← Beranda
FIFA Dikritik Setelah Terapkan Strategi Penjualan Tiket Piala Dunia dengan Harga Tinggi dan Kontroversial
Risma Azzah FatinRabu, 15 April 2026 | 16.46 WIB
FIFA (Dreams Time)

 

JawaPos.com – FIFA menjadi sorotan setelah menerapkan strategi penjualan tiket Piala Dunia FIFA dengan harga tinggi.

Dilansir dari laman Defector pada Selasa (14/4), Sejumlah penggemar mengeluhkan sistem kategori tiket yang dinilai tidak transparan. Kondisi ini memicu kritik terhadap kebijakan distribusi tempat duduk di stadion.

Pada awal penjualan, tiket Kategori 1 dipasarkan sebagai pilihan dengan harga tertinggi bagi publik umum.

Banyak penggemar membeli tiket tersebut dengan harapan mendapatkan kursi terbaik di tribun bawah. Peta tempat duduk yang dirilis FIFA juga memberikan kesan bahwa posisi tersebut dekat dengan lapangan.

Namun, setelah penugasan kursi diumumkan, sejumlah pembeli tiket Kategori 1 justru ditempatkan di area Kategori 2.

Hal ini menimbulkan kekecewaan karena ekspektasi awal tidak terpenuhi. Banyak penggemar merasa tidak mendapatkan nilai yang sebanding dengan harga yang telah dibayarkan.

Situasi tersebut semakin kompleks setelah diketahui bahwa sebagian besar kursi strategis dialokasikan untuk paket perhotelan premium.

Paket tersebut memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan tiket kategori umum. Akibatnya, pembeli tiket reguler kehilangan peluang untuk mendapatkan kursi terbaik.

FIFA kemudian memperkenalkan kategori tiket baru, yakni Kategori Depan 1 dan Kategori Depan 2. Tiket ini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan kategori sebelumnya. 

Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket.

Sebagai contoh, harga tiket di beberapa pertandingan mencapai ratusan hingga ribuan dolar per kursi. Bahkan, untuk posisi tertentu, harga tiket meningkat hingga dua kali lipat dari kategori sebelumnya.

Hal ini semakin memperkuat persepsi bahwa akses ke kursi terbaik hanya tersedia bagi kalangan tertentu.

Kondisi ini membuat sebagian penggemar merasa dirugikan oleh kebijakan tersebut. Mereka menilai strategi harga yang diterapkan tidak berpihak pada penonton umum. 

Kritik terhadap FIFA pun semakin menguat seiring meningkatnya ketidakpuasan publik.

 

EDITOR: Novia Tri Astuti