JawaPos.com–Barcelona mengambil alih puncak klasemen La Liga sementara setelah berhasil menundukkan Girona dengan hasil akhir 2 – 1. Pertandingan lanjutan pekan kesembilan itu digelar pada Sabtu (18/10), di Stadion Olimpiade Lluís Companys.
Sebagai tuan rumah Barca mampu unggul cepat hanya 13 menit untuk Pedri membawa pendukung bersorak. Gelandang berusia 22 tahun tersebut menerima umpan pendek Lamine Yamal di kotak penalti, sebelum mengarahkan ke pojok kiri bawah.
Tujuh menit berselang, Girona mampu menyamakan kedudukan lewat gol akrobatik Axel Witsel yang berhasil menaklukkan Wojciech Szczesny. Bola kedua dari skema sepak pojok gagal diantisipasi Blaugrana yang membuat umpan sundulan Arnau Martinez tepat sasaran.
Setelah itu, justru pasukan Blanquivermells asuhan Michel membombardir Barcelona di sisa babak pertama. Mulai dari Vladyslav Vanat yang digagalkan sang penjaga gawang hingga sepakan kaki kanan Portu masih membentur gawang tuan rumah.
Sedangkan Barca hanya mampu membalas peluang lewat tendangan bebas cantik Marcus Rashford yang hampir menembus jala gawang Paulo Gazzaniga, sebelum diselamatkan mistar. Skor 1 – 1 menutup babak pertama.
Pada babak kedua, rasa frustasi menyelimuti Blaugrana. Beberapa peluang mereka gagal hingga kesulitan menyerang.
Barca juga kesulitan mengatasi serangan balik Girona. Hingga pada menit ke-91 Flick harus diusir dari lapangan karena protes berlebihan.
Untungnya, tanpa sang pelatih di pinggir lapangan justru tuan rumah memecah skor untuk memastikan tiga poin. Penetrasi Frenkie De Jong dari sisi kanan, mengirim umpan ke tengah kotak penalti, disambut tendangan ke tiang jauh dengan kaki kanan Araujo.
Garis Pertahanan Tinggi Kembali Menyulitkan Blaugrana
Kebenaran bahwa garis lini pertahanan tinggi taktik khas Flick telah menjadi bagian yang paling mudah ditebak sepanjang awal musim 2025/2026. Terbukti ketika Girona beberapa kali mengekspos kelemahan tersebut pada pertandingan ini.
Hanya saja ketidakmampuan tim tamu untuk melakukan penyelesaian akhir yang gemilang mencegah Blaugrana tertinggal setidaknya satu gol di babak pertama. Peluang tim tamu dari Vanat, Portu, hingga Bryan Gil, penyebab utamanya adalah taktik tersebut terdapat celah.
Ketika menerapkan garis pertahanan tinggi Jules Kounde, Eric Garcia, Pau Cubarsi, dan Alejandro Balde, selalu tertekan lewat serangan balik cepat lawan-lawan Barca. Pemain belakang Barca berlari ke arah gawang sendiri, bukan langsung merebut bola.
Hal itu karena ruang yang ditinggalkan di belakang cukup besar. Empat bek sejajar naik ke depan meninggalkan kiper di belakang. Sehingga ketika berlari ke belakang tanpa memperhatikan sekitar, penyerang lawan bisa memanfaatkan ruang-ruang kosong.
Tidak ada salahnya jika Flick mengembalikan Barca ke mode pertahanan yang kurang berisiko jika membutuhkannya. Kegigihan Flick untuk tetap menggunakan garis lini pertahanan tinggi, bisa jadi kelemahan untuk timnya sendiri.
Pedri Sang Maestro
Meskipun banyak pujian sering diberikan kepada pemain seperti Lamine Yamal dan Raphinha sejak musim lalu, apa jadinya pejalanan kesuksesan Barca mencatatkan treble domestik ini tanpa sosok maestro seperti Pedri?
Setelah diberi waktu istirahat selama satu jam dan menjelang pekan yang penuh tantangan, pengaruhnya yang menenangkan di lini tengah tak bisa diremehkan. Sumbangan satu gol pada pertandingan ini membantu mengangkat performa tim yang terlihat lelah saat menghadapi Girona.
Tak hanya menyumbang satu gol tugas pemain 22 tahun ini pada laga pekan kesembilan ini. Melainkan dia tetap menjadi penyalur aspirasi semua bola dari belakang ke depan. Sosok pengangkut air sekaligus pekerja keras di skuad Flick.
Selama 63 menitnya di lapangan, Pedri mencatatkan 85 persen akurasi umpan dengan 10 kali umpannya mengarah ke kotak penalti lawan. Mendapatkan 77 sentuhan ditambah dua kali tekel krusial serta tujuh pemulihan bola di lini tengah.
Ketergantungan Barca dan Flick terhadap Pedri sebagai maestro lini tengah sangat terlihat selama ini. Patutnya pemain bernomor punggung delapan ini mendapatkan beberapa kali waktu istirahat sebelum menjalani duel El Clasico akhir pekan depan.
Ronald Araujo Menyelamatkan Kebuntuan Ide Hansi Flick
Meskipun Girona bisa dan memang seharusnya mendapatkan pujian atas cara mereka menunjukkan performa terbaiknya ketika menghadapi Barca, karena membuat frustasi lini serang hingga Flick yang pertandingan ini kurang inovatif.
Lima pemain bertahan Blanquivermells menjadi benteng kokoh yang gagal ditembus, mulai dari sosok veteran Daley Blind yang didukung, Arnau Martinez dan Vitor Reis, serta Hugo Ricon dan Alex Moreno menjadi tembok yang runtuh dimenit-menit akhir.
Cedera tak bisa disalahkan begitu saja mengingat Blaugrana masih memiliki banyak bakat yang masih sehat. Kebuntuan ide sang juru taktik asal Jerman itu membuatnya melakukan protes keras yang berujung diusir dari lapangan.
Pada akhirnya, Ronald Araujo yang baru di lapangan selama 11 menit membawa tim ke puncak klasemen dengan penyelesaian apiknya setelah menerima umpan dari De Jong. Kemenangan berharga ini patut diapresiasi setinggi-tingginya.
Namun, sekali lagi, permainan Flick sudah dengan mudah dibaca lawan, apalagi ini level domestik ketika melawan Girona, bukan tim ibu kota seperti Atletico Madrid dan Real Madrid ataupun, raksasa Eropa lainnya.
Evaluasi harus segera dilakukan, mengingat beberapa pemain penting telah kembali untuk membangkitkan performa Barca lebih solid seperti apa yang mereka tunjukkan sepanjang musim lalu.