JawaPos.com - Timnas Argentina berpotensi menghadapi konsekuensi serius setelah berakhirnya Piala Dunia 2026.
Sejumlah pemain La Albiceleste kini terancam tidak bisa tampil pada Piala Dunia 2030 menyusul penyelidikan yang dilakukan FIFA terkait beberapa insiden kontroversial sepanjang turnamen.
Meski Argentina sudah dipastikan lolos otomatis sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol, Portugal, Maroko, dan Uruguay, hukuman larangan bertanding tetap bisa dijatuhkan kepada pemain yang terbukti melanggar aturan disiplin FIFA.
Penyelidikan tersebut berawal dari aksi beberapa pemain Argentina yang membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" seusai mengalahkan Inggris 2-1 pada babak semifinal Piala Dunia 2026.
Kalimat tersebut berarti "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina", merujuk pada wilayah yang masih menjadi sengketa antara Argentina dan Inggris.
Aksi tersebut memicu perhatian FIFA karena dinilai membawa isu politik ke dalam ajang olahraga internasional.
Berdasarkan Kode Disiplin FIFA, penggunaan pertandingan sepak bola sebagai sarana menyampaikan pesan di luar olahraga dapat dikenai sanksi.
Baca Juga: FIFA Masih Selidiki Spanduk Malvinas, Pejabat Gedung Putih Bela Tindakan Pemain Argentina
Kontroversi Argentina berlanjut pada partai final melawan Spanyol di Stadion MetLife. Dalam pertandingan tersebut, tim asuhan Lionel Scaloni harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor tipis 0-1.
Namun sorotan justru terjadi setelah pertandingan usai. Keributan pecah di lapangan yang melibatkan sejumlah pemain dari kedua tim.
Rekaman pertandingan memperlihatkan Leandro Paredes diduga mencekik bek Spanyol Eric Garcia. Sementara Nahuel Molina juga terlihat melakukan kontak fisik terhadap Rodri saat para pemain Spanyol merayakan keberhasilan menjadi juara dunia.
Atas kejadian tersebut, FIFA langsung membuka proses disipliner terhadap Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) beserta beberapa pemain dan ofisial yang dianggap terlibat.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut penyelidikan mencakup dugaan pelanggaran mengenai penggunaan ajang olahraga untuk kepentingan nonolahraga, pelanggaran disiplin tim, dugaan tindakan diskriminatif, hingga gangguan terhadap ketertiban dan keamanan pertandingan.
Selain itu, FIFA juga menyelidiki berbagai insiden lain selama perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026, termasuk dugaan nyanyian diskriminatif, keterlambatan kick-off, pelanggaran protokol pertandingan, hingga pelemparan benda oleh penonton.
Secara khusus, Nahuel Molina menghadapi tuduhan penyerangan dan perilaku tidak sportif. Leandro Paredes juga diperiksa atas beberapa dugaan tindakan penyerangan terhadap pemain lawan.
Gelandang Thiago Almada serta asisten pelatih Roberto Ayala ikut masuk dalam daftar pihak yang diperiksa oleh Komite Disiplin FIFA.
Di sisi lain, pemain Spanyol Pablo Martin Paez Gavira atau Gavi juga tidak luput dari penyelidikan.
Gelandang Barcelona tersebut diduga melakukan tindakan tidak sportif dalam kericuhan seusai pertandingan.
Karena Argentina tidak perlu mengikuti babak kualifikasi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030, pertandingan resmi FIFA berikutnya baru akan berlangsung saat turnamen tersebut dimulai.
Situasi itu membuat kemungkinan hukuman larangan bertanding baru akan dijalankan pada laga pembuka Piala Dunia 2030 apabila FIFA memutuskan menjatuhkan sanksi kepada pemain yang bersalah.
Ini bukan kali pertama Argentina tersandung kasus serupa. Pada 2014, FIFA pernah menjatuhkan denda kepada Federasi Sepak Bola Argentina setelah para pemain membentangkan spanduk bertuliskan pesan yang sama menjelang laga uji coba melawan Slovenia.
Hingga kini, FIFA masih mengumpulkan bukti dan memeriksa seluruh pihak yang terlibat sebelum mengumumkan keputusan akhir.
Jika terbukti melanggar aturan, beberapa pemain Argentina berpotensi kehilangan kesempatan tampil di panggung sepak bola terbesar dunia pada 2030.