JawaPos.com - Kemenangan Real Madrid atas Barcelona seolah menjadi penenang bagi Xabi Alonso setelah tekanan berat beberapa pekan terakhir. Namun di balik hasil positif itu, kabarnya ada badai kecil yang mulai tumbuh di ruang ganti Los Blancos.
Sebelumnya, Alonso sempat diserang kritik usai kekalahan telak 5-2 dari Atletico Madrid dan 4-0 dari PSG di Piala Dunia Antarklub FIFA. Dua hasil itu memunculkan keraguan atas kemampuannya menangani pertandingan besar.
Meski Real Madrid kini kembali ke jalur kemenangan dan memimpin La Liga dengan selisih lima poin, laporan terbaru mengindikasikan bahwa tantangan terbesar Alonso bukan lagi lawan di lapangan melainkan para pemainnya sendiri.
Baca Juga: Mantan Bintang Real Madrid Sebut Kemarahan Vinicius Jr. kepada Xabi Alonso Terlalu Berlebihan
Perpecahan di Ruang Ganti Real Madrid
Menurut jurnalis The Athletic, Mario Cortegana, sejumlah pemain utama Real Madrid mulai menunjukkan ketidakpuasan terhadap perubahan besar yang dibawa Alonso sejak hari pertama menjabat.
Ketegangan ini bahkan disebut sudah melampaui kasus kemarahan Vinícius Júnior yang sempat meledak saat digantikan dalam laga El Clásico.
Sumber yang dekat dengan kubu Alonso mengungkapkan bahwa mantan pelatih Bayer Leverkusen itu menemukan “banyak kebiasaan buruk” dalam skuad ketika ia tiba di Madrid. Ia langsung menegaskan satu pesan: “Siapa pun yang tidak berlari lebih keras dan bekerja lebih keras tanpa bola, akan kehilangan tempatnya.”
Baca Juga: Xabi Alonso Dinilai Bisa Keluarkan Potensi Terbaik Eduardo Camavinga di Real Madrid
Di awal pramusim, Alonso berbicara dengan para pemain dan menetapkan sejumlah aturan baru mulai dari ketepatan waktu, disiplin latihan, hingga peningkatan profesionalisme di luar lapangan.
Seorang sumber di Valdebebas, pusat latihan Madrid, menyebut, “Xabi meminta lebih banyak kedisiplinan dalam keseharian: kontrol jadwal, latihan tambahan di gym, dan sesi video kelompok maupun individu.”
Namun, tidak semua pemain menyambut baik perubahan ini. Beberapa sosok senior disebut merasa “tidak dihargai dan tidak puas.”
Perubahan paling mencolok dari era Carlo Ancelotti adalah perbedaan gaya manajemen.
Di bawah Alonso, para pemain kini menghadapi sistem yang jauh lebih terstruktur dan taktis. Mereka dituntut menjalankan skema permainan yang detail, bahkan mengorbankan kebebasan improvisasi di lapangan yang selama ini menjadi ciri khas Madrid.
“Beberapa dari mereka sudah memenangkan segalanya tanpa aturan-aturan ini. Jadi ketika hal-hal ini dipaksakan, mereka mengeluh. Itu wajar, terutama bagi mereka yang merasa tak tersentuh,” kata seorang sumber kepada The Athletic.
Ada juga yang menilai Alonso terlalu kaku dan kurang berinteraksi dengan para pemain.
“Madrid berubah dari pelatih yang jarang turun ke latihan, menjadi pelatih yang seperti pemain biasa,” ungkap salah satu pemain.
“Dia pikir dia Pep Guardiola, tapi sejauh ini dia baru Xabi.”
Selain di lapangan, Alonso juga memperketat pengawasan di luar sesi latihan. Ia membatasi akses staf dan tamu ke ruang ganti, menuntut kerahasiaan internal, serta menghentikan kebocoran susunan pemain yang dulu sering terjadi di era Ancelotti.
Langkah-langkah ini menegaskan tekad Alonso untuk membawa profesionalisme yang lebih tinggi. Namun, efek sampingnya adalah meningkatnya jarak antara dirinya dan beberapa pemain senior.