JawaPos.com - Manchester City mulai menunjukkan wajah baru di bawah Enzo Maresca. Meski masih berada dalam tahap pramusim, sejumlah perubahan dalam permainan The Citizens sudah mulai terlihat.
Maresca memang datang dengan tugas berat. Ia menggantikan Pep Guardiola yang selama hampir satu dekade membawa Manchester City meraih berbagai kesuksesan. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pihak memperkirakan gaya bermain City tidak akan mengalami perubahan besar.
Maresca sendiri punya hubungan dekat dengan Guardiola. Ia pernah menjadi bagian dari staf pelatih Guardiola di Manchester City. Namun, pengalaman tersebut tidak membuat Maresca sekadar meniru mantan mentornya.
Pelatih asal Italia itu mulai menunjukkan pendekatan yang menjadi ciri khasnya.
Salah satu kesamaan paling jelas adalah penggunaan positional play.
Baca Juga: Enzo Maresca Isyaratkan Erling Haaland Bukan Kandidat Utama sebagai Kapten Baru Manchester City
Manchester City masih berusaha menguasai bola, mengontrol pertandingan dan menempatkan pemain sesuai posisi untuk menciptakan keuntungan ketika menyerang.
Konsep rest defence juga tetap menjadi bagian penting. Ketika City menyerang, beberapa pemain tetap berada di belakang bola untuk mengantisipasi serangan balik lawan.
Dalam pertandingan pramusim melawan Inter Milan, City bahkan mencatat penguasaan bola hingga 64 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa prinsip dasar era Guardiola masih cukup kuat.
Namun, struktur permainan Maresca memiliki perbedaan.
Saat menguasai bola, City terlihat menggunakan bentuk 3-2-2-3. Tiga bek menjadi fondasi awal serangan, sementara dua gelandang berada di depan mereka untuk membantu sirkulasi bola dan menjaga keseimbangan tim.
Rico Lewis juga beberapa kali terlihat masuk ke lini tengah dari posisi bek kanan. Pergerakan tersebut membantu City mengubah struktur empat bek menjadi bentuk yang lebih menyerupai tiga bek saat membangun serangan.
Salah satu perubahan yang paling menarik terlihat dari peran winger.
Maresca meminta pemain sayap tetap berada di posisi tinggi dan melebar. Tujuannya agar winger mendapatkan ruang untuk menghadapi bek lawan dalam situasi satu lawan satu.
Pendekatan tersebut terlihat dari permainan Antoine Semenyo selama pramusim. Ia beberapa kali mendapatkan bola di sisi lapangan dengan ruang yang cukup sebelum menusuk ke area kotak penalti.
Dari posisi tersebut, umpan tarik menjadi salah satu senjata City.
Baca Juga: Enzo Maresca Jadi Kunci Manchester City Mempertahankan Rodri dari Kejaran Barcelona
Pola serupa terlihat saat menghadapi Atletico Madrid. Semenyo mampu melewati bek lawan sebelum mengirim bola ke depan gawang yang kemudian diselesaikan Omar Marmoush.
Maresca juga tidak mengabaikan area tengah. Ketika lawan memberikan perhatian lebih kepada winger, ruang di tengah bisa terbuka untuk pemain seperti Phil Foden dan Rayan Cherki.
Josko Gvardiol juga mendapatkan peran berbeda. Bek kiri tersebut beberapa kali bergerak ke area tengah ketika City menguasai bola dan kemudian ikut masuk ke area serang.
Sementara ketika kehilangan bola, City masih menggunakan pressing tinggi dengan struktur yang cenderung zonal. Bentuk awalnya terlihat seperti 4-2-4.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian yang masih perlu diperbaiki. Dalam beberapa situasi pramusim, pemain City harus menutup ruang yang cukup besar sehingga pertahanan mereka sempat terbuka.
Namun, kondisi tersebut masih bisa berubah seiring meningkatnya pemahaman pemain terhadap sistem Maresca.
Pada akhirnya, Manchester City tidak sepenuhnya meninggalkan warisan Guardiola. Maresca tetap mempertahankan sejumlah prinsip yang sudah menjadi identitas klub.
Bedanya, ia mulai mengemasnya dengan pendekatan sendiri.
Musim baru nanti akan menjadi ujian sebenarnya bagi Maresca. Apakah kombinasi antara DNA Guardiola dan ide baru sang pelatih mampu membawa Manchester City kembali bersaing di level tertinggi?