JawaPos.com - Rencana FIFA membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial Piala Dunia masih menjadi sorotan dunia sepak bola.
Setelah menuai kritik dari berbagai pihak, Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya memberikan penjelasan terkait proposal yang belakangan memicu perdebatan di kalangan federasi sepak bola internasional.
Infantino menyampaikan klarifikasinya melalui video yang diunggah FIFA pada Rabu (29/7) waktu setempat.
Berbeda dengan konferensi pers pada umumnya, kali ini ia tidak membuka sesi tanya jawab dengan media dan memilih menyampaikan penjelasan secara langsung melalui rekaman video.
Baca Juga: Rencana Komersialisasi Piala Dunia Tuai Protes, Suporter Kritisi Kepemimpinan Infantino
Dalam keterangannya, Infantino menegaskan bahwa pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) masih berupa usulan. Menurutnya, proposal tersebut bukan keputusan yang wajib diterima seluruh anggota FIFA, melainkan hanya bagian dari proses konsultasi.
Ia menjelaskan bahwa FFE akan menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan FIFA apabila memperoleh persetujuan mayoritas dari 211 asosiasi anggota serta Dewan FIFA.
Perusahaan tersebut nantinya akan mengelola seluruh aktivitas komersial FIFA, mulai dari hak siar, sponsor, lisensi, hingga berbagai peluang bisnis baru yang berkaitan dengan kompetisi internasional.
Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Siapkan Hadiah Fantastis, Juara Divisi 1 Kantongi USD1 Juta
Infantino menilai langkah tersebut dapat membuka potensi pendapatan yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Dana tambahan itu, kata dia, nantinya akan dikembalikan kepada federasi-federasi anggota melalui program pengembangan sepak bola.
Menurut Infantino, setiap asosiasi anggota FIFA berpotensi menerima pendanaan hingga 20 juta dolar Amerika Serikat pada siklus pendanaan berikutnya.
Bahkan melalui program FIFA Fast Forward, jumlah bantuan yang diterima bisa meningkat hingga mencapai 40 juta dolar AS untuk masing-masing federasi.
Ia menyebut proposal tersebut sebagai kesempatan besar untuk mempercepat perkembangan sepak bola, baik di level putra, putri, maupun kelompok usia muda.
Meski demikian, Infantino kembali menegaskan bahwa seluruh keputusan tetap berada di tangan anggota FIFA melalui mekanisme pemungutan suara.
Penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan polemik. Sejumlah federasi dan konfederasi, termasuk UEFA, masih mempertanyakan urgensi pembentukan perusahaan baru yang membuka peluang masuknya investor eksternal ke dalam pengelolaan aset komersial FIFA.
Kritik juga muncul karena proses pembahasan proposal dinilai berlangsung sangat cepat. Bahkan beberapa pejabat tinggi FIFA disebut tidak mengetahui secara rinci isi rencana tersebut sebelum diumumkan kepada publik.
Menanggapi kekhawatiran itu, Infantino memastikan bahwa FIFA tidak akan kehilangan kendali atas penyelenggaraan sepak bola dunia.
Ia menegaskan seluruh kompetisi utama, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Wanita, akan tetap berada di bawah pengelolaan FIFA tanpa campur tangan pihak luar.
Dalam surat yang dikirim kepada seluruh anggota FIFA, Infantino juga menyebut proposal ini bertujuan menciptakan sumber pendapatan baru agar lebih banyak negara berkembang memperoleh dukungan finansial untuk membangun sepak bola mereka.
Ia menilai sistem baru tersebut dapat membantu negara-negara yang selama ini memiliki keterbatasan dana agar mampu bersaing di level internasional.
Di sisi lain, laporan yang beredar menyebut salah satu calon investor dalam proyek tersebut adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang dipimpin Joshua Kushner.
Kabar itu semakin memicu perhatian publik karena Joshua merupakan saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
UEFA sendiri tetap menunjukkan sikap kritis terhadap proposal FIFA tersebut. Konfederasi sepak bola Eropa itu menilai tenggat waktu persetujuan hingga 19 September terlalu singkat untuk sebuah keputusan yang berpotensi mengubah arah pengelolaan sepak bola dunia.
Kini, nasib proposal FIFA Forward Enterprise sepenuhnya bergantung pada hasil konsultasi dan pemungutan suara yang akan dilakukan oleh 211 asosiasi anggota FIFA.
Jika mayoritas memberikan lampu hijau, proyek yang diklaim mampu meningkatkan pendapatan sepak bola global itu akan mulai direalisasikan.
Namun jika ditolak, FIFA harus mencari alternatif lain untuk meningkatkan pemasukan tanpa mengubah struktur komersial kompetisi paling bergengsi di dunia tersebut.