← Beranda
Kartu Merah Bernardo Silva: Keputusan Kontroversial yang Mengubah Jalannya Pertandingan
M Shofyan Dwi KurniawanKamis, 19 Maret 2026 | 23.34 WIB
Kartu merah Bernardo Silva jadi momen krusial dalam laga Manchester City vs Real Madrid di Liga Champions. (ig @primevideosportuk)

 

JawaPos.com–Manchester City menghadapi momen krusial yang mengubah arah pertandingan saat berhadapan dengan Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions. Bernardo Silva, salah satu pemain paling konsisten mereka, harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah pertamanya dalam karir profesional.

Insiden tersebut terjadi ketika Bernardo berusaha menghentikan bola di garis gawang menggunakan lengan. Wasit awalnya tidak langsung memberikan keputusan final, namun setelah peninjauan VAR yang cukup panjang, dia dipanggil ke monitor di pinggir lapangan sebelum akhirnya menunjuk titik putih sekaligus mengeluarkan kartu merah.

Melansir Manchester Evening News, keputusan ini langsung menjadi sorotan. UEFA pun memberikan penjelasan resmi terkait momen tersebut.

Baca Juga: Winger Manchester City Jeremy Doku Akui Mentalitas Real Madrid Jadi Pembeda

”Keputusan dibatalkan: penalti diberikan. Tendangan penalti dan kartu merah. Pemain Manchester City nomor 20 melakukan pelanggaran handball yang disengaja, menggagalkan gol tim lawan,” tulis keterangan UEFA.

Dari sudut pandang aturan, tindakan Bernardo dianggap sebagai upaya menggagalkan peluang gol yang sudah sangat jelas atau yang biasa disebut sebagai denial of a goal-scoring opportunity (DOGSO). Karena dilakukan dengan sengaja menggunakan tangan, hukuman maksimal pun diberikan yakni penalti dan kartu merah.

Mantan wasit Mark Clattenburg turut memberikan analisis terkait insiden ini. Dia menyoroti bahwa ada dua aspek yang harus diperiksa, yakni kemungkinan offside dan pelanggaran handball itu sendiri.

Baca Juga: Ejekan Fans City Dibalas Selebrasi Menangis, Donnarumma Nilai Vinicius Berlebihan

”Saya pikir yang harus mereka perhatikan, pertama-tama asisten wasit telah menyatakan offside. Ada dua fase yang harus mereka perhatikan, tayangan ulang yang telah kita lihat, keduanya tampak seperti bisa jadi onside,” papar Mark Clattenburg.

”Oleh karena itu, mereka akan melihat penalti tersebut. Saya pikir Clement sedang memeriksa offside di sini, jika tidak terjadi offside, itu adalah handball. Saya pikir dia mengulurkan tangannya dan menghentikan bola masuk,” lanjut dia.

”Jika bola masuk, itu bisa jadi kartu merah. Ya, bola masuk, mengenai siku, dan bisa jadi kartu merah jika tidak offside,” sambung Mark Clattenburg.

Clattenburg juga menegaskan bahwa keputusan kartu merah tersebut didasarkan pada unsur kesengajaan dalam gerakan Bernardo.

"Itulah perbedaannya, sekadar klarifikasi. Jika itu kecelakaan dan bola masuk ke dalam gawang, itu akan menjadi kartu kuning. Ini bukan kecelakaan. Dia mengulurkan lengannya, membuat tubuhnya lebih besar, dan itu menghentikan bola masuk ke gawang. Itulah sebabnya wasit memberikan kartu merah,” terang Mark Clattenburg.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Real Madrid memanfaatkan penalti tersebut dengan baik, membuka keunggulan dan membuat situasi semakin sulit bagi City, terlebih mereka sudah tertinggal agregat dari leg pertama.

Baca Juga: 5 Kandidat Pengganti Pep Guardiola Jika Mundur dari Manchester City

Meski sempat memberikan perlawanan lewat gol Erling Haaland, tekanan tetap berada di pihak tuan rumah yang harus mengejar ketertinggalan dalam kondisi tidak ideal.

Legenda Inggris Wayne Rooney juga memberikan pandangan saat jeda pertandingan. Dia menilai keputusan wasit sudah tepat, meski mengakui ada unsur refleks dalam aksi Bernardo.

”Saya pikir itu jelas kartu merah. Keputusan ini, Bernardo tahu, itu insting. Dia mungkin tidak bermaksud menahan bola agar tidak masuk. Ada penalti dan kartu merah yang merupakan keputusan yang tepat. Sangat disayangkan karena pertandingan ini tampaknya akan menjadi pertandingan yang hebat,” tutur Wayne Rooney.

Baca Juga: Thibaut Courtois Terancam Absen di Derby Madrid, Lunin Siap Ambil Peran

Pada akhirnya, satu momen kecil di garis gawang itu menjadi titik balik besar dalam pertandingan. Dalam laga selevel Liga Champions, detail sekecil apa pun memang bisa menentukan segalanya.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah