JawaPos.com - Hasil imbang Liverpool melawan Chelsea di Anfield ternyata menyisakan banyak sorotan, terutama terhadap performa lini belakang The Reds. Salah satu pemain yang paling banyak mendapat kritik adalah Ibrahima Konate.
Mantan bek Liverpool, Stephen Warnock, secara terbuka menilai Konate tampil ragu-ragu sepanjang pertandingan dan dianggap menjadi salah satu alasan mengapa Chelsea mampu mengontrol permainan.
Liverpool sebenarnya memulai laga dengan cukup baik di bawah asuhan Arne Slot. Ryan Gravenberch bahkan sempat membawa tuan rumah unggul lebih dulu. Namun setelah itu, ritme permainan perlahan berubah.
Baca Juga: Trent Alexander-Arnold Berpeluang Kembali ke Liga Inggris
Chelsea mulai mendominasi penguasaan bola, mengontrol lini tengah, dan memaksa Liverpool bertahan semakin dalam di area sendiri. Situasi itulah yang membuat hubungan antara Konate dan Virgil van Dijk menjadi sorotan.
Melansir Anfield Index, menurut Warnock, lini pertahanan Liverpool terlihat kehilangan agresivitas yang selama ini menjadi identitas mereka.
“Tidak ada tekanan pada bola, tidak ada intensitas, mereka tampak kehilangan arah dalam sistem saat Chelsea menyerang. Chelsea mendominasi penguasaan bola,” ujar Warnock.
“Para pemain Chelsea saat ini menguasai Anfield. Dari sudut pandang Liverpool, lini pertahanan mereka sangat dalam.”
Ia kemudian secara khusus menyoroti performa Konate.
“Konate selalu terjatuh; dia sangat takut dengan bola yang berada di belakangnya. Dia dan Van Dijk terus-menerus berdebat tentang keberanian dalam menjaga garis pertahanan, dan Konate tidak cukup kuat untuk melakukannya.”
Komentar tersebut langsung menjadi bahan perbincangan karena menggambarkan adanya ketidaksinkronan antara dua bek tengah Liverpool.
Baca Juga: Roberto De Zerbi Akui Tottenham Hotspur Pantas Menang Usai Ditahan Imbang Leeds United
Chelsea Kuasai Permainan Lewat Tengah
Masalah utama Liverpool dalam laga itu sebenarnya bukan hanya soal bertahan di kotak penalti, tetapi bagaimana mereka gagal mengontrol ruang di lini tengah.
Chelsea berulang kali berhasil memainkan bola di area tengah tanpa tekanan berarti. Akibatnya, lini belakang Liverpool terus dipaksa mundur dan jarak antar lini menjadi semakin renggang.
Konate disebut terlihat terlalu berhati-hati menghadapi ancaman bola panjang di belakang pertahanan. Sementara Van Dijk lebih memilih mempertahankan garis pertahanan tinggi seperti biasanya.
Perbedaan pendekatan itu membuat struktur pertahanan Liverpool tampak tidak stabil sepanjang pertandingan.
Baca Juga: Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
Arne Slot Akui Timnya Terlalu Dalam
Usai laga, Arne Slot juga mengakui bahwa Liverpool memang terlalu banyak bertahan di area sendiri, meski itu bukan rencana awal tim.
“Tentu saja bukan maksud kami untuk mundur,” kata Slot.
“Kami ingin terus bermain, tetapi kami bermain melawan tim yang semakin nyaman menguasai bola.”
“Mereka tidak memiliki pemain sayap yang tersedia, jadi mereka memiliki banyak gelandang, sehingga mereka mengontrol lini tengah dan mulai bermain dan mengoper bola melalui kami semakin sering.”
Penjelasan Slot memperlihatkan bahwa dominasi Chelsea di lini tengah memang menjadi sumber utama masalah Liverpool malam itu.
Van Dijk Dinilai Frustrasi
Sepanjang pertandingan, Van Dijk beberapa kali terlihat berbicara cukup emosional kepada Konate. Situasi itu dinilai muncul karena sang kapten merasa struktur pertahanan tim kehilangan keberanian.
Van Dijk selama bertahun-tahun menjadi pemimpin lini belakang Liverpool yang terkenal agresif dan kompak. Sedikit keraguan dari satu pemain saja bisa berdampak besar terhadap keseluruhan sistem.
Meski begitu, kritik terhadap Konate bukan berarti kualitasnya diragukan sepenuhnya.
Bek asal Prancis tersebut tetap dianggap sebagai salah satu pemain bertahan paling dominan secara fisik di skuad Liverpool. Namun laga melawan Chelsea memperlihatkan betapa tingginya tuntutan dalam sistem permainan Liverpool.
Liverpool Dapat Peringatan Jelang Akhir Musim
Penampilan melawan Chelsea dianggap sebagai alarm penting bagi Liverpool menjelang laga-laga penentu di akhir musim.
Tim lawan berhasil menunjukkan bahwa ketika tekanan lini depan melemah, pertahanan Liverpool bisa kehilangan stabilitas dengan cepat.
Bagi Arne Slot, tugas terbesarnya sekarang adalah mengembalikan agresivitas dan kekompakan tim sebelum tekanan di penghujung musim semakin besar.