Sejak datang ke Catalonia, Flick membawa filosofi berani yakni garis pertahanan tinggi yang agresif. Para bek diminta bermain jauh ke depan, bahkan mendekati garis tengah.
Baca Juga: Drama Kartu Merah di Liga Champions! Fans Real Madrid Minta Eduardo Camavinga Dijual
Saat berjalan sempurna, sistem ini terlihat keren: lawan terjebak offside, pressing tinggi berjalan, dan bola cepat direbut kembali. Masalahnya, sistem ini seperti pisau bermata dua.
Begitu lawan mampu membaca pola dan lolos dari jebakan offside, ruang kosong di belakang lini belakang Barcelona langsung terbuka lebar. Hasilnya? Situasi satu lawan satu dengan kiper yang terlalu sering terjadi dan akhirnya berujung gol.
Musim 2025–26 jadi bukti paling nyata. Barcelona berkali-kali kebobolan dengan pola yang hampir identik. Dan puncaknya, gol penentu dari Ademola Lookman yang memastikan mereka tersingkir dari Eropa untuk kesekian kalinya.
Lebih dari sekadar taktik, kualitas individu di lini belakang juga ikut jadi sorotan.
Pau Cubarsí memang punya potensi besar, tapi di usia 19 tahun, terlalu berat jika ia langsung jadi pemimpin lini pertahanan. Di sekitarnya, Eric García dan Ronald Araújo tampil inkonsisten, sementara Gerard Martín harus beradaptasi dengan peran baru.
Kondisi ini makin terasa karena tidak adanya sosok bek senior yang benar-benar bisa mengorganisasi lini belakang sejak kepergian Iñigo Martínez.
Melansir Sports Illustrated, legenda klub, Thierry Henry, bahkan tidak ragu menyebut masalah ini secara blak-blakan.
“Barcelona ini sangat membutuhkan bek-bek kelas atas,” ujarnya.
Baca Juga: Sukses Singkirkan Sporting CP, Declan Rice Ingin Bawa Arsenal ke Final Liga Champions
“Kita bisa membicarakan wasit sepanjang malam, tetapi kita juga harus melakukan introspeksi diri dan di sini ada banyak hal yang perlu diperbaiki dan mereka harus melakukannya. Jika tidak ada perubahan, dalam sepuluh tahun ke depan kita akan terus melihat hal yang sama dan itu memalukan.”
Ia juga menyoroti pendekatan defensif yang dinilai terlalu berisiko untuk level Liga Champions.
“Bermain dengan formasi lini depan bertahan di pertandingan-pertandingan besar Eropa ini, dengan pendekatan defensif seperti ini, semuanya menjadi rumit.”
“Barcelona tidak bisa bercita-cita untuk tetap berada di level ini tanpa stabilitas kelas satu. Maaf, tetapi tim ini sangat membutuhkan bek tengah elit musim depan. Jika Anda tidak memiliki stamina atau kelincahan untuk menutupi ruang itu, Anda akan menghadapi mimpi buruk yang nyata.”
Kritik serupa juga datang dari Samuel Umtiti, yang kecewa dengan minimnya penyesuaian taktik dari Flick.
“Saya kecewa dengan tim ini, terutama dengan cara pertahanan mereka bermain,” katanya.
“Dalam dua pertandingan mereka menerima dua kartu merah. Mereka mendapat masalah dan hampir selalu berakhir dengan cara yang sama.”
Menurutnya, garis pertahanan tinggi tanpa antisipasi yang tepat justru membuat pemain sering terlambat dalam duel, yang berujung pelanggaran krusial.
“Setiap kali ada aksi menyerang dari lawan, mereka datang terlambat dan itu merugikan mereka dan berakhir dengan kartu merah. Ini tidak bisa terjadi.”
Statistik pun memperkuat cerita ini. Dalam dua musim terakhir di Liga Champions, Barcelona termasuk tim dengan jumlah kebobolan tinggi, ditambah rentetan kartu merah dari para beknya. Ini jadi tanda jelas bahwa ada masalah struktural, bukan sekadar kesalahan individu.
Pada akhirnya, ini jadi pekerjaan rumah besar bagi Flick. Jika ingin kembali bersaing di level tertinggi, Barcelona butuh dua hal: tambahan bek kelas dunia dan pendekatan yang lebih pragmatis, terutama di laga-laga besar Eropa.