← Beranda
Performa Jose Mourinho Setelah Hengkang dari Real Madrid
M Shofyan Dwi KurniawanJumat, 15 Mei 2026 | 00.06 WIB
Jose Mourinho dirumorkan Kembali ke Real Madrid. (Istimewa)
 
 

 

JawaPos.com - Jose Mourinho disebut semakin dekat untuk kembali menangani Real Madrid. Kabar terbaru menyebut pelatih asal Portugal itu sedang berada dalam tahap pembicaraan lanjutan untuk kembali ke Santiago Bernabeu setelah lebih dari satu dekade berpisah.

Meski belum ada pernyataan resmi dari Mourinho maupun Florentino Perez, sejumlah laporan menyebut pria berusia 63 tahun itu siap menolak perpanjangan kontrak di Benfica demi memulai periode keduanya bersama Los Blancos. Jika benar terjadi, ini akan menjadi comeback yang cukup mengejutkan.

Mourinho pertama kali melatih Real Madrid pada periode 2010 hingga 2013. Masa kepemimpinannya penuh drama, konflik, sekaligus pencapaian besar. Ia mempersembahkan satu gelar La Liga, satu Copa del Rey, dan mencatatkan musim legendaris 2011–12 dengan raihan 100 poin.

Baca Juga: Presiden Real Madrid Florentino Perez Puji Jose Mourinho, Sinyal Gabung di Musim Depan?

Namun, di balik kesuksesan itu, Mourinho juga dikenal karena berbagai perselisihan dengan media, pemain, hingga tokoh internal klub. Ia akhirnya meninggalkan Madrid pada 2013 setelah musim tanpa trofi yang bahkan ia sebut sebagai musim terburuk dalam kariernya.

Lalu bagaimana perjalanan Mourinho setelah meninggalkan Bernabeu? Melansir Sports Illustrated, berikut performa Mourinho setelah pindah dari Real Madrid.

Chelsea: Gelar Liga Terakhir Mourinho

Mourinho kembali ke Chelsea pada musim panas 2013 dengan membawa narasi emosional soal klub yang “mencintainya”. Namun periode keduanya di Stamford Bridge tidak semulus era pertamanya.

Musim debutnya berjalan cukup kompetitif meski Chelsea gagal juara. Salah satu momen paling ikonik datang ketika The Blues mengalahkan Liverpool 2-0 di Anfield, laga yang terkenal karena insiden terpelesetnya Steven Gerrard.

Baca Juga: Carlo Ancelotti Dukung Jose Mourinho Kembali ke Real Madrid

Semusim kemudian, Mourinho berhasil membawa Chelsea menjuarai Premier League 2014–15 sekaligus memenangkan Piala Liga. Itu menjadi gelar liga terakhir Mourinho hingga saat ini.

Namun musim berikutnya berubah menjadi bencana. Chelsea tampil buruk sejak awal musim dan Mourinho dipecat sebelum Natal setelah tim kalah sembilan kali dari 16 pertandingan liga.

Persentase kemenangan: 58,8%
Prestasi: Premier League 2014–15, Piala Liga 2014–15

Manchester United: Trofi Ada, Tapi Dominasi Tak Pernah Datang

Pada 2016, Mourinho mengambil alih Manchester United dengan harapan mengembalikan kejayaan klub pasca era Sir Alex Ferguson.

Musim pertamanya menghasilkan tiga trofi: Community Shield, Piala Liga, dan Liga Europa. Namun performa United di Premier League masih jauh dari kata meyakinkan karena hanya finis di posisi keenam.

Musim terbaik Mourinho di Old Trafford datang pada 2017–18 ketika United menjadi runner-up Premier League di bawah Manchester City. Mourinho bahkan menyebut pencapaian itu sebagai “salah satu pekerjaan terbaik dalam karier saya.”

Baca Juga: Terungkap Kesepakatan yang Diajukan Jose Mourinho Sebelum Bergabung Kembali dengan Real Madrid

Meski begitu, hubungan dengan pemain dan atmosfer ruang ganti perlahan memburuk. Awal musim 2018–19 yang kacau membuat Mourinho akhirnya dipecat menjelang Natal.

Persentase kemenangan: 58,3%
Prestasi: Liga Europa 2016–17, Piala Liga 2016–17, Community Shield 2016–17

Tottenham: Proyek yang Tidak Pernah Benar-Benar Hidup

Kurang dari setahun kemudian, Mourinho kembali ke Premier League bersama Tottenham Hotspur. Ia datang dengan misi sederhana: mengakhiri puasa trofi Spurs. Namun proyek tersebut tidak pernah benar-benar berjalan stabil.

Tottenham sempat tampil menjanjikan pada awal musim 2020–21, termasuk kemenangan 6-1 atas Manchester United. Tetapi performa mereka kemudian anjlok drastis.

Baca Juga: Iker Casillas Soroti Performa Real Madrid Musim Ini, Tolak Jose Mourinho

Ironisnya, Mourinho dipecat hanya beberapa hari sebelum final Piala Liga melawan Manchester City.

Persentase kemenangan: 51,2%
Prestasi: Tidak ada

Roma: Kembali Menang di Eropa

Pada 2021, Mourinho kembali ke Italia bersama AS Roma dan langsung membawa harapan besar bagi publik Olimpico.

Meski performa liga biasa saja, Mourinho sukses mempersembahkan trofi UEFA Conference League pada musim 2021–22. Itu menjadi trofi pertama Roma dalam 11 tahun sekaligus menjadikan Mourinho pelatih pertama yang memenangkan Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League.

Baca Juga: Prediksi Skor Real Madrid vs Real Oviedo: Ada Pro-Kontra Mourinho, Florentino Perez Menolak Mundur

Musim berikutnya, Roma kembali mencapai final Eropa di Liga Europa tetapi kalah dari Sevilla lewat adu penalti. Kekalahan itu menjadi final Eropa pertama yang gagal dimenangkan Mourinho.

Periode di Roma tetap dipenuhi drama, termasuk insiden konfrontasi Mourinho dengan wasit Anthony Taylor setelah final Liga Europa.

Persentase kemenangan: 49,3%
Prestasi: UEFA Conference League 2021–22

Fenerbahce: Penuh Kontroversi

Karier Mourinho di Turki bersama Fenerbahce mungkin menjadi salah satu periode paling emosional sekaligus kontroversial dalam hidupnya.

Ia beberapa kali berselisih dengan wasit, pejabat liga, hingga rival-rival lokal. Salah satu momen paling heboh terjadi ketika Mourinho mendapat larangan mendampingi tiga pertandingan karena mencengkeram hidung pelatih Galatasaray, Okan Buruk.

Baca Juga: Mantan Kapten Real Madrid Iker Casillas Tak Setuju dengan Kembalinya Jose Mourinho ke Bernabeu

Di tengah semua kontroversi itu, Fenerbahce tetap gagal mengejar Galatasaray dalam perebutan gelar liga dan Mourinho akhirnya dipecat pada awal musim 2025–26.

Persentase kemenangan: 59,7%
Prestasi: Tidak ada

Benfica: Belum Stabil, Tapi Mulai Bangkit

Tak lama setelah meninggalkan Fenerbahce, Mourinho menerima tawaran Benfica dan kembali ke klub yang pernah ia latih secara singkat 25 tahun lalu.

Musim pertamanya di Portugal sejauh ini cukup menarik. Benfica tampil kompetitif dan bahkan sempat mengalahkan Real Madrid 4-2 di Liga Champions.

Namun, perjalanan Mourinho di Benfica juga kembali diwarnai kontroversi. Salah satu yang paling ramai adalah komentarnya terkait Vinicius Jr dan tuduhan pelecehan rasial dalam pertandingan Liga Champions.

Baca Juga: Jose Mourinho Ajukan Dua Syarat Sebelum Gabung Real Madrid

Mourinho berkata: “Ketika Anda mencetak gol seperti itu, Anda merayakannya dengan cara yang terhormat. Soal kata-kata yang mereka ucapkan, Prestianni dengan Vinícius, saya ingin bersikap independen. Saya tidak berkomentar tentang itu.”

“Ketika dia berdebat tentang rasisme, saya mengatakan kepadanya bahwa orang terbesar dalam sejarah klub ini adalah orang kulit hitam [Eusebio]. Klub ini, sama sekali bukan klub rasis, jadi jika dalam pikirannya itu ada hubungannya dengan itu, ini Benfica. Ada sesuatu yang salah karena hal itu terjadi di setiap stadion. Di setiap stadion tempat Vinicius bermain, selalu ada sesuatu yang terjadi. Selalu.”

Mourinho Kini Bukan Lagi Sosok yang Sama

Karier Mourinho setelah meninggalkan Real Madrid memang tidak sepenuhnya runtuh. Ia masih memenangkan trofi, tetap kompetitif, dan terus menjadi salah satu sosok paling menarik dalam sepak bola dunia.

Namun sulit dipungkiri bahwa aura dominasi yang dulu membuatnya ditakuti perlahan memudar. Konflik ruang ganti, kontroversi media, hingga performa tim yang tidak stabil menjadi bagian besar dari perjalanan kariernya dalam satu dekade terakhir.

Meski begitu, justru pengalaman itulah yang mungkin membuat Real Madrid tertarik membawanya kembali.

Madrid saat ini disebut membutuhkan sosok kuat yang mampu mengendalikan ruang ganti dan mengembalikan disiplin taktis. Dan terlepas dari segala kontroversinya, Mourinho masih dianggap sebagai salah satu pelatih dengan karakter paling kuat di dunia sepak bola.

EDITOR: Edi Yulianto