JawaPos.com - Lionel Messi masih mencetak gol, masih menjadi pusat permainan, dan masih menjadi pemain paling menentukan bagi Inter Miami. Namun, ironisnya, justru keberadaan sang megabintang mulai dipertanyakan ketika performa The Herons terus merosot.
Melansir Sports Illustrated, kekalahan 2-1 dari Toronto FC menjadi pertandingan kelima berturut-turut tanpa kemenangan bagi Miami.
Mereka kini tertinggal jauh dari persaingan di papan atas Wilayah Timur, sementara performa tim sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik.
Messi sendiri tetap produktif. Ia mencetak gol ke-14 dalam 18 pertandingan MLS musim ini dan terlibat langsung dalam hampir separuh gol Miami di kompetisi tersebut.
Jadi, apakah Messi pantas disalahkan? Sebagian, tetapi bukan karena performanya di lapangan.
Messi Masih Melakukan Tugasnya
Sulit menunjuk Messi sebagai penyebab utama ketika statistik individu sang pemain justru masih luar biasa. Di usia 39 tahun, ia masih menjadi sumber kreativitas dan gol utama Miami. Masalahnya, ketergantungan tersebut sudah terlalu besar.
Ketika lawan berhasil mengisolasi Messi, Miami kesulitan menemukan pemain lain yang mampu mengambil alih tanggung jawab.
Itulah yang terlihat dalam beberapa kekalahan mereka musim ini. Saat menghadapi Nashville, misalnya, Miami kesulitan menghentikan serangan balik Andy Najar, Hany Mukhtar, dan Sam Surridge.
Melawan Philadelphia, Quinn dan Cavan Sullivan mampu membuat lini Miami kerepotan. Sementara ketika menghadapi Toronto, Markus Cimermancic dan Alonso Coello berhasil membuat lini tengah The Herons kehilangan kendali.
Satu pola terus muncul: matikan Messi, dan Miami kehilangan sebagian besar ancamannya.
Masalah Sebenarnya Ada pada Cara Skuad Dibangun
Ironisnya, Messi justru dianggap menjadi bagian dari masalah karena pembangunan skuad Miami terlalu berpusat kepadanya.
Klub memiliki banyak pemain berbakat, tetapi komposisinya tidak selalu masuk akal secara taktis. Miami membutuhkan bek sayap yang agresif, gelandang yang mampu berlari dalam transisi, serta pemain muda dengan energi dan kemampuan pressing.
Namun, beberapa perekrutan terbaru justru lebih terasa sebagai upaya menambah pemain yang cocok dengan lingkungan Messi daripada memperbaiki kebutuhan tim.
Germán Berterame menjadi salah satu contohnya. Miami mengeluarkan hampir $15 juta untuk penyerang tersebut, tetapi profilnya tidak memberikan perbedaan besar dari Luis Suárez.
Kemudian datang Casemiro. Nama besar pemain Brasil tersebut memang tidak perlu diragukan. Namun, sejauh ini kontribusinya belum sesuai harapan.
Dalam lima pertandingan, ia disebut kehilangan bola sebanyak jumlah tekel yang dimenangkannya, hanya menciptakan empat peluang dan bahkan mencetak gol bunuh diri. Artinya, Miami justru semakin bergantung pada pemain-pemain veteran.
Suárez Juga Tidak Bisa Menjadi Jawaban Selamanya
Luis Suárez masih produktif dengan 10 gol. Tetapi pada usia 39 tahun, ia tidak lagi mampu memberikan energi dan kontribusi menyeluruh seperti seorang penyerang modern.
Ketika Suárez dan Messi sama-sama menjadi pusat serangan, Miami membutuhkan pemain lain yang mampu melakukan pekerjaan berat di sekitar mereka.
Sayangnya, kualitas dan dinamika tersebut belum cukup terlihat. Akibatnya, Miami memiliki dua legenda sepak bola yang masih mampu mencetak gol, tetapi struktur di belakang mereka tidak cukup kuat untuk menopang keduanya.
Messi Bukan Masalah Utama, Tapi Pengaruhnya Bisa Jadi Masalah
Di sinilah kritik terhadap Messi menjadi lebih masuk akal. Tidak ada bukti bahwa Messi sengaja menentukan seluruh kebijakan transfer Miami. Namun, sebagai figur terbesar dalam proyek tersebut sekaligus bagian dari struktur kepemilikan klub, pengaruhnya jelas sangat besar.
Masalahnya bukan Messi meminta pemain tertentu lalu semuanya dituruti. Masalahnya adalah Inter Miami tampaknya terlalu lama membangun tim di sekitar Messi, bukan membangun tim yang bisa menang dengan atau tanpa Messi.
Itu dua hal yang sangat berbeda. Jika Miami ingin menjadi kekuatan MLS dalam jangka panjang, mereka harus mulai memikirkan apa yang dibutuhkan tim setelah era Messi dan Suárez berakhir.
Miami Harus Berani Mengubah Arah
Dengan 13 pertandingan tersisa di musim reguler, peluang mengejar puncak klasemen semakin sulit. Tetapi musim belum sepenuhnya berakhir.
Langkah terpenting sekarang adalah memperbaiki komposisi skuad.
Miami membutuhkan pemain yang mampu memberikan kecepatan dalam transisi, membantu Messi dan Suárez tanpa membuat serangan terlalu bergantung kepada mereka.
Selain itu mereka juga perlu memperkuat posisi bek sayap, meningkatkan intensitas pressing, serta menyediakan energi dan kualitas dari pemain yang lebih muda.
Jika itu dilakukan, Messi masih bisa menjadi senjata utama. Namun jika Miami terus merekrut pemain berdasarkan nama besar dan kedekatan dengan Messi, mereka justru akan memperbesar masalah yang sedang dihadapi.
Jadi, apakah Messi layak disalahkan?
Untuk performa buruknya di lapangan, tidak. Messi masih melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tetapi untuk proyek Inter Miami yang terlalu berpusat pada dirinya, pertanyaan tersebut jauh lebih sulit dijawab dengan “tidak”.
Messi mungkin bukan alasan Inter Miami terpuruk. Tetapi cara klub membangun tim di sekelilingnya bisa jadi merupakan alasan mengapa mereka sekarang kesulitan menemukan jalan keluar.
***