JawaPos.com–Musim Real Madrid terus bergerak dari buruk menjadi semakin kacau. Dalam sepekan terakhir saja, Los Blancos dihantam serangkaian konflik internal yang memperlihatkan retaknya hubungan di dalam ruang ganti.
Setelah perselisihan antara Antonio Rudiger dan Alvaro Carreras mencuri perhatian publik, situasi makin memanas ketika Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde terlibat perkelahian dalam sesi latihan pada Kamis (7/5).
Insiden tersebut bahkan membuat Valverde harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami cedera di bagian kepala. Kejadian itu disebut menjadi titik puncak dari ketegangan yang sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir di dalam skuad Madrid.
Baca Juga: Prediksi Napoli vs Bologna: Statistik Kandang Partenopei Jadi Ancaman Besar Rossoblu
Kini, perhatian mulai mengarah kepada sosok kapten tim, Dani Carvajal.
Kepemimpinan Carvajal Mulai Dipertanyakan
Melansir Football Espana, sejumlah pemain mulai mempertanyakan kemampuan kepemimpinan Carvajal di tengah kondisi ruang ganti yang semakin sulit dikendalikan.
Bek senior asal Spanyol itu disebut gagal meredam berbagai konflik internal yang muncul belakangan ini. Situasi tersebut diperparah dengan performa Madrid yang terus menurun dalam laga-laga besar musim ini.
Baca Juga: Liverpool vs Chelsea Live Streaming Premier League 2026, Jadwal dan Jam Tayang Lengkap
Bahkan, pelatih kepala Alvaro Arbeloa kabarnya mulai meminggirkan Carvajal dalam beberapa pekan terakhir, yang semakin memunculkan spekulasi mengenai perannya di dalam tim. Kondisi ini membuat sebagian pemain mulai mendorong perubahan besar dalam sistem pemilihan kapten klub.
Pemain Ingin Sistem Lebih Demokratis
Selama bertahun-tahun, Real Madrid menggunakan sistem senioritas untuk menentukan kapten tim. Artinya, ban kapten diberikan kepada pemain yang paling lama berada di klub.
Carvajal mengambil alih posisi tersebut dari Luka Modric musim panas lalu. Jika sistem ini terus dipertahankan, Federico Valverde diperkirakan akan menjadi kapten berikutnya ketika Carvajal hengkang pada akhir musim nanti. Namun, beberapa pemain kini ingin perubahan dilakukan.
Mereka disebut menginginkan sistem yang lebih demokratis, mirip dengan model yang digunakan Barcelona. Di klub rival tersebut, kapten dipilih melalui kombinasi voting pemain dan faktor senioritas.
Model seperti itu dinilai lebih mencerminkan sosok yang benar-benar dihormati dan dipercaya oleh ruang ganti, bukan sekadar pemain yang paling lama bertahan di klub. Serangkaian konflik internal musim ini membuat banyak pihak merasa bahwa Real Madrid membutuhkan pembenahan total, bukan hanya soal taktik atau pergantian pelatih.
Budaya ruang ganti kini menjadi sorotan utama. Perubahan sistem kapten dianggap bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki situasi.
Baca Juga: Jadwal Liga Inggris Pekan Ini: Duel Liverpool vs Chelsea dan Penentuan Nasib Manchester City
Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan Florentino Perez dan jajaran direksi klub. Mereka harus menentukan apakah tradisi lama Real Madrid masih layak dipertahankan atau justru sudah waktunya memasuki era baru dengan pendekatan yang lebih modern.
Yang jelas, krisis di Bernabeu kini tidak lagi sekadar soal hasil pertandingan. Masalah kepemimpinan dan keharmonisan skuad mulai menjadi ancaman nyata bagi masa depan klub.