JawaPos.com - Klub Serie A Como 1907 menghadapi kendala besar meski baru saja mencatatkan sejarah dengan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya musim depan. Kepastian itu diraih setelah mereka menang telak 4-1 atas Cremonese pada Senin (25/5).
Pencapaian itu merupakan penutup musim yang luar biasa bagi tim yang baru promosi dari divisi kedua Liga Italia pada 2024. Di bawah arahan pelatih Cesc Fabregas, Como menjelma menjadi salah satu kejutan terbesar musim ini. Namun, muncul tantangan serius terkait kelayakan stadion mereka untuk gelaran laga tingkat Eropa.
Stadion Giuseppe Sinigaglia yang terletak di tepi Danau Como dinilai belum memenuhi standar UEFA untuk menggelar pertandingan kompetisi Eropa. Stadion yang dibuka pada 1927 itu memang telah direnovasi untuk memenuhi standar Serie A, tetapi inspeksi UEFA pada April 2026 mengungkap sejumlah kekurangan.
Baca Juga: Strategi Besar Djarum di Como 1907: Dari Klub Bola Menuju Ekosistem Bisnis Global
Dilansir dari The Mirror, salah satu masalah utama stadion yang disebut sebagai stadion paling indah di dunia itu ialah keberadaan tribun sementara berbasis struktur perancah (scaffolding) yang ditempati kelompok ultras. Regulasi UEFA secara tegas melarang penggunaan struktur sementara semacam itu dan mengharuskan tribun dibangun secara permanen dengan fondasi penopang yang kokoh.
Selain itu, lapangan juga harus diperlebar dari 66 meter menjadi 68 meter sesuai standar UEFA. Tak hanya itu, klub diwajibkan menyediakan jarak aman sejauh dua meter antara garis lapangan dan papan iklan di sekelilingnya.
Terkait hal itu, presiden klub Mirwan Suwarso masih optimis bahwa perbaikan stadion dapat diselesaikan tepat waktu. Suwarso bahkan telah mendapatkan dukungan dari pemerintah kota untuk membangun struktur permanen pada musim panas ini. Namun, proyek itu juga harus mempertimbangkan kekhawatiran warga setempat terkait peningkatan lalu lintas dan dampak infrastruktur jika Como tampil di kompetisi Eropa.
Baca Juga: Como Tak Tutup Pintu untuk Indonesia, Mirwan Suwarso Ungkap Ada 11 WNI di Dalam Klub
Jika renovasi tidak rampung sebelum musim dimulai, Como terpaksa harus mencari stadion alternatif. Beberapa opsi yang mencuat, yaitu Stadion Mapei milik Sassuolo yang berjarak sekitar 240 kilometer dari Como dan Stadion Bluenergy milik Udinese. Sementara itu, San Siro tidak memungkinkan digunakan karena potensi benturan jadwal dengan AC Milan dan Inter Milan.
Di sisi lain, tantangan lain juga datang dari regulasi standar skuad UEFA. Como harus memenuhi kuota pemain, termasuk empat pemain binaan akademi dan empat pemain yang berkembang di Italia. Hal itu menjadi kendala tersendiri mengingat akademi Como baru berjalan selama tiga tahun terakhir.
Dalam wawancaranya bersama La Gazzetta dello Sport, Mirwan Suwarso mengungkapkan bahwa sejak awal musim target klub hanyalah finis di peringkat tujuh atau delapan. Namun, performa impresif sebelum Natal membuat manajemen menyadari potensi untuk melangkah lebih jauh hingga akhirnya mencapai zona Liga Champions.
“Liga Champions datang tiga tahun lebih cepat dari rencana kami. Sekarang kami harus mempercepat proses pertumbuhan tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan,” ujar Suwarso.
Dalam hal perekrutan pemain, Como akan tetap selektif dan mencari pemain yang sesuai dengan sistem permainan Fabregas. Meski mengakui bahwa mendatangkan pemain Italia tidak selalu mudah, klub tetap berupaya memenuhi regulasi UEFA secara bertahap.
Peran Fabregas sendiri dinilai sangat krusial dalam perkembangan klub. Selain ditunjuk sebagai pelatih sejak 2024, mantan gelandang timnas Spanyol itu juga memiliki saham di klub dan dianggap sebagai sosok sentral dalam membangun identitas permainan Como. “Cesc adalah sosok fundamental bagi kami, seperti CEO dalam sebuah perusahaan. Ia memimpin visi sepak bola klub,” kata Suwarso.
Baca Juga: Kenapa Como Belum Rekrut Pemain Indonesia? Mirwan Suwarso Ungkap Kendalanya
Dengan progres pesat yang ditunjukkan, Fabregas bahkan mulai dikaitkan dengan sejumlah klub besar, termasuk potensi masa depan di Liga Inggris. Selanjutnya, Como menargetkan untuk mencapai kondisi finansial yang berkelanjutan dalam dua tahun ke depan, bahkan berharap dapat menghasilkan keuntungan.
Klub juga dikabarkan ingin mengembangkan sumber pendapatan di luar sepak bola serta mengandalkan pemain dari akademi pada 2028. “Ide kami adalah menghasilkan keuntungan dalam dua tahun atau setidaknya menjadi berkelanjutan. Kami akan mencapainya dengan meningkatkan aktivitas di luar lapangan, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pasar transfer. Pada titik itu, sekitar 2028, kami berharap bisa mengandalkan pemain dari akademi kami,” jelas Suwarso.