← Beranda
Aturan Finansial Baru Premier League Picu Kekhawatiran UEFA Soal Ketimpangan Sepak Bola Eropa
Andre Rizal HanafiRabu, 11 Maret 2026 | 02.33 WIB
Momen drawing Liga Champions, di mana UEFA sangat mengkhawatirkan kebijakan yang diterapkan di Premier League. (UEFA)

 

JawaPos.com - Kekhawatiran muncul dari badan sepak bola Eropa, UEFA, terkait aturan finansial baru yang akan diterapkan di Premier League mulai musim depan.

Regulasi tersebut dinilai berpotensi memperlebar jarak kekuatan ekonomi antara klub Inggris dan klub dari liga lain di Eropa.

Premier League berencana mengganti sistem lama dengan aturan baru bernama Squad Cost Ratio (SCR).

Melalui sistem ini, klub diperbolehkan mengalokasikan hingga 85 persen dari pendapatan mereka untuk biaya skuad, termasuk gaji pemain, pelatih, dan staf tim.

Baca Juga: Nasib Finalissima di tengah Konflik Iran: UEFA Segera Tuntaskan Status Laga di Qatar

Dalam kondisi tertentu, angka tersebut bahkan bisa meningkat hingga sekitar 115 persen dengan konsekuensi sanksi finansial tertentu.

Batas ini jauh lebih longgar dibanding aturan yang diterapkan UEFA di kompetisi Eropa.

UEFA menetapkan bahwa klub yang tampil di Liga Champions, Liga Europa, maupun Conference League hanya boleh menggunakan maksimal 70 persen dari pendapatan mereka untuk biaya skuad.

Perbedaan batas tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat UEFA. Mereka menilai klub Premier League yang tidak tampil di kompetisi Eropa justru bisa memiliki ruang belanja lebih besar dibanding klub-klub lain di benua tersebut.

Situasi ini semakin menarik perhatian karena dominasi klub Inggris di kompetisi Eropa musim ini.

Sebanyak sembilan klub Premier League berhasil lolos ke turnamen antarklub Eropa, dengan enam di antaranya bermain di Liga Champions.

Yang lebih mencolok, seluruh sembilan klub tersebut berhasil melaju hingga babak 16 besar di kompetisi masing-masing. Jumlah ini jauh melampaui liga lain seperti Spanyol, Jerman, Italia, maupun Prancis.

Baca Juga: Insiden Rasis di Liga Champions, UEFA Jatuhkan Sanksi untuk Tottenham

Direktur Keberlanjutan Finansial UEFA, Andrea Traverso, menyebut dominasi tersebut tidak terlepas dari kekuatan ekonomi Premier League yang sangat besar.

Menurutnya, saat ini Liga Inggris menyumbang sekitar seperempat dari total pendapatan klub sepak bola di Eropa.

Dengan kondisi itu, peningkatan kapasitas belanja klub-klub Inggris dikhawatirkan bisa memicu ketidakseimbangan di pasar transfer.

Traverso juga menyoroti fakta bahwa sekitar 40 persen pemain dengan nilai pasar tertinggi di dunia bermain di klub Inggris. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi pemain cadangan.

“Konsentrasi talenta seperti ini sangat luar biasa, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi kompetisi sepak bola Eropa,” ujarnya dikutip dari bcc.com.

Sementara itu, beberapa liga besar Eropa justru memperketat regulasi finansial mereka. Bundesliga Jerman telah menyepakati batas biaya skuad sebesar 70 persen dari pendapatan.

La Liga Spanyol bahkan menerapkan kontrol finansial ketat melalui aturan yang mengharuskan pengeluaran klub seimbang dengan pendapatan mereka.

Baca Juga: Finalissima Antara Spanyol vs Argentina Terancam Batal di Qatar, UEFA dan CONMEBOL Tunggu Situasi Aman

Presiden La Liga Javier Tebas termasuk pihak yang vokal mengkritik kekuatan finansial Premier League. Ia menilai perbedaan aturan seperti ini bisa menimbulkan inflasi dalam pasar transfer pemain.

Di sisi lain, pihak Premier League menegaskan bahwa aturan SCR justru dibuat untuk menjaga keseimbangan kompetisi di dalam Liga Inggris.

Chief Executive Premier League Richard Masters mengatakan setiap liga memiliki kebebasan menentukan regulasi yang dianggap paling tepat.

Menurutnya, sistem baru ini memberi ruang bagi klub yang jarang tampil di kompetisi Eropa untuk tetap mampu bersaing memperebutkan tiket ke turnamen internasional.

Dengan kekuatan komersial yang sudah jauh melampaui liga lain, aturan baru ini diperkirakan akan semakin memperkuat daya tarik klub-klub Premier League di pasar transfer pemain dunia.

EDITOR: Edi Yulianto