JawaPos.com — Wasit asal Somalia Omar Artan mengaku sangat bangga dipercaya memimpin final Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa di Salzburg, Austria, Rabu.
Penunjukan ini menjadi momen penting setelah Artan melalui periode sulit karena dilarang masuk Amerika Serikat dan gagal memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Prediksi Skor PSG vs Aston Villa di Piala Super Eropa 2026: Les Parisiens Menang Mudah Lawan The Vil
Dari Piala Dunia 2026 ke Piala Super UEFA
Omar Artan, 34, sebelumnya terpilih sebagai satu dari 52 perangkat pertandingan yang disiapkan FIFA untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Namun, perjalanan Artan berubah ketika dirinya ditolak masuk Amerika Serikat setibanya di Bandara Internasional Miami pada 6 Juni.
Pemerintahan Donald Trump menyebut Artan memiliki “berhubungan dengan orang-orang yang diduga sebagai anggota organisasi teror,” sehingga ia tidak diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat.
Artan kemudian dikembalikan ke Istanbul, Turki, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Somalia.
Artan menyebut masa tersebut sangat berat, terutama karena dirinya sudah bekerja bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
FIFA tetap akan membayarkan penuh biaya turnamen yang semestinya diterima Artan, meski dirinya tidak bisa menjalankan tugas di Piala Dunia 2026.
Kegagalan tersebut terasa semakin berat karena Artan sudah masuk dalam daftar resmi 52 perangkat pertandingan untuk turnamen besar tersebut.
Kesempatan tampil di Piala Dunia menjadi salah satu pencapaian yang dinantikan seorang wasit, sehingga penolakan masuk Amerika Serikat membuat perjalanan Artan berubah secara mendadak.
Baca Juga: Liga Putri Indonesia Kick-off 17 Oktober 2026, Digelar Terpusat di Stadion Soemantri Brodjonegoro
Artan dapat panggung besar di Salzburg
Kegagalan tampil di Piala Dunia 2026 tidak membuat perjalanan Artan di level internasional berhenti.
UEFA kemudian menunjuknya untuk memimpin final Piala Super UEFA antara juara Liga Champions Paris Saint-Germain dan kampiun Liga Europa Aston Villa di Salzburg, Austria.
Penunjukan itu memiliki nilai sejarah tersendiri karena Artan akan menjadi wasit non-Eropa pertama yang memimpin pertandingan Piala Super UEFA.
UEFA bahkan menyebut wasit berusia 34 tahun itu sebagai “salah satu wasit terbaik dunia,” sebuah pengakuan besar setelah dirinya melewati situasi sulit beberapa waktu lalu.
Artan mengaku sangat berterima kasih atas dukungan yang datang dari berbagai penjuru dunia setelah dirinya ditolak masuk Amerika Serikat. Ia menilai dukungan tersebut membantu dirinya dan keluarga melewati periode yang sangat menantang.
“Itu adalah periode yang sangat sulit,” ujar Artan.
“Banyak orang bersimpati kepada saya, karena ketika seseorang telah bekerja bertahun-tahun dan seharusnya melakukan sesuatu, lalu tidak dapat melakukannya, itu sangat menantang.”
Kepercayaan UEFA menjadi bukti Artan masih mendapat tempat di panggung pertandingan elite meski gagal menjalankan tugas di Amerika Serikat.
Final Piala Super UEFA juga memberikan kesempatan bagi Artan untuk kembali menjadi pusat perhatian sebagai salah satu wasit internasional yang dipercaya memimpin laga bergengsi.
Baca Juga: JFA Selidiki 4 Wasit Jepang yang Diduga Terima Layanan Seksual di Korea Selatan
Dukungan keluarga dan komunitas Somalia
Artan tidak menutupi rasa bangganya karena kembali mendapatkan kepercayaan untuk memimpin pertandingan besar.
Ia mengingat perjalanan hidupnya yang tidak mudah, tetapi kondisi tersebut tidak menghentikannya mengejar impian sebagai wasit profesional.
“Saya beruntung, tetapi saya bekerja sangat keras untuk berada di sini dan saya sangat bangga,” kata Artan.
“Seperti yang bisa Anda bayangkan, saya tumbuh dalam situasi yang sulit, tetapi itu tidak menghentikan saya untuk mengejar impian saya.”
Kesempatan memimpin Piala Super UEFA turut menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga Artan.
Ia mengatakan komunitas Somalia yang tinggal di Eropa dan Austria ikut merasakan kegembiraan setelah mengetahui dirinya dipercaya memimpin pertandingan bergengsi tersebut.
“Saat kami menerima telepon ini, bagi saya dan keluarga, itu benar-benar momen yang sangat, sangat membahagiakan,” ucap Artan.
“Ada komunitas Somalia yang besar di Eropa dan di Austria, dan mereka sangat senang saya menjadi wasit dalam pertandingan seperti ini.”
Dukungan tersebut membuat penunjukan Artan memiliki makna lebih luas dari sekadar penugasan pertandingan.
Wasit asal Somalia itu kini membawa kebanggaan keluarga sekaligus komunitas Somalia yang berada di Eropa dan Austria saat memimpin duel antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa.
Artan tetap pertanyakan penolakan masuk AS
Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Artan mengatakan dirinya memiliki dokumen dan visa yang sesuai serta akreditasi FIFA sebagai perangkat pertandingan.
Pernyataan itu menjadi bagian penting dari kontroversi setelah dirinya ditolak masuk di Bandara Internasional Miami pada 6 Juni.
Ketika dimintai keterangan, seorang pejabat senior pemerintahan di Gedung Putih mengatakan Artan ditolak masuk dan menerima dokumen imigrasi yang mencantumkan dasar hukum untuk proses pemulangan cepat.
Pemerintah Presiden Donald Trump menegaskan mereka tidak akan mengizinkan ancaman keamanan masuk ke Amerika Serikat.
FIFA juga ikut menanggapi situasi tersebut melalui Presiden Gianni Infantino. Ia menyebut FIFA menghadapi tantangan yang tidak diinginkan dan tidak selalu memiliki kendali untuk menyelesaikan setiap persoalan yang muncul.
“Sangat disayangkan apa yang terjadi pada Omar, wasit dari Somalia.,” ujar Infantino. “Namun sekali lagi, kita tidak mengendalikan segalanya.”
Kini, Artan mendapat kesempatan membuktikan kualitasnya di panggung Eropa setelah batal tampil di Piala Dunia 2026.
Final Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa di Salzburg menjadi lebih dari sekadar pertandingan, tetapi juga kesempatan bagi wasit Somalia itu untuk mengubah pengalaman pahit menjadi momentum membanggakan.