan-rekan setimnya. Hal tersebut memberikan gambaran mengenai kualitas mental yang dimilikinya.
Maresca Tidak Ingin Terburu-buru
Meski Bouaddi siap bermain, Maresca tidak ingin memberikan tekanan berlebihan kepada pemain muda tersebut.
Pelatih asal Italia itu sadar bahwa Bouaddi masih harus beradaptasi dengan negara baru, kompetisi baru, serta tuntutan bermain untuk klub sebesar Manchester City.
"Dia cukup tenang," kata pelatih asal Italia itu pada hari Kamis. "Dia tidak terlihat seperti berusia 18 tahun. Kita perlu pelan-pelan. Dia datang dari negara lain, jadi tidak perlu terburu-buru. Dia akan membantu kita sekarang dan di masa depan. Dia sangat dewasa, meskipun baru berusia 18 tahun."
"Tugas saya dan tugas klub adalah mengelolanya dengan sebaik mungkin. Dia masih muda dan butuh waktu."
Jadi, meski kebutuhan City membuat Bouaddi mungkin harus bermain lebih cepat dari rencana awal, klub tetap tidak ingin mengorbankan proses perkembangannya.
Terinspirasi De Bruyne dan Yaya Touré
Bouaddi lahir di Creil, Prancis utara, dan mulai bermain sepak bola sejak usia enam tahun. Menariknya, meski masih sangat muda ketika Pep Guardiola datang ke Manchester City pada 2016, ia sudah menjadi penonton setia klub tersebut.
Pemain muda itu bahkan menyebut dua legenda City sebagai pemain yang sering ia tonton.
"Saya suka menonton [Kevin De Bruyne], juga Yaya Toure," katanya dalam wawancara pertamanya di City.
"Saya masih agak muda saat itu, tetapi saya sering menonton video mereka. Banyak pemain hebat pernah bermain di City, jadi seperti Rodri, saya tidak bisa menyebutkan semua pemain yang saya tonton di City, jumlahnya terlalu banyak."
Kini, Bouaddi tidak lagi hanya menjadi penonton. Setelah satu dekade kesuksesan bersama Guardiola dan kepergian sejumlah pemain besar, Manchester City sedang memasuki era baru. Bouaddi diharapkan menjadi salah satu bagian penting dari generasi berikutnya.
Harga €95 juta plus bonus €5 juta memang terlihat sangat besar untuk pemain berusia 18 tahun. Tetapi bagi City, angka tersebut merupakan investasi terhadap talenta yang sudah mereka pantau selama bertahun-tahun.
Dan dengan kondisi lini tengah yang membutuhkan tambahan tenaga, masa depan Bouaddi mungkin datang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.