← Beranda
Memori Manis Ernst Happel! Pelatih Asing Terakhir Timnas Belanda Sebelum Era Xavi Hernandez
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 13 Agustus 2026 | 15.55 WIB
Ernst Happel sempat menukangi Timnas Belanda 1978 yang kini diteruskan Xavi Hernandez sebagai pelatih asing. (Fotocollectie Anefo/Wiki Commons)

JawaPos.com — Xavi Hernandez resmi menjadi pelatih kepala Timnas Belanda hingga Piala Dunia 2030, meneruskan kembali jejak pelatih asing yang terakhir kali ditempati Ernst Happel pada 1978.

Pelatih asal Spanyol berusia 46 tahun itu menggantikan Ronald Koeman dan membawa filosofi sepak bola menyerang berbasis penguasaan bola yang punya keterkaitan kuat dengan tradisi sepak bola Belanda.

Baca Juga: Fakta Unik! Xavi Hernandez Jadi Pelatih Asing Pertama Timnas Belanda Sejak 1978

Ernst Happel dan Memori Belanda pada 1978

Nama Ernst Happel kembali menarik perhatian setelah Xavi Hernandez ditunjuk sebagai pelatih kepala Timnas Belanda.

Happel menjadi sosok penting dalam sejarah Oranje pada 1978, ketika pendekatan taktiknya membantu membentuk tim dengan pertahanan terorganisasi, kontrol tempo, disiplin, serta kemampuan memaksimalkan kualitas setiap pemain.

Happel dikenal sebagai pelatih yang sangat memperhatikan detail dan punya tuntutan tinggi kepada pemain. Metodenya mampu menggabungkan disiplin taktik dengan kreativitas alami skuad Belanda sehingga tim tampil sebagai unit yang kuat, bukan sekadar kumpulan pemain berbakat.

Skuad Belanda 1978 juga tetap lekat dengan filosofi Total Football yang mengedepankan pergerakan dinamis, pertukaran posisi, umpan cepat, dan pergerakan tanpa bola. 

Filosofi tersebut membuat setiap pemain dituntut memahami berbagai posisi sehingga lawan kesulitan membaca arah serangan mereka.

Ruud Krol hingga Rob Rensenbrink Jadi Andalan

Happel memiliki materi pemain berkualitas untuk menjalankan gagasan tersebut, salah satunya kapten Ruud Krol.

Bek tengah itu digambarkan sebagai pemimpin lini belakang yang tenang, kuat dalam bertahan, serta mampu mengorganisasi pertahanan sekaligus menempatkan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

Baca Juga: Revolusi Sepak Bola Belanda! Xavi Hernandez Ditunjuk Jadi Pelatih Kepala hingga 2030

Nama Johan Cruyff memang tidak masuk skuad Belanda pada Piala Dunia 1978 karena sudah pensiun dari sepak bola internasional, tetapi pengaruhnya terhadap gaya bermain Oranje tetap terasa.

Filosofi dan cetak biru permainan yang ikut dibentuk Cruyff masih hidup dalam cara tim Belanda bermain, termasuk lewat prinsip Total Football yang menjadi identitas mereka.

Di lini serang, Rob Rensenbrink menjadi salah satu pemain yang menonjol lewat kemampuan menggiring bola, kecepatan, serta ancaman mencetak gol.

Johnny Rep juga menjadi figur penting berkat kecepatan dan kemampuan penyelesaian akhir yang membuat lini depan Belanda tetap berbahaya dari berbagai situasi.

Gagal Juara, tetapi Warisan Belanda Tetap Abadi

Perjalanan Belanda pada Piala Dunia 1978 berakhir di partai final melawan tuan rumah Argentina. Oranje harus mengakui keunggulan Argentina dalam pertandingan yang berlangsung ketat, tetapi performa mereka tetap meninggalkan kesan kuat bagi penggemar sepak bola di berbagai penjuru dunia.

Kegagalan mengangkat trofi tidak menghapus warisan skuad tersebut. Tim Belanda 1978 dikenang karena keberanian memainkan sepak bola atraktif, kreativitas, kekompakan, dan pengaruh Total Football yang ikut mengubah cara orang memandang permainan modern.

Warisan itu juga menegaskan pentingnya peran pelatih dalam menggabungkan kualitas individu dengan strategi kolektif. Happel mampu membangun mental pemenang dan membuat pemain memahami peran masing-masing sehingga kekuatan tim menjadi lebih besar dibandingkan sekadar jumlah talenta di dalamnya.

Xavi Hernandez Hidupkan Lagi Era Pelatih Asing

Kini, hampir setengah abad setelah era Happel, Xavi Hernandez kembali membawa warna asing ke kursi pelatih Timnas Belanda. Xavi menandatangani kesepakatan dengan KNVB hingga Piala Dunia FIFA 2030 dan mengambil alih posisi yang sebelumnya ditempati Ronald Koeman.

Menariknya, Xavi memiliki hubungan kuat dengan tradisi sepak bola Belanda meski berasal dari Spanyol. Lulusan akademi FC Barcelona itu mengaku mendapat pengaruh besar dari Johan Cruyff dan Rinus Michels, sementara Louis van Gaal serta Frank Rijkaard juga disebut berperan dalam membentuk dirinya sebagai pemain dan pelatih.

Xavi menyebut dirinya seperti anak dari sepak bola Belanda karena pengaruh tersebut. Ia ingin membawa sepak bola menyerang berbasis penguasaan bola, kreativitas, semangat, dan keyakinan, sembari tetap menempatkan kemenangan sebagai tujuan utama Timnas Belanda.

Rekam Jejak Xavi Jadi Modal Besar

Xavi memulai karier kepelatihannya pada 2019 bersama Al-Sadd di Qatar setelah sebelumnya memperkuat klub tersebut sebagai pemain. Ia kemudian kembali ke FC Barcelona sebagai pelatih kepala pada November 2021 dan membawa klub meraih Piala Super Spanyol serta gelar Liga Spanyol musim 2022/2023.

Saat masih menjadi pemain, Xavi tampil lebih dari 750 pertandingan resmi untuk FC Barcelona dan memenangkan delapan gelar liga, empat Liga Champions UEFA, serta dua Piala Dunia Antarklub FIFA.

Bersama Spanyol, ia juga memenangkan Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 sehingga pengalaman juaranya menjadi modal penting untuk tantangan baru di Timnas Belanda.

Kini, Xavi menghadapi tugas untuk membangun generasi baru Oranje dengan filosofi yang memiliki akar kuat dalam sejarah sepak bola Belanda.

Jika Happel meninggalkan warisan lewat disiplin taktik dan Total Football pada 1978, Xavi datang dengan pengalaman Barcelona serta pengaruh Cruyff untuk membuka babak baru hingga Piala Dunia 2030.

EDITOR: Hendra