← Beranda
Jejak Karier Cemerlang Marie-Louise Eta! Dari Kapten Werder Bremen Frauen Hingga Jadi Pelatih Kepala Union Berlin di Bundesliga
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 12 April 2026 | 22.06 WIB
Marie-Louise Eta saat menjadi kapten Werder Bremen Frauen sebelum pensiun cepat di usia 26 tahun. (Instagram @marielouiseeta)

 

JawaPos.com — Union Berlin kembali mencuri perhatian publik sepak bola Eropa. Bukan karena hasil pertandingan, melainkan keputusan berani yang mengubah sejarah Bundesliga.

Klub asal ibu kota Jerman itu resmi menunjuk Marie-Louise Eta sebagai pelatih kepala tim pria. Langkah ini menjadikannya perempuan pertama yang memegang jabatan tertinggi di tim putra pada salah satu dari lima liga top Eropa.

Penunjukan ini terjadi pada Sabtu malam, tak lama setelah Union Berlin memecat Steffen Baumgart. Keputusan tersebut diambil menyusul kekalahan 1-3 dari tim juru kunci Heidenheim yang memperburuk situasi klub.

Baca Juga: Sejarah Baru Bundesliga! Marie-Louise Eta Jadi Perempuan Pertama Latih Tim Putra Union Berlin

Di tengah tekanan hasil buruk, nama Eta muncul sebagai solusi. Sosok 34 tahun itu dipercaya memimpin tim hingga akhir musim, sebelum beralih menangani tim perempuan pada musim panas mendatang.

Keputusan ini bukan tanpa dasar. Eta bukan nama baru dalam struktur klub Union Berlin dan telah lama menjadi bagian dari perkembangan tim.

Kariernya dimulai dari lapangan hijau sebagai pemain profesional. Ia bahkan sempat menjadi kapten Werder Bremen Frauen sebelum kariernya harus berhenti lebih cepat pada usia 26 tahun.

Baca Juga: Dibantai Persija Jakarta, Rachmat Irianto Blak-blakan! Persebaya Surabaya Harus Berani Bongkar Total di Era Bernardo Tavares

Namun, pensiun dini justru menjadi titik awal perjalanan baru. Dunia kepelatihan langsung ia tekuni sejak 2018 dengan menangani tim putra U-15.

Perjalanan Eta tidak berhenti di level junior. Ia kemudian dipercaya menjadi asisten pelatih tim nasional perempuan Jerman, memperkaya pengalaman taktik dan kepemimpinannya.

Pada 2023, Eta bergabung dengan Union Berlin. Ia menjadi asisten pelatih tim putra U-19 bersama Marco Grote, sebelum akhirnya naik ke level yang lebih tinggi.

Nama Eta mulai mencuri perhatian pada Januari 2024. Saat itu, ia mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin tim putra di Bundesliga meski hanya berstatus sementara.

Momen tersebut terjadi ketika ia menggantikan Nenad Bjelica yang menjalani skorsing tiga pertandingan. Dari situlah, kepercayaan terhadap Eta semakin tumbuh di internal klub.

Kini, tanggung jawab yang ia emban jauh lebih besar. Ia harus membawa Union Berlin keluar dari tekanan di papan bawah klasemen.

Situasi klub memang tidak ideal. Union Berlin saat ini berada di peringkat ke-11 dari 18 tim, dengan performa yang jauh dari konsisten sepanjang 2026.

Baca Juga: 0 Shot On Target! Mandul di GBK, Lini Depan Persebaya Surabaya Kehilangan Arah Lawan Persija Jakarta!

Hanya dua kemenangan dari 14 pertandingan sejak jeda musim dingin menjadi catatan yang mengkhawatirkan. Jarak tujuh poin dari zona play-off degradasi pun belum cukup aman.

Eta menyadari betul tantangan tersebut. Ia tidak menutup mata terhadap kondisi tim yang sedang rapuh.

“Mengingat selisih poin di bagian bawah klasemen, posisi kami di Bundesliga belum aman,” katanya. “Saya sangat senang klub telah mempercayakan tugas menantang ini kepada saya.”

Baca Juga: Tret Tet Tet Bonek Ampel ke GBK! Dukung Persebaya Surabaya Meski Akhirnya Dibantai Persija Jakarta

Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan sebagai kekuatan utama tim. Baginya, Union Berlin punya karakter untuk bangkit dalam situasi sulit.

“Salah satu kekuatan Union selalu, dan tetap, adalah kemampuan untuk bersatu dalam situasi seperti ini. Dan, tentu saja, saya yakin kami akan mengamankan poin-poin penting bersama tim,” lanjutnya.

Dukungan penuh juga datang dari manajemen klub. Direktur olahraga Union Berlin, Horst Heldt, menjelaskan alasan di balik keputusan besar tersebut.

“Kami telah mengalami paruh kedua musim yang sangat mengecewakan sejauh ini dan tidak akan membiarkan diri kami dibutakan oleh posisi liga kami,” ujarnya.

Heldt menegaskan situasi tim masih sangat genting. Klub membutuhkan perubahan cepat untuk menghindari potensi terburuk di akhir musim.

“Situasi kami tetap genting dan kami sangat membutuhkan poin untuk mengamankan tempat kami di liga,” tambahnya.

Ia juga mengakui performa tim yang tidak meyakinkan dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu menjadi dasar kuat untuk melakukan perubahan besar di kursi pelatih.

Baca Juga: Performa Menurun, Endrick Dapat Kritik dari Pelatih Lyon

“Dua kemenangan dari 14 pertandingan sejak jeda musim dingin dan penampilan yang ditunjukkan dalam beberapa minggu terakhir tidak memberi kami kepercayaan diri,” lanjutnya.

Karena itu, Union Berlin memutuskan memulai kembali dengan arah baru. Eta dianggap sosok yang tepat untuk membawa energi segar ke dalam tim.

“Saya senang bahwa Marie-Louise Eta telah setuju untuk mengambil peran ini secara sementara,” tutup Heldt.

Baca Juga: Merasa Dicurangi, Real Madrid Putus Hubungan dengan Federasi Sepak Bola Spanyol

Laga debut Eta sebagai pelatih kepala akan langsung menghadirkan tantangan berat. Union Berlin dijadwalkan menghadapi Wolfsburg di kandang sendiri.

Setelah itu, rangkaian laga sulit sudah menanti. RB Leipzig, Koln, Mainz, dan Augsburg menjadi lawan dalam lima pertandingan terakhir musim ini.

Tekanan jelas berada di pundak Eta. Namun di balik itu, tersimpan peluang besar untuk kembali mencetak sejarah.

Jika mampu membawa Union Berlin bertahan di Bundesliga, namanya tidak hanya dikenang sebagai pelatih perempuan pertama. Ia bisa menjadi simbol perubahan dalam dunia sepak bola modern.

Kini, semua mata tertuju padanya. Bukan sekadar soal hasil, tetapi tentang bagaimana ia memimpin di tengah ekspektasi dan tekanan yang luar biasa.

EDITOR: Banu Adikara