← Beranda
Zinedine Zidane Bongkar Rahasia Bangkitkan Real Madrid yang Pernah Terpuruk
M Shofyan Dwi KurniawanSabtu, 17 Januari 2026 | 21.18 WIB
Zinedine Zidane mengungkap cara ia membangkitkan Real Madrid yang sempat terpuruk pada 2016. Dari membangun fisik, kepercayaan, hingga mental juara, semuanya menjadi fondasi era emas Los Blancos.
 

JawaPos.com - Tak banyak pelatih yang punya tempat istimewa di hati pendukung seperti Zinedine Zidane. Namanya bukan hanya dikenang sebagai legenda di lapangan, tetapi juga sebagai sosok yang membawa Los Blancos melewati salah satu periode paling gemilang dalam sejarah sepak bola modern.

Namun, cerita itu tidak dimulai dari situasi ideal. Saat Zidane ditunjuk sebagai pelatih pada Januari 2016, Madrid justru sedang berada dalam kondisi limbung. Rentetan hasil mengecewakan di era tersebut membuat kepercayaan diri tim menurun dan ritme permainan jauh dari kata stabil.

Apa yang terjadi setelahnya justru menjadi dongeng sepak bola: Real Madrid meraih tiga gelar secara beruntun, sebuah pencapaian yang hingga kini sulit ditandingi.

Mengenang Masa-masa Awal

Melansir AS, Zidane mengakui, promosi mendadak ke kursi pelatih tim utama datang dengan tekanan besar dan penuh keraguan. Ia mengenang betul momen awal tersebut, ketika ekspektasi langsung menghantamnya tanpa jeda.

“Saya ingat kami sedang mempersiapkan pertandingan melawan Ebro, dan kami mendapat kesempatan untuk berlatih bersama tim utama.”

“Ketika saya mulai di Castilla, saya bermimpi untuk melatih tim utama, tetapi setelah kalah tiga pertandingan di awal karier saya, saya pikir itu akan menjadi akhir dari segalanya.”

“Saya tahu apa yang saya hadapi. Kami memiliki tim terbaik di dunia. Saya melihat para pemain dan tahu bahwa jika kami bekerja keras, kami bisa mencapai hal-hal besar, dan itulah yang terjadi. Kami tidak ingin setiap sesi latihan sama,” katanya kepada saluran YouTube Hamidou Msaidie.

Masalah Utama yang Harus Dibenahi

Menurut Zidane, persoalan terbesar saat ia mengambil alih tim bukan soal kualitas pemain, melainkan kondisi fisik dan semangat kolektif.

“Tim tersebut tidak dalam kondisi fisik yang baik, dan kami hanya perlu menanamkan kepada mereka gagasan bahwa mereka perlu bekerja sebagai tim.”

“Saya bertemu dengan keempat kapten dan memberi tahu mereka apa yang saya inginkan dari mereka, dan akan melihat apakah mereka berkomitmen. Ketika mereka setuju untuk bekerja, selesai sudah.”

“Kami menemukan kembali motivasi mereka. Kami membuat mereka berlari. Kerja fisik sangat penting.”

Pendekatan sederhana, tapi tegas itu perlahan mengubah wajah Madrid. Dari tim yang ragu menjadi skuad dengan mental kompetitif tinggi.

Mentalitas Jelang Laga Besar

Zidane juga membagikan pesan jujur yang ia sampaikan kepada tim saat menghadapi rival berat seperti Atletico Madrid dan Barcelona.

“Saya memberi tahu mereka bahwa jika kami bermain melawan Atleti atau Barca, kami akan kalah 100%. Jika kami bekerja sama, maka kami bisa mengalahkan mereka, dan itulah yang terjadi.”

“Pada bulan Januari, kami mungkin tidak akan mengalahkan mereka, tetapi di akhir musim, kami mengalahkan keduanya. Barca di La Liga dan Atleti di Liga Champions.”

Pesan itu bukan untuk menjatuhkan mental, melainkan menegaskan bahwa kerja kolektif adalah kunci untuk bersaing di level tertinggi.

Hubungan dengan Pemain Sebagai Pondasi

Bagi Zidane, kepercayaan adalah pondasi utama kesuksesan. Ia menegaskan bahwa pelatih di Real Madrid harus memahami satu hal mendasar: klub ini hidup untuk para pemainnya.

“Di Real Madrid, kami ada untuk para pemain. Jika Anda tidak memahami itu, Anda tidak akan bisa bertahan dalam profesi ini.”

“Jika para pemain tidak setuju dengan semua yang diberikan kepada mereka, sesi latihan, dan semua itu… akan selalu ada sesuatu yang kurang. Bersama kami, saya rasa mereka sangat menikmatinya di semua tingkatan.”

Pendekatan humanis inilah yang membuat ruang ganti Madrid tetap solid di tengah tekanan besar.

Kepercayaan Diri dan Persaingan Sehat

Di akhir, Zidane menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri dan persaingan internal yang sehat di dalam tim.

“Kami menanamkan banyak kepercayaan diri pada para pemain. Mereka telah melewati masa sulit dan perlu mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka.”

“Ketika seorang pemain memiliki jiwa kompetitif, dia senang berlatih dan bermain. Saya mencoba membuat mereka menyadari bahwa mereka semua penting.”

“Jika mereka tidak berlatih dengan baik, mereka tidak bisa bermain. Jika pada hari Senin Anda tahu siapa yang akan bermain pada hari Sabtu, itu buruk. Pemain yang tidak bermain tidak akan berlatih dengan baik,” pungkasnya.

Dari cerita Zidane, satu benang merah terlihat jelas: kebangkitan Real Madrid kala itu bukan hasil keajaiban instan, melainkan buah dari kerja keras, kepercayaan, dan manajemen manusia yang tepat. Sebuah pelajaran berharga dari era emas Los Blancos.

EDITOR: Edi Yulianto