JawaPos.com - Kursi kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino kembali diguncang kontroversi.
Presiden Federasi Sepak Bola Yordania Pangeran Ali bin Al Hussein melontarkan tuduhan serius berupa dugaan pemerasan atau blackmail terkait dukungan menjelang pemilihan Presiden FIFA.
Pernyataan tersebut memperpanjang daftar persoalan yang membayangi FIFA dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Poster Piye Kabare Sido Melu Liga Orak? Muncul di Sekretariat Persik Kendal
Sebelumnya, Infantino juga menuai penolakan luas setelah muncul rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia dan sejumlah turnamen FIFA kepada investor. Rencana itu dibatalkan setelah mendapat penolakan dari berbagai federasi sepak bola dunia.
Meski kebijakan tersebut telah dibatalkan, gelombang kritik terhadap Infantino belum juga mereda. Pangeran Ali bahkan menyampaikan pernyataan terbuka melalui akun media sosial X yang berisi sederet keluhan mengenai perlakuan FIFA terhadap Federasi Sepak Bola Yordania.
Menurut dia, Yordania menghadapi berbagai kendala saat tampil untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Mengapa Zlatan Absen di Pemakaman Legenda AC Milan Franco Baresi, Kisah Pilu yang Jarang Diketahui
Salah satu persoalan yang disorot adalah banyaknya pendukung Yordania yang gagal memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat meski telah membeli tiket pertandingan.
Selain itu, harga tiket yang dinilai terlalu tinggi juga menjadi sorotan. Situasi tersebut dianggap menyulitkan suporter yang ingin memberikan dukungan langsung kepada tim nasional mereka.
Tak berhenti di situ, Pangeran Ali juga mengungkapkan bahwa Yordania harus menanggung beban pajak akibat berkamp di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
Menurut dia, kondisi itu berbeda dengan negara peserta yang bermarkas di Kanada atau Meksiko sehingga tidak menghadapi beban serupa.
Dia menilai biaya tersebut seharusnya tidak mengurangi hak pemain maupun staf tim yang telah berjuang di ajang paling bergengsi tersebut.
Keluhan lainnya berkaitan dengan hadiah uang dari Piala Arab FIFA yang digelar di Qatar. Pangeran Ali mengklaim hingga kini hadiah yang menjadi hak tim Yordania usai menjadi finalis belum juga diterima.
Baca Juga: Resmi Berseragam Trabzonspor, Mohamed Salah Disambut Meriah Ribuan Fans saat Tiba di Turki
"FIFA selama ini sering menyampaikan memiliki cadangan dana yang sangat besar. Karena itu, keterlambatan pembayaran dinilai sulit dipahami," ucap Pangeran Ali.
Puncak tuduhan muncul ketika Pangeran Ali mengaku menerima pesan secara lisan saat Piala Dunia berlangsung.
Dia menyebut ada pihak yang menyampaikan bahwa berbagai persoalan Federasi Sepak Bola Yordania akan lebih mudah diselesaikan apabila dirinya bersedia memberikan dukungan kepada Gianni Infantino pada pemilihan Presiden FIFA mendatang.
Baca Juga: 6 Wonderkid La Masia Berpotensi Bersinar di Barcelona, Salah Satunya Anak Patrick Kluivert
Pernyataan itulah yang kemudian disebutnya sebagai bentuk pemerasan.
"Kami menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan tentu tidak akan mendukungnya sekarang. Kami menolak tunduk pada tekanan seperti itu," tegas Pangeran Ali.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Kontroversi ini muncul di tengah persiapan pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Baca Juga: Terbaru Adam Przybek! Berikut Deretan Mantan Pemain Asing Persib yang Pilih Main di Luar Negeri
Dukungan dari berbagai asosiasi anggota, termasuk federasi-federasi di Asia, diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pemungutan suara.
Namun, posisi Infantino disebut tidak lagi sekuat beberapa tahun terakhir.
Sejumlah federasi mulai menarik dukungan, sementara beberapa petinggi sepak bola Eropa dikabarkan tengah membahas langkah bersama sebagai bentuk protes terhadap arah kepemimpinan FIFA.
Bahkan, beredar laporan bahwa sejumlah anggota Dewan FIFA mempertimbangkan langkah untuk mengganti kepemimpinan sebelum pemilihan berlangsung.
Baca Juga: Pieter Huistra Bangun Kedalaman Skuad PSS Sleman, Waspadai Padatnya Kompetisi 2026/27
Di sisi lain, muncul pula wacana pembentukan kompetisi internasional tandingan yang digagas sejumlah konfederasi apabila ketegangan dengan FIFA terus berlanjut.
Jika konflik ini semakin meluas, bukan tidak mungkin pemilihan Presiden FIFA tahun depan akan menjadi salah satu yang paling panas dalam sejarah organisasi sepak bola dunia tersebut.