JawaPos.com - Klub yang semula tak diperhitungkan itu sukses menjuarai Premier League musim 2015/2016 dan menciptakan salah satu momen paling ikonik dalam sejarah olahraga.
Namun kini, satu dekade setelah kejayaan tersebut, arah perjalanan mereka justru berbalik drastis.
Alih-alih bertahan sebagai kekuatan kompetitif di papan atas, Leicester kini menghadapi kenyataan pahit.
Mereka terancam terdegradasi ke League One, kasta ketiga dalam sistem liga sepak bola Inggris. Situasi ini menjadi ironi besar jika mengingat bagaimana klub tersebut pernah berdiri di puncak kejayaan.
Perjalanan menurun Leicester tidak terjadi secara tiba-tiba. Setelah beberapa musim masih mampu bersaing di Premier League, performa mereka mulai menunjukkan penurunan yang konsisten.
Musim 2022/2023 menjadi titik awal kemunduran signifikan ketika mereka gagal keluar dari zona bawah klasemen dan harus rela turun ke EFL Championship.
Sempat muncul harapan ketika Leicester langsung bangkit di musim berikutnya. Mereka tampil dominan di Championship dan berhasil mengamankan tiket promosi kembali ke Premier League.
Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Kembalinya Leicester ke kasta tertinggi justru berakhir dengan kegagalan, setelah mereka kembali terdegradasi di akhir musim.
Masalah utama yang terus menghantui Leicester adalah inkonsistensi. Tim ini kesulitan menjaga performa stabil dalam jangka panjang.
Baca Juga: Frank Lampard Menangis, Coventry City Akhiri Puasa 25 Tahun dan Promosi ke Premier League
Pergantian pemain dan dinamika skuad yang tidak solid membuat mereka kehilangan identitas permainan yang dulu menjadi kekuatan utama saat menjuarai liga.
Musim 2025/2026 seharusnya menjadi kesempatan bagi Leicester untuk kembali bangkit di Championship.
Namun kenyataannya jauh dari harapan. Hingga mendekati akhir kompetisi, mereka justru terjebak di papan bawah klasemen dan berjuang keluar dari zona degradasi.
Dengan jumlah pertandingan yang semakin menipis, peluang Leicester untuk bertahan semakin kecil.
Mereka tertinggal cukup jauh dari zona aman dan harus bergantung pada hasil tim lain selain meraih kemenangan di setiap laga tersisa. Situasi ini membuat tekanan terhadap tim semakin besar, baik dari dalam maupun luar lapangan.
Penurunan performa Leicester juga mencerminkan masalah yang lebih dalam. Klub yang dulu dikenal dengan efisiensi dan kerja sama tim yang solid kini terlihat kehilangan arah.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Premier League 11–14 April: Big Match Chelsea vs Manchester City Jadi Sorotan
Tanpa fondasi yang kuat, sulit bagi mereka untuk kembali ke jalur positif dalam waktu singkat. Fenomena ini bukan hal baru dalam sepak bola Inggris.
Banyak klub yang mengalami naik turun performa secara drastis dalam waktu relatif singkat. Namun, apa yang dialami Leicester terasa lebih mencolok karena kontras dengan keberhasilan mereka di masa lalu.
Satu dekade lalu, Leicester menjadi simbol bahwa keajaiban bisa terjadi dalam sepak bola. Mereka membuktikan bahwa kerja keras, strategi tepat, dan semangat kolektif mampu mengalahkan klub-klub besar dengan sumber daya lebih besar.
Kini, kisah tersebut seolah menjadi pengingat bahwa mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit daripada meraihnya.
Meski berada di posisi sulit, peluang Leicester untuk bertahan belum sepenuhnya tertutup. Mereka masih memiliki beberapa pertandingan untuk membalikkan keadaan, meskipun dengan skenario yang tidak mudah. Kemenangan beruntun menjadi syarat mutlak jika ingin menghindari degradasi.
Namun, bahkan jika mereka gagal bertahan, perjalanan Leicester tetap akan dikenang sebagai salah satu cerita paling luar biasa dalam sejarah sepak bola.
Dari tim yang tidak diunggulkan hingga menjadi juara liga, lalu kembali berjuang di papan bawah, perjalanan mereka mencerminkan dinamika kerasnya kompetisi.
Kondisi saat ini bisa menjadi titik balik bagi Leicester untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
Perbaikan dalam manajemen, strategi, dan pembangunan tim menjadi kunci jika mereka ingin kembali bersaing di level tertinggi di masa depan.
Bagi para pendukung, situasi ini tentu sulit diterima. Namun dalam sepak bola, perubahan adalah hal yang tidak terhindarkan.
Leicester kini berada di persimpangan penting yang akan menentukan arah masa depan mereka.
Apakah mereka mampu bangkit dan menunda kejatuhan, atau justru harus menerima kenyataan pahit turun ke kasta yang lebih rendah, semua akan ditentukan dalam sisa pertandingan musim ini.