← Beranda
UEFA Conference League Tuai Kritik, Ajang Klub Kecil Kini Dikuasai Tim dari Liga Elite
Andre Rizal HanafiJumat, 29 Mei 2026 | 04.00 WIB
UEFA Conference League dikuasai klub elite Eropa. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kompetisi kasta ketiga antarklub Eropa, UEFA Conference League, kembali menjadi bahan perdebatan di media sosial. Sejumlah netizen di platform X menilai turnamen tersebut mulai melenceng dari tujuan awal pembentukannya.

Saat pertama kali diperkenalkan UEFA pada musim 2021/22, Conference League disebut hadir untuk memberi ruang lebih besar kepada klub-klub dari liga kecil Eropa agar bisa bersaing di level kontinental. Namun dalam praktiknya, kompetisi ini justru banyak dikuasai klub dari liga-liga elite Eropa.

Daftar juara dalam lima musim terakhir menjadi sorotan utama. Mulai dari AS Roma pada musim perdana, lalu West Ham United, Olympiacos, Chelsea, hingga terbaru Crystal Palace musim 2025/26.

Baca Juga: Anthony Gordon Masuk Daftar Transfer Pemain Inggris Termahal usai Gabung Barcelona

Mayoritas juara berasal dari liga dengan kekuatan finansial dan kualitas kompetisi yang jauh lebih tinggi dibanding negara-negara kecil Eropa lainnya.

Fenomena itu membuat sebagian pendukung sepak bola menilai Conference League berubah menjadi ajang persaingan klub papan tengah dari liga top Eropa. Klub-klub yang finis di posisi ketujuh hingga kesembilan liga domestik kini dianggap memiliki peluang besar mendominasi kompetisi tersebut.

Di sisi lain, perbandingan mulai diarahkan ke Asia melalui AFC Challenge League. Kompetisi kasta ketiga Asia itu justru dinilai lebih sesuai dengan tujuan awal pembentukannya, yakni memberi kesempatan bagi klub dari negara berkembang sepak bola untuk meraih gelar internasional.

Baca Juga: Joan Laporta Buka Suara Soal Transfer Anthony Gordon ke Barcelona

Dua edisi awal AFC Challenge League dimenangkan FK Arkadag dari Turkmenistan dan Kuwait SC dari Kuwait. Tidak ada dominasi klub dari negara kuat Asia seperti Jepang, Korea Selatan, atau Arab Saudi karena klub-klub elite kawasan tersebut bermain di level kompetisi yang lebih tinggi.

Netizen bahkan berpendapat bahwa jika klub-klub dari Liga Jepang atau Saudi ikut serta di AFC Challenge League, persaingan akan menjadi timpang dan juara bisa diprediksi sejak awal turnamen dimulai.

Meski begitu, tidak sedikit pula yang menilai dominasi klub besar di Conference League merupakan sesuatu yang wajar. Faktor kualitas skuad, pengalaman Eropa, hingga kekuatan finansial memang membuat klub dari liga elite lebih unggul dibanding wakil negara kecil.

Terlepas dari perdebatan tersebut, Conference League tetap memberi warna baru dalam persaingan sepak bola Eropa. Kompetisi ini juga membuka peluang bagi klub yang jarang tampil di Liga Champions maupun Liga Europa untuk tetap merasakan atmosfer turnamen antarklub Eropa.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah