JawaPos.com - Manchester United mengawali Premier League 2026/27 dengan cara yang jauh dari harapan. Bertandang ke markas tim promosi Hull City, pasukan Michael Carrick justru tampil tanpa energi dan harus menelan kekalahan 0-2.
Semi Ajayi membuka skor pada menit ke-17 sebelum Nobel Mendy menggandakan keunggulan Hull melalui sundulan pada menit ke-38.
United sebenarnya menguasai hingga 70 persen penguasaan bola di babak pertama. Namun, dominasi tersebut tidak banyak berarti karena mereka hanya sekali benar-benar menguji kiper Hull, Konstantinos Tzolakis.
Baca Juga: Alasan Yan Diomande Tidak Jadi Starter di Laga Pembuka Real Madrid
Masuknya Marcus Rashford menggantikan Patrick Dorgu pada awal babak kedua juga tidak mengubah keadaan. United tetap kesulitan menciptakan peluang dan baru mendapatkan kesempatan bersih pada menit ke-78.
Melansir Mirror, berikut lima hal penting yang bisa disoroti dari kekalahan tersebut.
1. Lammens tak berdaya
Senne Lammens sebenarnya tampil cukup baik di bawah mistar United. Sebelum Hull mencetak gol pertama, kiper asal Belgia itu sudah melakukan tiga penyelamatan penting.
Ia menggagalkan sundulan Ollie McBurnie, menepis umpan silang Ryan Giles yang mengarah ke gawang, dan kembali menghentikan usaha McBurnie beberapa saat sebelum gol Ajayi.
Namun, pertahanan di depannya justru mengecewakan. Luke Shaw kehilangan John Egan di tiang dekat, Ayden Heaven gagal mengawal McBurnie, sementara Ajayi dibiarkan berdiri bebas untuk menyambar bola muntah.
Dengan situasi seperti itu, sulit menyalahkan Lammens atas dua gol yang bersarang di gawangnya.
2. Hull bermain sederhana, tetapi mematikan
Rencana Hull sebenarnya mudah dibaca sejak menit awal: bermain langsung melalui sisi lapangan, kemudian mengirim bola ke kotak penalti.
McBurnie menjadi target yang ideal karena agresif dalam duel udara dan mampu membuat bek United kerepotan.
Menariknya, dua gol Hull justru dicetak oleh pemain bertahan. Keduanya lahir dari eksekusi bola mati yang sangat baik.
Masalah terbesar United bukan semata-mata kualitas bola yang dikirim Hull, melainkan kurangnya komunikasi dan kepemimpinan ketika mengantisipasi situasi tersebut.
3. United kalah dalam intensitas
Ekspektasi sebelum musim dimulai adalah melihat Manchester United tampil penuh energi. Namun, justru Hull yang terlihat lebih siap bertarung.
United lambat ketika menguasai bola, kalah dalam banyak duel dan tampak tidak yakin ketika harus bertahan.
Persoalan tersebut juga terlihat di lini tengah. Youri Tielemans dan Andrey Santos belum mampu memberikan perlindungan yang cukup ketika United kehilangan bola maupun mendorong permainan ke depan.
Alih-alih membuat struktur permainan lebih cair, posisi beberapa pemain justru kerap berdekatan dan membuat serangan United mudah dibaca.
4. Hull menunjukkan mentalitas luar biasa
Sebelum pertandingan, Hull bukan tim yang banyak dijagokan untuk bertahan di Premier League setelah promosi melalui play-off.
Namun, penampilan mereka memberikan gambaran berbeda.
Sergej Jakirović menurunkan formasi lima bek yang ternyata tidak membuat Hull bermain pasif. Bek sayap Ryan Giles dan Lewie Coyle tetap agresif membantu serangan dan mengirimkan bola ke kotak penalti.
Di lini belakang, Nobel Mendy menjalani debut sempurna dengan mencetak gol. Sementara itu, Tzolakis hampir tidak perlu melakukan banyak penyelamatan.
Hull bermain disiplin, agresif, dan tahu persis bagaimana memanfaatkan kelemahan United.
5. Berat dan ompong
Setelah tertinggal 0-2, Manchester United seharusnya tampil jauh lebih agresif.
Bruno Fernandes diharapkan menjadi pemain yang mampu mengubah pertandingan melalui kreativitas dan umpan-umpan progresifnya. Namun, kapten United justru kesulitan memberikan pengaruh.
Tielemans juga tidak berada dalam performa terbaiknya, sementara Ayden Heaven melakukan sejumlah kesalahan. Matheus Cunha terlalu sering turun jauh sehingga kehilangan pengaruh di area berbahaya.
Marcus Rashford yang masuk di awal babak kedua juga gagal menjadi pembeda.
Bryan Mbeumo menjadi salah satu pemain United yang paling mengancam, tetapi upayanya tidak cukup untuk menyelamatkan tim.
Pada akhirnya, United terlihat menguasai bola tanpa benar-benar menguasai pertandingan. Kekalahan ini bukan sekadar soal dua gol dari Hull, tetapi juga menunjukkan bahwa Carrick masih memiliki pekerjaan besar untuk membuat Manchester United lebih tajam, agresif, dan mampu menghadapi lawan dengan pendekatan berbeda.