← Beranda
Tiga Sorotan Menarik dari Kemenangan Real Madrid dalam El Clasico yang Lama Dinanti
Bramasta JPSenin, 27 Oktober 2025 | 13.21 WIB
Selebrasi Kylian Mbappe setelah cetak gol ke gawang Barcelona. (Dok Real Madrid)

JawaPos.com–Setelah menderita empat kekalahan dalam laga El Clasico sepanjang musim lalu, penantian panjang Real Madrid untuk membalas dendam atas rival berat mereka akhirnya tuntas. Real Madrid mengalahkan Barcelona 2-1 di Santiago Bernabeu pada Minggu (26/10).

Xabi Alonso berada di bawah tekanan memberi penampilan gemilang di El Clasico pertamanya sebagai pelatih. Terutama setelah penampilan buruknya melawan Atletico Madrid yang sedikit memberi luka.

Los Blancos menghadapi Barcelona dibebani cedera. Sedangkan Barcelona tanpa Hansi Flick di pinggir lapangan. Itu membuat peluang Alonso dan anak asuhannya semakin terbuka untuk merebut kemenangan dalam duel rivalitas termahsyur dalam olahraga ini.

Kylian Mbappe membuka skor untuk Los Blancos, tetapi Fermin Lopez menyamakan kedudukan bagi tim Catalan di babak yang sebagian besar didominasi tuan rumah. Pada akhirnya, gol Jude Bellingham di menit ke-43 memastikan tiga poin penuh bagi Real Madrid.

Kemenangan berharga ini sekaligus mempertahankan posisi raksasa ibu kota Spanyol itu di puncak klasemen La Liga memperlebar jarak menjadi lima poin dari Barcelona yang terus menempel.

Berikut tiga poin penting dari kemenangan mendebarkan Real Madrid di El Clasico.

Real Madrid Akhirnya Memanfaatkan Garis Lini Pertahanan Tinggi Barcelona

Bukan rahasia lagi bahwa Barcelona mengungguli Real Madrid dengan lini pertahanan tinggi dalam empat laga Clasico musim lalu. Mbappe kesulitan dengan jebakan offside, dalam kemenangan 4–0 Barca atas Madrid Oktober lalu.

Bendera offside dikibarkan sebanyak 25 kali melawan Los Blancos dalam empat pertandingan melawan tim Catalan tersebut. Bahkan kecepatan Mbappe dan visi Bellingham tidak cukup untuk membuat pasukan Flick membayar mahal sistem pertahanan tinggi mereka.

Maju ke duel pertama musim 2025/2026, Los Blancos akhirnya mampu mengekspos lini pertahanan tinggi Blaugrana. Umpan-umpan terobosan yang tepat waktu untuk para penyerang Alonso benar-benar menghancurkan sang juara bertahan Spanyol.

Mbappe tampak siap mencetak gol setiap kali dia menguasai bola, membuat para pemain bertahan mengejar performanya yang sedang naik daun. Dipimpin pemain Prancis itu, Madrid berhasil menjalankan rencana permainan taktis hingga mendekati sempurna.

Raksasa Spanyol itu masih melihat tiga golnya dianulir karena offside, tetapi pada akhirnya, itu tidak menjadi masalah karena mereka berhasil memulangkan Lamine Yamal dkk ke Catalunya tanpa poin.

Pertahanan Kuat Gaya Xabi Alonso Layak Raih Trofi Musim ini

Ke-16 gol Barcelona melawan Real Madrid musim lalu sungguh memalukan bagi juara Eropa 15 kali tersebut. Pasukan Flick melakukan apa pun yang mereka inginkan melawan lini belakang Los Blancos yang dirundung cedera dalam perjalanan mereka meraih treble domestik.

Madrid kemudian berinvestasi dalam pertahanan baru untuk Alonso, merekrut Dean Huijsen, Alvaro Carreras, dan Trent Alexander-Arnold. Rekrutan baru mereka langsung bersinar dalam penampilan perdana mereka melawan tim Catalan tersebut, kecuali nama terakhir yang absen.

Setelah menepi selama dua minggu terakhir, Huijsen kembali ke starting line-up Alonso. Mantan pemain bintang Bournemouth itu tampil tenang di bawah tekanan, membantu Eder Militao menahan gempuran demi gempuran Barcelona di babak kedua, terutama di masa tambahan waktu.

Sementara itu, Carreras bermain apik melawan Yamal, membatasi pemain muda sensasional itu dengan tidak melepaskan satu tembakan tepat sasaran pun selama 90 menit di lapangan. Pemain sayap itu juga kalah dalam separuh duelnya.

Mengingat rentetan cedera Barca, ​​akan ada ujian yang lebih berat bagi lini belakang Alonso untuk duel ke depannya, tetapi Real Madrid bisa saja kembali ke jalur juara jika pertahanan mereka terus berkembang dan membaik.

Reaksi Berlebihan Vinicius Junior Membuatnya Berada di Garis Berbahaya

Di luar taktik Real Madrid di kedua ujung lapangan, Vinicius menjadi pusat perhatian pada El Clasico kali ini untuk semua alasan yang salah. Winger timnas Brasil ini sedang dalam perjalanan untuk memberikan penampilan terbaik melawan Jules Kounde ketika emosi menguasai dirinya.

Vini mempermasalahkan keputusan Alonso untuk menggantinya dengan Rodrygo pada menit ke-72, hampir kehilangan akal sehatnya saat meninggalkan lapangan. Sang penyerang keluar langsung masuk lorong ruang ganti sementara rekan timnya berjuang.

Dia akhirnya kembali ke bangku cadangan, tetapi reaksi berlebihan dari Vini sekali lagi menyoroti hubungannya dengan Alonso. Bos baru itu bahkan tidak mau melihat pemainnya ketika ia melewatinya di pinggir lapangan.

Hal terakhir yang dibutuhkan Real Madrid adalah masalah jangka panjang yang berkembang antara sang superstar dengan pelatih. Meski Alonso bersikeras tidak ada masalah dengan Vini, keributan akan terus bertambah besar jika semakin banyak perselisihan publik yang muncul.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah