← Beranda
Kenapa Como Belum Rekrut Pemain Indonesia? Mirwan Suwarso Ungkap Kendalanya
Andre Rizal HanafiRabu, 27 Mei 2026 | 23.11 WIB
Mirwan Suwarso. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Nama Como 1907 dan Mirwan Suwarso beberapa kali menjadi bahan perdebatan di kalangan pecinta sepak bola Indonesia.

Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa Como belum benar-benar memberi ruang bagi pemain Indonesia untuk berkembang di Eropa, khususnya di Serie A Italia.

Namun di balik kritik tersebut, ternyata ada regulasi ketat yang membuat situasinya tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.

Mirwan Suwarso menjelaskan bahwa Serie A memiliki aturan khusus terkait pemain non-Uni Eropa (non-EU).

Baca Juga: Diungkap Jurnalis Italia, Bintang Persib Bandung Federico Barba Dibidik 2 Klub Yunani

Aturan ini membatasi jumlah pemain non-EU yang dapat didaftarkan klub setiap musim, termasuk dalam proses pengembangan pemain muda.

Dalam penjelasannya, Mirwan memberi contoh sederhana. Jika Como merekrut pemain Indonesia berusia 16 tahun, maka satu slot non-EU otomatis terpakai.

Padahal slot tersebut biasanya digunakan untuk pemain dari Brasil, Argentina, Uruguay, atau Afrika yang sudah punya pengalaman dan kualitas untuk langsung bersaing di level tertinggi Liga Italia. Situasi itu membuat klub harus berpikir sangat realistis.

Baca Juga: Jonatan Christie Ungkap Penyebab Kalah dari Prannoy HS di Babak Pertama Singapore Open 2026

Sebagai klub yang sedang membangun kekuatan dan reputasi di Serie A, Como tentu membutuhkan pemain yang bisa langsung memberi dampak di lapangan.

Mengorbankan satu slot non-EU untuk pemain muda yang masih membutuhkan waktu berkembang jelas menjadi keputusan besar.

Karena itulah, hingga saat ini Como belum mengambil langkah merekrut pemain muda Indonesia secara langsung ke dalam skuad kompetitif mereka.

Meski begitu, Mirwan menegaskan bahwa bukan berarti Como menutup pintu bagi talenta Indonesia. Menurutnya, kontribusi terhadap sepak bola Indonesia tetap dilakukan, hanya jalurnya berbeda.

Alih-alih fokus pada pemain, Como justru membuka banyak kesempatan untuk pelatih, analis, dan tenaga profesional asal Indonesia agar bisa belajar langsung dalam lingkungan sepak bola Eropa.

Mirwan menyebut sudah ada beberapa orang Indonesia yang bekerja di dalam struktur klub. Salah satunya adalah analis asal Bandung yang kini menjadi bagian tim analisis Como.

Baca Juga: Dunia, Siap-siap Dengar Nama Indonesia Sering Disebut Komentator Eropa! Perjalanan Fantastis Como 1907

Selain itu, legenda sepak bola Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto juga pernah menjadi asisten pelatih di klub tersebut.

Tak hanya di sektor teknis, sejumlah anak muda Indonesia juga terlibat di tim media sosial dan produksi konten klub.

Totalnya disebut mencapai sekitar 11 orang Indonesia yang saat ini bekerja di lingkungan Como.

Langkah ini menunjukkan bahwa Grup Djarum dan manajemen Como tetap berusaha membuka jalan bagi sumber daya manusia Indonesia untuk berkembang di sepak bola Eropa. Hanya saja, peluang tersebut lebih banyak hadir di balik layar dibanding langsung di lapangan.

Baca Juga: Persebaya Surabaya Tutup Musim dengan Pesta Gol, Bernardo Tavares Bangga Enam Clean Sheet Beruntun

Dalam beberapa tahun terakhir, kritik terhadap Grup Djarum memang cukup sering muncul, terutama terkait minimnya pemain Indonesia yang mendapat kesempatan di Como. Namun jika melihat regulasi Serie A secara lebih detail, situasinya memang cukup rumit.

Aturan non-EU di Italia dikenal lebih ketat dibanding beberapa liga Eropa lain. Klub harus benar-benar selektif dalam menggunakan slot yang tersedia karena berkaitan langsung dengan kebutuhan kompetitif tim utama.

Hal itu berbeda dengan negara seperti Belgia atau Belanda yang relatif lebih fleksibel dalam proses perekrutan pemain muda asing.

Karena itu, keputusan Como bukan semata soal ada atau tidaknya niat membantu sepak bola Indonesia. Ada faktor regulasi dan kebutuhan klub yang harus dipertimbangkan secara profesional.

Di sisi lain, langkah menghadirkan staf dan analis Indonesia ke dalam sistem klub Eropa juga bisa menjadi investasi penting bagi perkembangan sepak bola nasional dalam jangka panjang.

Baca Juga: Jan Olde Riekerink Angkat Bicara! Alex Martins Dijamin Gacor Bersama Persebaya Surabaya

Pengalaman kerja di lingkungan Serie A tentu dapat menjadi bekal berharga ketika mereka kembali dan berkontribusi di Indonesia.

Jadi, sebelum menilai Como atau Grup Djarum tidak memiliki komitmen terhadap sepak bola Indonesia, ada baiknya memahami dulu aturan dan realitas yang mereka hadapi di Italia.

Karena dalam sepak bola modern, niat baik saja sering kali belum cukup tanpa dukungan regulasi yang memungkinkan.

EDITOR: Banu Adikara