JawaPos.com - Besarnya pengeluaran Como memunculkan sorotan terkait aturan Financial Fair Play UEFA. Meskipun demikian, pihak manajemen mengaku tidak khawatir.
Presiden Como Mirwan Suwarso menegaskan, Como sangat memahami batasan finansial tersebut tanpa perlu diingatkan UEFA.
“Saya tidak membutuhkan UEFA untuk memberi tahu saya mengenai hal itu,” kata Suwarso dalam siniar Business of Sport.
Baca Juga: Erick Thohir Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden Prabowo atas Kepercayaan Transformasi Kemenpora
Suwarso mengaku, Como siap menghadapi konsekuensi jika klub dinilai melanggar ketentuan finansial yang berlaku.
“Jika Anda harus mendenda kami, silakan denda kami. Itu merupakan bagian dari rintangan yang harus kami lewati. Itu merupakan konsekuensi normal dari pekerjaan ini,” ujar Suwarso.
Como 1907 mencatatkan salah satu peningkatan paling spektakuler di sepak bola Italia. Hanya dalam waktu tujuh tahun, klub milik Grup Djarum itu bertransformasi dari tim Serie D hingga dipastikan tampil di Liga Champions untuk pertama kali.
Baca Juga: Para Legenda Liga Inggris Bakal Berduel di SUGBK, Catat Tanggal Pertandingannya!
Kesuksesan itu tidak lepas dari dukungan finansial besar keluarga Hartono untuk belanja pemain dan pembangunan infrastruktur klub.
Sejak kembali ke Serie A pada musim 2024/2025, Como telah menggelontorkan sekitar 342 juta euro (sekitar Rp 7 triliun) untuk pembelian pemain.
Dilansir dari media Italia La Gazzetta dello Sport, jumlah itu membuat mereka menjadi salah satu klub Italia dengan pengeluaran transfer terbesar dalam tiga tahun terakhir.
Hanya Juventus, AC Milan, dan Napoli yang menghabiskan lebih banyak dana dalam periode yang sama.
Pengeluaran itu belum mencakup gaji pemain, renovasi pusat latihan di Mozzate, serta proyek modernisasi Stadion Giuseppe Sinigaglia.
Pusat latihan itu sebelumnya dibeli melalui lelang pada 2021 dan kemudian direnovasi dengan biaya sekitar EUR 5 juta (sekitar Rp 103 miliar).
Baca Juga: Pesan Gledson: Trofi Sudah di Tangan, Standar Tinggi Persebaya Surabaya Tak Boleh Turun!
Sementara itu, Como harus menggarap proyek yang jauh lebih besar, yakni membenahi Stadion Sinigaglia agar lolos verifikasi UEFA sebagai kandang mereka di Liga Champions.
Presiden Como Mirwan Suwarso mengatakan biaya proyek itu diperkirakan mencapai EUR 64 juta (sekitar Rp 1,3 triliun).
Investasi besar Como mulai terlihat ketika mereka kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia pada musim 2024/2025. Saat itu, klub menghabiskan sekitar EUR 110 juta (sekitar 2,2 triliun) untuk memperkuat skuad.
Baca Juga: Gandeng Ultras Malang untuk Casual Wear, Ada Kontribusi dari Penjualan untuk Arema FC
Beberapa rekrutan termahal ialah Maxence Caqueret yang didatangkan dari Lyon dengan biaya EUR 15 juta (sekitar Rp 309 miliar), Tasos Douvikas dari Celta Vigo senilai EUR 14 juta (sekitar Rp 288 miliar), serta Assane Diao dari Real Betis dengan harga EUR 12 juta (sekitar Rp 247 miliar).
Como juga mendatangkan sejumlah pemain dengan biaya lebih kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari proyek klub.
Nico Paz direkrut dengan nilai EUR 6 juta (sekitar Rp 123 miliar) serta Marc-Oliver Kempf dan Mads Butez masing-masing didatangkan dengan biaya sekitar EUR 2,5 juta (sekitar Rp 51 miliar) dan EUR 2,1 juta (sekitar Rp 43 miliar).
Baca Juga: Arema FC Promosikan Doni Suherman ke Tim Senior, Ini Peran Pentingnya
Namun, tidak seluruh investasi memberikan hasil sesuai harapan. Alberto Dossena yang dibeli seharga EUR 9,5 juta (sekitar Rp 195 miliar), Yannik Engelhardt sebesar EUR 8 juta (sekitar Rp 164 miliar), Alieu Fadera senilai EUR 5 juta (sekitar Rp 103 miliar), dan Andrea Belotti seharga EUR 4 juta (sekitar Rp 8 miliar) belum mampu memberikan dampak sebesar yang diharapkan.
Pengeluaran besar pun berlanjut pada musim 2025/2026. Como kembali menghabiskan lebih dari EUR 100 juta (sekitar Rp 2 triliun) untuk transfer.
Jesus Rodriguez menjadi salah satu investasi terbesar setelah didatangkan dari Real Betis dengan nilai EUR 22,5 juta (sekitar Rp 463 miliar) ditambah bonus. Pemain itu kemudian memberikan kontribusi penting dengan mencetak dua gol dan menyumbangkan sembilan asis dalam 31 penampilan di Serie A.
Nasib berbeda dialami Nicolas-Gerrit Kuhn. Pemain asal Jerman itu didatangkan dari Celtic dengan biaya EUR 19 juta (sekitar Rp 391 miliar), tetapi belum mampu memberikan kontribusi signifikan.
Baca Juga: Jelang Lawan Bolivar, Bus Berlogo Sao Paulo Disita Polisi Bolivia karena Bawa 86 Kg Ganja
Kuhn bahkan berpeluang meninggalkan Como dalam beberapa pekan mendatang apabila terdapat tawaran yang sesuai.
Sementara itu, Martin Baturina membuktikan bahwa dana sebesar EUR 18 juta (sekitar Rp 370 miliar) yang dikeluarkan untuk memboyongnya dari Dinamo Zagreb tidak sia-sia. Gelandang tersebut langsung tampil mengesankan dan menjadi salah satu rekrutan paling kontributif.
Selain Baturina, Como juga menggelontorkan EUR 12 juta (sekitar Rp 247 miliar) untuk memboyong talenta muda Swedia, Patrik-Gabriel Lahdo, menjelang penutupan bursa transfer musim dingin.
Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Manchester United vs Leeds United: Noussair Mazraoui Siap Hadapi Derby Mawar
Investasi besar itu kemudian berbuah manis di lapangan. Como mengakhiri musim di posisi keempat Serie A dan memastikan tiket ke Liga Champions.
Pada bursa transfer musim panas 2026, Como bahkan telah melampaui jumlah belanja musim sebelumnya. Pengeluaran mereka sejauh ini mencapai sekitar EUR 127 juta (sekitar Rp 2,6 triliun).
Angka itu belum termasuk sejumlah potensi biaya tambahan.
Baca Juga: Opening Ceremony Super League 2026/2027 di Pulau Dewata, Bali United Vs PSS Sleman Jadi Menu Utama
Sebagai contoh, Como membayar biaya peminjaman EUR 2 juta (sekitar Rp 41 miliar) dengan opsi pembelian senilai EUR 20 juta (sekitar Rp 412 miliar) untuk Yan Couto dari Borussia Dortmund.
Como juga mengeluarkan EUR 30 juta (sekitar Rp 618 miliar) sebagai biaya tetap untuk Trevoh Chalobah dengan tambahan bonus yang dapat mencapai EUR 6 juta (sekitar Rp 123 miliar).
Namun, investasi terbesar Como tetap dipegang oleh Nico Paz. Sekitar satu setengah bulan lalu, Como mengeluarkan EUR 60 juta (sekitar Rp 1,2 triliun) untuk mempermanenkan kepemilikan pemain asal Argentina itu dari Real Madrid.
Kesepakatan itu juga memberi Real Madrid hak membeli kembali Paz pada 2027. Nilai itu menjadi tambahan dari EUR 6 juta (sekitar Rp 123 miliar) yang sebelumnya dibayarkan kepada Real Madrid pada musim panas 2024. Dengan demikian, Paz pun menjadi pemain termahal dalam sejarah Como.Baca Juga: Bongkar Rahasia Latihan Shin Tae-yong di TC Persija Thailand