JawaPos.com — Superclasico Paraguay yang seharusnya jadi pesta sepak bola justru berubah jadi mimpi buruk. Bentrokan suporter pecah di tribun hingga memaksa laga dihentikan, mengingatkan kembali pada luka lama Tragedi Kanjuruhan di Indonesia.
Pertandingan panas antara Club Olimpia dan Cerro Porteno berakhir kacau di Estadio Defensores del Chaco, Minggu malam. Laga bahkan tak sampai setengah jam sebelum akhirnya dihentikan akibat situasi yang tak terkendali.
Wasit Juan Gabriel Benitez mengambil keputusan tegas menghentikan pertandingan saat menit ke-29. Kerusuhan di salah satu tribun memicu ratusan suporter masuk ke lapangan, menciptakan kekacauan besar di dalam stadion.
Baca Juga: Persis Solo Tantang Arema FC di Kanjuruhan, Milomir Seslija Optimistis Lanjutkan Tren Positif
Situasi semakin memburuk ketika aparat kepolisian merespons dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata.
Kepanikan tak terhindarkan, para penonton berlarian mencari perlindungan di tengah kondisi yang semakin mencekam.
Rekaman siaran televisi memperlihatkan momen dramatis saat suporter berhamburan ke lapangan. Beberapa keluarga terlihat berusaha melindungi diri di tengah situasi yang berubah menjadi sangat berbahaya.
Pihak kepolisian menyebut kericuhan sebenarnya sudah mulai sejak sebelum pertandingan dimulai. Pendukung Cerro Porteño yang datang terlambat disebut mencoba masuk tanpa tiket, memicu gesekan di luar stadion.
Komandan Kepolisian Nasional Cesar Silguero mengungkapkan dampak dari insiden tersebut. Sebanyak 11 petugas polisi mengalami luka-luka dan 31 suporter diamankan dengan berbagai tuduhan.
Pernyataan tegas juga datang dari Presiden Cerro Porteño, Blas Reguera. Ia menyebut insiden ini sebagai malam yang menyedihkan bagi sepak bola Paraguay.
“Ini malam yang menyedihkan bagi sepak bola Paraguay,” ujarnya dikutip dari ESPN, Selasa (22/4/2026).
Ia juga menegaskan pihak klub mengutuk segala bentuk kekerasan dan meminta investigasi menyeluruh terhadap sistem keamanan.
“Kami mengutuk semua tindakan kekerasan, dan setelah apa yang terjadi, kami ingin menyelidiki masalah ini hingga tuntas dan mencari tahu apa yang salah dengan keamanan. Kita harus memberantas insiden semacam ini secara permanen,” lanjutnya.
Baca Juga: Jelang Derbi Jatim, Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya Terancam Pindah dari Kanjuruhan
Di tengah kritik yang bermunculan, aparat keamanan tetap membela langkah yang diambil. Direktur operasi taktis Francisco Ávalos menyebut tindakan petugas sudah sesuai prosedur.
Ia menegaskan aparat bertindak secara defensif, bukan represif. Namun penggunaan gas air mata di dalam stadion tetap memicu perdebatan luas di kalangan pecinta sepak bola dunia.
Insiden ini sontak mengingatkan publik Indonesia pada Tragedi Kanjuruhan yang menelan banyak korban jiwa. Luka lama itu seperti kembali terbuka ketika melihat pola kejadian yang serupa terjadi di negara lain.
Salah satu akun fanbase suporter Indonesia, Indo Awaydays, turut menyoroti kejadian tersebut. Mereka menilai dunia sepak bola belum benar-benar belajar dari tragedi yang pernah terjadi.
“Dari Asunción sampai Malang, ceritanya sama: tribun berubah jadi medan chaos,” tulis @indo.awaydays, Selasa (21/4/2026). Pernyataan itu langsung mendapat respons luas dari warganet yang ikut prihatin.
“Laga Cerro Porteño vs Club Olimpia dihentikan karena bentrok dan gas air mata. Kita pernah melihat akhir yang jauh lebih tragis dari tragedi ini,” lanjut unggahan tersebut.
Mereka juga menegaskan pesan penting yang seharusnya jadi pelajaran bersama.
“Pelajarannya jelas: stadion bukan tempat untuk kekerasan, dan pengendalian massa yang salah bisa berubah jadi bencana. Sepakbola seharusnya menyatukan, bukan merenggut nyawa.”
Peristiwa di Paraguay menjadi alarm keras bagi dunia sepak bola internasional. Pengelolaan keamanan pertandingan kembali dipertanyakan, terutama dalam menangani situasi darurat di tengah ribuan penonton.
Sepak bola sejatinya hadir sebagai hiburan dan pemersatu. Namun ketika kekerasan terus berulang, esensi olahraga ini justru terkikis oleh kelalaian dan emosi yang tak terkendali.
Jika tak ada evaluasi serius, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terjadi. Dunia sepak bola kini dihadapkan pada pilihan: belajar dari masa lalu atau terus mengulang kesalahan yang sama.