JawaPos.com - Arsenal kembali menelan kekecewaan setelah tersingkir dari Piala FA usai kalah 2-1 dari Southampton di St. Mary's. Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena datang tidak lama setelah mereka tumbang 2-0 dari Manchester City di final Piala Carabao.
Meski masih bersaing di kompetisi lain, Arsenal jelas berharap bisa menjadikan Piala FA sebagai peluang realistis untuk meraih trofi musim ini. Namun, harapan itu pupus setelah Southampton tampil lebih efektif dan mampu memanfaatkan kesalahan-kesalahan yang dibuat tim tamu.
Melansir Vavel, Arteta mengakui bahwa timnya tampil dominan dalam beberapa fase pertandingan, tetapi gagal memaksimalkan peluang yang ada. Sebaliknya, Southampton tampil jauh lebih tajam ketika momen penting datang.
“Mereka adalah tim yang sangat bagus. Ini bukan kebetulan mengingat performa mereka saat ini. Mereka lebih efisien dari kami ketika momen-momen penting tiba, dan itulah mengapa mereka berada di Stadion Wembley. Saya mendoakan yang terbaik untuk mereka.”
Gol pertama Southampton lahir dari situasi yang sebenarnya bisa dihindari. Ross Stewart berhasil mencetak gol setelah Ben White salah mengantisipasi arah umpan silang. Sebelum gol itu terjadi, Arsenal juga beberapa kali kehilangan bola di area berbahaya melalui Cristhian Mosquera, Martin Ødegaard, dan Myles Lewis-Skelly.
Kesalahan-kesalahan kecil itu akhirnya menjadi mahal. Southampton tidak membuang kesempatan untuk menghukum Arsenal, terutama lewat serangan balik cepat yang berkali-kali merepotkan lini belakang The Gunners.
“Kami bermain melawan berbagai macam perilaku dari lawan. Kami telah memainkan 51 pertandingan, jadi bayangkan jumlah pertandingan yang telah kami mainkan dan menangkan dengan berbagai cara. Ini bukan tentang itu dan tanpa mengurangi pujian dari Southampton, ini sangat terkait dengan sesuatu yang harus kami lakukan jauh lebih baik.”
Masalah Arsenal bukan cuma di lini belakang. Di depan, mereka juga terlihat kurang tajam. Ødegaard sempat mendapat peluang emas dari Gabriel Martinelli di babak pertama, tetapi gagal mengubahnya menjadi gol.
Satu-satunya kabar positif datang dari Viktor Gyökeres yang kembali mencetak gol. Striker asal Swedia itu sedang dalam performa apik setelah sebelumnya mengoleksi empat gol dalam dua pertandingan internasional. Namun, satu gol Gyökeres belum cukup untuk menyelamatkan Arsenal dari kekalahan.
“Kami sangat kecewa dengan cara kami kehilangan kesempatan untuk kembali ke Wembley.”
“Saya rasa kami kembali memiliki banyak sekali periode dominasi dari sisi kami ketika kami menciptakan peluang dan situasi - kami tidak cukup memanfaatkannya - dan ketika Anda bertahan di dalam dan sekitar kotak penalti dan secara langsung seperti yang kami lakukan hari ini, Anda akan menempatkan diri Anda dalam posisi yang sangat sulit.”
“Mereka memanfaatkan hal itu, dan itulah alasan mengapa kami tersingkir.”
Arteta juga tidak menutup mata terhadap faktor kesalahan individu yang kembali menghantui timnya. Dalam laga sebesar ini, satu momen ceroboh saja bisa langsung mengubah jalannya pertandingan. Dan Arsenal, sayangnya, melakukan terlalu banyak kesalahan untuk bisa lolos ke semifinal.
“[Kesalahan individu] adalah bagian dari sepak bola, dan sayangnya ketika Anda melakukan kesalahan, Anda berharap lawan tidak akan memanfaatkannya, dan hari ini mereka telah melakukannya.”
Selain kekalahan, Arsenal juga harus menunggu kondisi Gabriel Magalhães yang ditarik keluar karena mengalami masalah fisik. Arteta belum bisa memastikan seberapa serius cedera tersebut, tetapi mengakui situasinya tidak terlihat bagus.
“Saya rasa [Gabriel Magalhães] merasakan sesuatu - saya tidak tahu persis apa itu. Kita harus memeriksanya - tetapi jelas, ketika seorang pemain meminta untuk diganti, itu bukanlah kabar baik.”
Bagi Arsenal, ini bukan sekadar kekalahan biasa. Ini adalah alarm bahwa dominasi penguasaan bola saja tidak cukup. Dalam laga-laga besar, efisiensi, ketenangan, dan minim kesalahan justru jadi pembeda utama. Dan pada malam itu, Southampton memiliki semua hal yang tidak dimiliki Arsenal.