← Beranda
Dukung Gianni Infantino, Donald Trump Kecam Rencana Pemakzulan Presiden FIFA
Aprillia JPSelasa, 11 Agustus 2026 | 22.57 WIB
Presiden Donald Trump bela Gianni Infantino dari tekanan pemakzulan. (@gianni_infantino/Instagram).

 

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah tekanan dari sejumlah konfederasi sepak bola terkait kontroversi rencana komersialisasi Piala Dunia. Trump memperingatkan federasi sepak bola agar tidak mengambil langkah untuk mengganti Infantino dari jabatannya.

Melalui unggahan di Truth Social pada Senin (10/8), Trump menilai FIFA akan melakukan kesalahan besar jika mempertimbangkan penggantian Infantino. Trump juga menyebut FIFA tidak akan mampu mencapai kesuksesan dan keuntungan yang sama tanpa kepemimpinan pria asal Swiss tersebut.

“FIFA akan membuat kesalahan besar jika, karena alasan apa pun, mereka bahkan mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino. Dia luar biasa, baru saja memimpin Piala Dunia paling sukses, empat kali lipat, yang pernah diselenggarakan. Jika dia pergi, Piala Dunia tidak akan pernah sesukses atau menguntungkan lagi!” tulis Trump.

Baca Juga: I.League Buka Suara Soal Sanksi FIFA ke Persib Bandung, Yakin Masalah Segera Beres

Pernyataan Trump muncul saat Infantino tengah diberondong kritikan tajam dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Sebelumnya, UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) telah menerbitkan surat terbuka kepada komunitas sepak bola dunia yang mempertanyakan kepemimpinan FIFA pada Senin (10/8) melalui situs resmi masing-masing.

"Sepak bola adalah gairah bersama terbesar di dunia. Sepak bola bukan milik individu atau institusi mana pun. Sepak bola adalah milik para pemain, penggemar, klub, asosiasi anggota, dan setiap institusi yang dipercaya untuk menjaga masa depannya," tulis surat tersebut. Ketiga konfederasi itu menilai proposal komersial Infantino yang gagal telah menjadi pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan yang diberikan kepada FIFA oleh institusi-institusi sepak bola dunia.

“Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah sebuah kepemilikan. Ini bukan tentang memegang atau menuntut kekuasaan untuk dipegang. Ini adalah kewajiban untuk melayani keluarga sepak bola yang mempercayakannya. Ketika kepercayaan dikhianati melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang mempercayakan wewenang kepadanya, maka tugas itu telah diabaikan,” lanjut pernyataan itu.

Baca Juga: Robert Rene Alberts Jadi Penyebab Persib Bandung Kembali Masuk FIFA Registration Ban

Sejalan dengan itu, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer) yang merupakan anggota Concacaf juga mengeluarkan pernyataan terpisah. US Soccer menyatakan dukungannya terhadap sikap Concacaf bersama Canada Soccer, Caribbean Football Union (CFU), dan Union Centroamericana de Futbol (UNCAF).

“US Soccer, Canada Soccer, CFU dan UNCAF berdiri bersama, bersama rekan-rekan kami di seluruh dunia, untuk menyerukan perubahan yang berarti yang memperkuat tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas FIFA,” tulis pernyataan itu dikutip dari X (dulu Twitter).

Kontroversi ini bermula dari proposal Infantino untuk membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang dirancang untuk menangani aspek komersial dan operasional turnamen-turnamen FIFA. Dalam rencana tersebut, FIFA mempertimbangkan untuk menjual sekitar 20 persen kepemilikan FFE kepada investor swasta. Namun, Infantino akhirnya meminta maaf atas keputusan tersebut.

UEFA, Concacaf, dan AFC menilai proses pengajuan proposal berlangsung terlalu cepat dan tanpa konsultasi yang memadai. Mereka juga mempertanyakan upaya untuk mendorong proposal tersebut menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota memiliki kesempatan yang cukup untuk mempelajari ketentuannya.

“Proposal yang diajukan dalam jadwal yang sangat singkat, tanpa konsultasi yang berarti, dan didorong menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota dapat meninjau ketentuannya dengan baik bukanlah hasil dari sebuah kelalaian. Itu merupakan hasil dari sebuah rancangan yang dimaksudkan untuk membatasi pengawasan,” tulis mereka.

Baca Juga: Infantino Dituding Rusak Kepercayaan, Tiga Konfederasi FIFA Mulai Bersatu Melawan

Mereka juga menilai persoalan tersebut bukan sekadar kesalahan prosedural. “Proposal tersebut pada dasarnya tidak mengakui bahwa rencana itu sendiri merupakan sesuatu yang keliru. Tidak ada pengakuan bahwa upaya menjual kepentingan dalam Piala Dunia FIFA merupakan kegagalan penilaian yang sangat serius, bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan dengan institusi yang justru menjadi alasan FIFA ada,” lanjut surat itu.

Infantino sendiri telah menjabat sebagai Presiden FIFA sejak terpilih pada 26 Februari 2016. Infantino kemudian mempertahankan posisinya dan saat ini menjalani periode kepemimpinan yang berlangsung hingga 2027. Infantino juga telah menyatakan keinginannya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan berikutnya. Jika terpilih, Infantino berpeluang memperpanjang masa kepemimpinannya hingga 2031.

EDITOR: Banu Adikara