JawaPos.com — Ada banyak kisah panas di Premier League, tapi sedikit yang sedramatis pertarungan Roy Keane melawan para rival terbaiknya. Legenda Manchester United itu pernah menyusun 11 lawan paling gacor yang pernah ia hadapi, dan salah satunya berasal dari Liverpool.
Keane dikenal sebagai kapten bengis yang tak pernah mundur dari duel, tapi di balik sikap keras itu ia punya respek besar pada lawan-lawan yang membuatnya bekerja ekstra.
Ia memilih nama-nama yang menurutnya bukan hanya berbakat, tapi benar-benar membuat hidupnya sulit di lapangan.
Kiper
Daftar itu dimulai dari posisi paling krusial, yakni penjaga gawang, yang diisi Oliver Kahn. Kiper Jerman itu dianggap salah satu yang terbaik karena refleks ganas dan mental baja yang sering membuat striker lawan frustrasi.
Keane menyebut Kahn sebagai fondasi pertahanan mimpi yang seakan tak bisa ditembus. Sosok yang sering disebut paling sial karena momen-momen pahit di turnamen besar itu tetap tak terbantahkan kualitasnya.
Bek
Di lini belakang, Keane memilih Lilian Thuram untuk posisi bek kanan yang menurutnya komplet sebagai atlet dan pembaca permainan.
Thuram tampil gemilang untuk Prancis dan klub-klub besar Eropa, membuat Keane merasakan langsung repotnya menghadapi bek dengan fisik prima sekaligus intelijen tinggi.
Di sisi kiri, Keane memasang legenda AC Milan Paolo Maldini yang kemampuannya tak pernah turun bahkan saat usianya menua.
Keane respek penuh pada Maldini yang juga bisa bermain di posisi bek tengah dengan level sama baiknya.
Maldini ditemani rekan setimnya di Milan, Franco Baresi, yang disebut Keane sebagai pemimpin pertahanan paling tenang yang pernah ia hadapi. Baresi membuat pertahanan terasa seperti seni, bukan sekadar fisik atau tekel.
Lini pertahanan ditutup Ronald Koeman yang dikenal bukan hanya sebagai bek, tapi juga mesin gol dengan tendangan keras mematikan.
Keane mengakui Koeman mampu mengubah arah pertandingan hanya dari bola mati, sesuatu yang membuatnya harus selalu waspada.
Gelandang
Masuk ke lini tengah, Keane memilih Didier Deschamps sebagai jangkar yang disiplin dan efisien. Deschamps menjadi pemain yang membuat setiap duel terasa seperti adu kesabaran karena ia hampir tak pernah salah posisi.
Di sampingnya ada Steven Gerrard, sang legenda Liverpool yang sering membuat Keane berang namun diam-diam sangat dihormati.
Gerrard lengkap sebagai petarung kotak ke kotak, punya tekel keras, tendangan petir, dan visi permainan yang sering mematahkan struktur lawan.
Gerrard menjadi satu-satunya wakil Liverpool dalam daftar Keane, dan hadirnya nama ini menunjukkan betapa besar pengaruh sang kapten The Reds pada era tersebut.
Keane mengakui pertandingan melawan Gerrard tak pernah terasa ringan.
Pos gelandang serang ditempati Zinedine Zidane, maestro yang menurut Keane punya kemampuan mengubah ritme pertandingan hanya dengan satu sentuhan.
Ia memberi ruang bagi Zidane untuk bebas di area terbaiknya tanpa tugas defensif berlebihan.
Zidane menjadi simbol kreativitas absolut yang membuat Keane merasakan betapa sulitnya mengatasi pemain elegan dengan kontrol bola hampir tak masuk akal.
Lawan seperti ini membuat Keane harus menggunakan lebih dari sekadar fisik untuk menghentikannya.
Penyerang
Di lini depan, Keane memasang Gheorghe Hagi di sisi kanan sebagai penghormatan kepada pemain yang menurutnya sering diremehkan.
Hagi punya teknik istimewa yang kerap membuat pemain bertahan terpeleset oleh kejutan-kejutan kecil penuh trik.
Di kiri, Hristo Stoichkov hadir sebagai penyerang agresif dengan naluri pembunuh khas Barcelona era 90-an.
Keane menilai Stoichkov tak hanya berbahaya karena kualitasnya, tapi juga karena mental tarungnya yang sejalan dengan intensitas tinggi permainan Eropa waktu itu.
Puncak serangan ditempati Ronaldo Nazario, striker yang sering membuat lawan kehilangan arah dalam satu sentuhan.
Keane melihat langsung bagaimana Ronaldo memadukan kecepatan, kekuatan, dan insting mematikan yang tak dimiliki penyerang lain pada eranya.
Ronaldo bagi Keane adalah definisi pemain yang tak bisa dihentikan bahkan bila dijaga sempurna.
Setiap pertemuan melawan sang Fenomeno menjadi pengingat talenta luar biasa kadang memang tidak bisa dilawan hanya dengan kerja keras saja.
Sebelas nama pilihan Keane menggambarkan betapa kerasnya kompetisi elite pada masa keemasan sepak bola Eropa.
Mereka bukan hanya lawan, tapi juga bukti kualitas Keane sebagai gelandang yang harus bertahan hidup di era penuh monster lapangan.
11 Lawan paling gacor dari Roy Keane:
Kiper: Oliver Kahn
Bek: Lilian Thuram, Ronald Koeman, Franco Baresi, Paolo Maldini
Gelandang: Didier Deschamps, Steven Gerrard, Zinedine Zidane
Penyerang: Gheorghe Hagi, Hristo Stoichkov, Ronaldo