← Beranda
Rencana Komersialisasi Piala Dunia Tuai Protes, Suporter Kritisi Kepemimpinan Infantino
Andre Rizal Hanafi• Kamis, 30 Juli 2026 | 12.31 WIB
gianni infantino (x @themadridzone)

 

JawaPos.com - Rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, membuka peluang investasi swasta pada hak komersial Piala Dunia memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan.

Tidak hanya organisasi sepak bola, reaksi keras juga datang dari para suporter yang menilai kebijakan tersebut berpotensi mengubah wajah turnamen paling bergengsi di dunia menjadi sekadar aset bisnis.

Perdebatan mencuat setelah muncul wacana pembentukan skema investasi melalui perusahaan afiliasi FIFA.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup 2026 Siapkan Hadiah Fantastis, Juara Divisi 1 Kantongi USD1 Juta

Lewat skema itu, investor disebut dapat memiliki sebagian hak ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia. Meski belum menjadi keputusan final, usulan tersebut langsung menjadi bahan diskusi di berbagai platform media sosial.

Banyak suporter mempertanyakan arah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino.

Mereka menilai organisasi sepak bola dunia itu semakin mengedepankan aspek komersial dibanding menjaga nilai dan tradisi yang selama puluhan tahun melekat pada Piala Dunia.

Baca Juga: FA Kecam Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia: Sangat Mengkhawatirkan!

Komentar bernada sindiran pun bermunculan. Sebagian penggemar bahkan menyebut mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Padahal, Blatter pernah tersandung kasus korupsi yang membuatnya dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama beberapa tahun.

Munculnya kembali nama Blatter menunjukkan besarnya kekecewaan sebagian suporter terhadap arah kebijakan FIFA.

Di media sosial, banyak yang menilai sepak bola seharusnya tetap menjadi milik publik dan tidak diperlakukan layaknya aset investasi yang bisa diperjualbelikan.

Polemik semakin berkembang setelah beredar kabar bahwa asosiasi anggota FIFA berpotensi memperoleh dana sekitar 30 juta poundsterling apabila mendukung proposal tersebut.

Informasi itu memunculkan pertanyaan mengenai transparansi proses pengambilan keputusan di tubuh FIFA, meski hingga kini belum ada keputusan resmi yang mengesahkan rencana tersebut.

Blatter sendiri ikut memberikan tanggapan. Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, ia menegaskan bahwa tidak ada pihak yang memiliki hak untuk menjual sepak bola.

Baca Juga: Zidane Belum Putuskan Apakah Mbappe Tetap Jadi Kapten Timnas Prancis

Pernyataan itu kemudian ramai dibahas dan memicu berbagai respons dari para pendukung sepak bola di seluruh dunia.

Kritik juga datang dari mantan pemain Manchester United, Gary Neville. Menurutnya, sepak bola memang berkembang menjadi industri dengan nilai ekonomi yang besar.

Namun, perkembangan bisnis seharusnya tetap diimbangi dengan tata kelola organisasi yang baik serta kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan olahraga.

Selain Neville, sejumlah organisasi sepak bola turut menyampaikan keberatan. UEFA menjadi salah satu pihak yang secara terbuka menolak gagasan tersebut.

Organisasi sepak bola Eropa itu menilai nilai, integritas, dan tata kelola sepak bola tidak semestinya menjadi komoditas yang diperjualbelikan kepada investor.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga menyampaikan kekhawatiran terkait minimnya transparansi dalam proses penyusunan proposal.

Menurut mereka, keputusan yang menyangkut masa depan Piala Dunia harus dibahas secara terbuka dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Di sisi lain, proposal tersebut masih membutuhkan persetujuan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA beserta Dewan FIFA sebelum dapat diterapkan.

Artinya, wacana itu masih memiliki proses yang panjang sebelum benar-benar menjadi kebijakan resmi.

Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, polemik ini kembali memunculkan perdebatan mengenai arah masa depan sepak bola dunia.

Banyak pihak berharap FIFA tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan nilai-nilai olahraga yang telah menjadikan Piala Dunia sebagai ajang paling bergengsi di planet ini.

EDITOR: Banu Adikara