JawaPos.com - Ambisi Grup Djarum di Como 1907 ternyata jauh lebih besar dibanding sekadar membangun klub sepak bola kompetitif di Italia.
Di bawah kepemimpinan Presiden klub, Mirwan Suwarso, Como mulai diarahkan menjadi sebuah ekosistem bisnis dan lifestyle yang memiliki daya tarik global.
Strategi ini dinilai cukup masuk akal jika melihat kondisi geografis dan populasi kota Como sendiri. Kota yang berada di kawasan utara Italia tersebut hanya dihuni sekitar 80 ribu penduduk.
Artinya, Como 1907 tidak bisa sepenuhnya bergantung pada basis suporter lokal jika ingin berkembang menjadi klub besar dengan pendapatan stabil.
Baca Juga: Como Tak Tutup Pintu untuk Indonesia, Mirwan Suwarso Ungkap Ada 11 WNI di Dalam Klub
Karena itu, Djarum memilih pendekatan berbeda. Mereka mencoba membawa Como 1907 masuk ke ranah lifestyle dan pariwisata, bukan hanya sepak bola.
Dalam beberapa kesempatan, Mirwan Suwarso menjelaskan bahwa Como memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata dunia.
Selama ini, kota tersebut memang identik dengan Danau Como yang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata premium di Italia.Kini, Como 1907 ingin ikut menjadi bagian dari identitas kota tersebut.
Baca Juga: Kenapa Como Belum Rekrut Pemain Indonesia? Mirwan Suwarso Ungkap Kendalanya
Klub mulai membangun citra modern lewat kolaborasi fashion, retail, hingga pengalaman pertandingan yang lebih eksklusif.
Tujuannya jelas, agar wisatawan yang datang ke Como tidak hanya menikmati panorama danau, tetapi juga menjadikan sepak bola sebagai bagian dari pengalaman wisata mereka.
Pendekatan seperti ini sebenarnya mulai banyak diterapkan klub-klub Eropa modern. Sepak bola tidak lagi hanya dipandang sebagai pertandingan di lapangan, melainkan juga produk hiburan dan gaya hidup.
Perkembangan kota Como yang terus meningkat juga dianggap mendukung arah bisnis tersebut. Masuknya berbagai brand hospitality premium seperti The Ritz-Carlton menjadi salah satu indikator bahwa kawasan Como semakin dilirik pasar kelas atas dunia.
Djarum melihat momentum itu sebagai peluang besar untuk menaikkan valuasi dan daya tarik klub dalam jangka panjang.
Lebih dari Sektor Lifestyle
Namun, proyek yang sedang dibangun ternyata tidak berhenti di sektor lifestyle saja. Como 1907 juga tengah mengembangkan sistem ticketing milik mereka sendiri.
Sistem ini awalnya dibuat untuk kebutuhan internal klub, tetapi ke depan ditargetkan berkembang menjadi produk bisnis tersendiri yang bisa digunakan klub lain.
Ambisinya cukup besar. Dalam dua musim mendatang, sistem tersebut ditargetkan sudah dipakai hingga 30 klub.
Jika berhasil, langkah ini akan membuat Como tidak hanya mendapatkan pemasukan dari sepak bola, tetapi juga dari sektor teknologi dan layanan digital olahraga.
Model bisnis seperti ini memang mulai banyak dipakai klub modern di Eropa. Klub tidak hanya mencari pemasukan dari tiket dan hak siar, tetapi juga membangun lini usaha baru yang tetap berkaitan dengan industri olahraga.
Karena itu, proyek Djarum di Como 1907 kini mulai terlihat sebagai investasi jangka panjang yang serius.
Mereka tidak hanya membangun tim untuk bersaing di lapangan, tetapi juga sedang membentuk fondasi bisnis yang bisa bertahan dan berkembang dalam waktu lama.
Dengan arah seperti ini, Como 1907 tampaknya memang dipersiapkan menjadi lebih dari sekadar klub sepak bola biasa.