JawaPos.com - Frustrasi terhadap Liam Rosenior ternyata bukan cuma milik fans Chelsea. Dari dalam tim sendiri, sinyal ketidakpuasan sudah lebih dulu muncul dan itu jadi salah satu faktor yang mempercepat akhir karier sang pelatih di Stamford Bridge.
Rosenior harus menyaksikan Chelsea menelan kekalahan kelima secara beruntun di Premier League saat bertandang ke Brighton.
Hasil ini bukan cuma buruk, tapi juga terasa “menyakitkan” dari segi performa. Bahkan, skor akhir disebut-sebut masih “ramah”, karena The Blues sebenarnya bisa kalah dengan margin lebih besar.
Kurang dari 24 jam setelah laga itu, keputusan tegas pun diambil: Rosenior resmi dipecat. Masa jabatannya? Hanya tiga bulan.
Baca Juga: Gary Neville Kritik Manajemen Chelsea Usai Pemecatan Liam Rosenior
Rotasi Aneh, Pemain Mulai Kehilangan Kesabaran
Melansir The Chelsea Chronicle, salah satu sumber masalah ada pada cara Rosenior mengelola pemain. Nama Josh Acheampong jadi contoh paling mencolok. Pemain yang sebelumnya mendapat kepercayaan tinggi, justru minim menit bermain di era Rosenior.
Dalam laga penting melawan PSG, ketika Reece James dan Malo Gusto absen, Rosenior malah memilih Mamadou Sarr di sisi kanan. Keputusan ini cukup mengundang tanda tanya, apalagi Acheampong tersedia.
Situasi ini bukan kasus tunggal. Beberapa pemain lain juga mengalami hal serupa, yang pada akhirnya memicu rasa tidak puas di dalam skuad.
Baca Juga: Tumbangkan Celta Vigo, Pedri Sebut Barcelona Menang dengan Susah Payah
Jurnalis Nizaar Kinsella dan Sami Mokbel menulis, “Keputusan untuk merotasi penjaga gawang dan membatasi menit bermain untuk pemain tertentu, termasuk Josh Acheampong, yang sering tampil sebentar dari bangku cadangan, telah menimbulkan ketidakpuasan.”
“Mungkin yang paling mengkhawatirkan adalah suasana di dalam kelompok kepemimpinan. Sebuah sumber di dalam Chelsea mengatakan para pemain senior seringkali diam ketika diminta untuk memberikan pandangan mereka selama pertemuan tim yang hampir setiap hari,” tulis mereka.
Kalau pemain senior saja memilih diam, itu biasanya tanda ada yang tidak beres di ruang ganti.
Interim Masuk, Chelsea Fokus Selamatkan Musim
Dengan Rosenior sudah out, Chelsea kini menunjuk kembali Calum McFarlane sebagai manajer interim. Ia bukan sosok baru, karena sebelumnya sempat memimpin tim dalam periode singkat.
Tugasnya jelas: menstabilkan situasi secepat mungkin. Apalagi semifinal Piala FA sudah di depan mata, kompetisi yang bisa jadi penyelamat musim Chelsea.
Kemungkinan besar, McFarlane akan bertahan sampai akhir musim sambil manajemen berburu pelatih permanen baru.
Baca Juga: Prediksi Persita Tangerang vs Bali United: Duel Dua Tim Terluka, Tuan Rumah Ingin Akhiri Tren Buruk!
Harga Mahal dari Keputusan Cepat
Namun, ada konsekuensi besar dari keputusan ini. Chelsea harus membayar kompensasi sekitar £24 juta kepada Rosenior. Angka yang tidak kecil, mengingat ia baru saja menandatangani kontrak jangka panjang.
Ini jadi contoh klasik: keputusan cepat di awal musim, lalu berujung mahal ketika hasil tidak sesuai ekspektasi.
Baca Juga: Prediksi PSM Makassar vs Persik Kediri: Pertaruhan Besar Dua Tim yang Belum Aman dari Degradasi
Jadi, Siapa yang Salah?
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah semua ini murni kesalahan Rosenior?
Jawabannya tidak hitam-putih. Ada yang menilai manajemen klub juga punya peran dalam situasi ini. Tapi di sisi lain, sebagai pelatih, Rosenior dinilai gagal memaksimalkan skuad yang ada.
Yang paling jelas, ia kehilangan kendali atas ruang ganti. Dan dalam sepak bola modern, itu sering jadi titik akhir bagi seorang manajer.
Chelsea sekarang harus bergerak cepat. Karena kalau tidak, musim yang sudah goyah ini bisa benar-benar berantakan.