← Beranda
Kisah di Balik Perpisahan Real Madrid dan Jose Mourinho: Konflik Internal Jadi Titik Balik
M Shofyan Dwi KurniawanKamis, 30 April 2026 | 22.21 WIB
Pelatih Benfica Jose Mourinho. (Instagram/@slbenfica)

 

JawaPos.com - Kalau cuma lihat angka, era Jose Mourinho di Real Madrid sebenarnya terbilang sukses. Tiga musim, dua trofi besar, rekor kemenangan tinggi, bahkan sempat “menjatuhkan” dominasi Barcelona dengan musim 100 poin di La Liga.

Tapi, seperti drama klasik sepak bola: angka bagus tak selalu berarti hubungan juga sehat. 

Melansir Sports Illustrated, di balik itu semua, ada konflik, ego besar, dan ruang ganti yang perlahan retak.

Semifinal Liga Champions Jadi Titik Akhir

Tanggal 30 April 2013 bisa dibilang jadi momen simbolis berakhirnya era Mourinho di Madrid. Saat itu, mereka tersingkir di semifinal Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Baca Juga: Real Madrid Ingin CLBK! Setelah Incar Mourinho, Los Blancos Siap Tarik Kembali Toni Kroos

Saat itu, mereka takluk di tangan Borussia Dortmund. Meski menang 2-0 di leg kedua, kekalahan telak di leg pertama bikin semuanya terlambat.

Buat pelatih dengan reputasi “raja Eropa”, gagal membawa La Decima jelas jadi pukulan besar. Dan lebih dari itu, hubungan Mourinho dengan klub memang sudah di ujung tanduk.

Awal Manis, Akhirnya Panas

Di musim pertama, Mourinho sukses membawa Real Madrid juara Copa del Rey. Bahkan di musim keduanya, Real Madrid juara La Liga dengan 100 poin. Kelihatannya ideal. Tapi di balik layar, tensi mulai naik.

Baca Juga: Rumor Mourinho ke Real Madrid Bikin Benfica Bergerak, Marco Silva Jadi Kandidat Utama

Gaya Mourinho yang konfrontatif bikin suasana jadi panas, baik dengan media, lawan, bahkan internal klub sendiri. Rivalitas dengan Barcelona juga berubah jadi lebih dari sekadar pertandingan, ini sudah masuk wilayah personal.

Insiden perkelahian dengan Tito Vilanova di Piala Super Spanyol 2011 jadi salah satu simbol betapa panasnya situasi saat itu.

Konflik dengan Pemain Kunci

Nah, ini bagian yang paling sering dibahas: hubungan Mourinho dengan para bintang Madrid.

Dengan Karim Benzema, Mourinho pernah melontarkan kritik tajam.

"Jika Anda berburu dengan anjing, Anda akan menangkap lebih banyak daripada jika Anda berburu dengan kucing."

Baca Juga: Kabar Kembalinya Mourinho ke Real Madrid Dinilai Berisiko, Masa Lalunya Jadi Sorotan!

Komentar itu jelas menyindir performa Benzema yang saat itu dianggap belum konsisten.

Sementara dengan Cristiano Ronaldo, hubungan mereka juga nggak sepenuhnya mulus. Mourinho sempat berkata.

"Mungkin dia berpikir bahwa dia tahu segalanya dan bahwa pelatih tidak dapat lagi meningkatkan kemampuannya."

Kalimat yang cukup “berani” mengingat Ronaldo adalah pemain utama tim. Di akhir masa jabatan Mourinho, bahkan ada momen di mana Ronaldo terlihat meneriakkan "f**** you" ke arah sang pelatih saat selebrasi gol, sebuah gambaran jelas retaknya hubungan mereka.

Ruang Ganti Terbelah

Masalah Mourinho nggak berhenti di dua nama itu saja. Sergio Ramos sempat menunjukkan dukungan ke Mesut Ozil dengan cara unik yakni memakai jersey Özil di balik seragamnya.

Baca Juga: Drama Kursi Pelatih Real Madrid: Klopp Minta Keleluasaan Waktu, Syaratnya Bikin Dilema Besar di Bernabeu!

Sementara Iker Casillas, ikon klub, justru dicadangkan oleh Mourinho, keputusan yang memicu kontroversi besar.

Dari luar, ini terlihat seperti pelatih yang mencoba mengontrol segalanya. Dari dalam, ini terasa seperti ruang ganti yang mulai terpecah.

Musim Terakhir yang Berantakan

Musim 2012–13 jadi klimaks dari semuanya. Madrid gagal bersaing di La Liga, tertinggal jauh dari Barcelona, dan kembali gagal di Eropa.

Puncaknya terjadi di final Copa del Rey, saat Madrid kalah dari Atletico. Mourinho dan Ronaldo sama-sama mendapat kartu merah dalam laga itu, seolah jadi simbol betapa kacaunya situasi saat itu. Setelah laga, Mourinho bahkan menyebut.

"Ini adalah musim terburuk dalam hidup saya."

Dua hari kemudian, keputusan resmi keluar: berpisah.

Mourinho tetap dikenang sebagai pelatih hebat di Madrid. Tapi kisahnya juga jadi pengingat: di klub sebesar itu, bukan cuma hasil yang penting melainkan man management juga sama krusialnya.

EDITOR: Edi Yulianto