JawaPos.com - Kalau bicara pelatih sukses Real Madrid, nama Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti biasanya langsung muncul di kepala.
Tapi kalau ukurannya adalah persentase kemenangan? Justru ada nama yang mungkin bikin banyak orang kaget: Xabi Alonso.
Melansir Defensa Central, meski masa jabatannya terbilang singkat, Xabi Alonso mencatatkan persentase kemenangan mencapai 71%. Angka ini bahkan melampaui Ancelotti yang ada di kisaran 70%, serta Zidane yang berada di angka 62%.
Secara statistik, ini luar biasa. Bahkan belum ada pelatih lain yang berhasil melewati angka tersebut sejauh ini. Tapi tentu saja, angka tidak selalu menceritakan keseluruhan cerita.
Korban Ekspektasi Tinggi
Alonso harus angkat kaki dari kursi pelatih pada Januari lalu setelah kekalahan di final Piala Super Spanyol dari Barcelona. Padahal saat itu, situasi tim belum sepenuhnya “hancur”.
Mereka masih bersaing di La Liga dengan selisih empat poin, dan tetap hidup di Copa del Rey serta Liga Champions.
Masalahnya bukan sekadar hasil, tapi juga dinamika internal. Ia disebut kesulitan membangun koneksi dengan ruang ganti. Dalam tim yang dipenuhi pemain bintang dan karakter kuat, hal seperti ini bisa jadi faktor penentu.
Ada juga anggapan bahwa klub memberi terlalu banyak pengaruh kepada pemain senior, yang pada akhirnya membuat posisi pelatih jadi kurang kuat. Tapi pada akhirnya, manajemen menilai kedua pihak sama-sama punya tanggung jawab.
Statistik vs Realita
Kasus Xabi Alonso ini jadi contoh klasik: statistik bagus belum tentu berarti sukses.
Dalam konteks Real Madrid, ukuran utama tetap trofi dan kontrol permainan di momen besar. Dan di dua aspek itu, Alonso dinilai belum cukup meyakinkan.
Menariknya, beberapa pelatih seperti Benitez dan Solari bahkan sempat mencatat persentase kemenangan lebih baik dari Zidane tapi itu juga karena periode mereka yang jauh lebih singkat. Sampel kecil sering kali “menipu”.
Lalu Bagaimana dengan Arbeloa?
Kini, perhatian beralih ke Alvaro Arbeloa. Situasinya agak mirip: ada hal positif, tapi hasil akhir belum memuaskan.
Ia sempat memberi harapan dengan keberanian memainkan pemain muda dari akademi dan menunjukkan progres di beberapa fase musim. Namun performa tim kembali menurun setelah jeda internasional terakhir.
Dengan tujuh laga tersisa, fokusnya sekarang jelas: menutup musim sebaik mungkin.
Setelah itu? Baru Real Madrid akan benar-benar menentukan arah. Apakah Arbeloa diberi waktu lebih, atau justru klub kembali mencari sosok baru untuk memulai era berikutnya.
Di Bernabéu, satu hal pasti: angka bisa impresif, tapi tanpa trofi, semuanya tetap terasa kurang.