← Beranda
Enzo Maresca Akui Marah saat Chelsea Tertinggal dari Lincoln City, tapi Tetap Pasang Badan untuk Jorgensen
Alvin Fahrizal BayyuniKamis, 25 September 2025 | 14.19 WIB
Enzo Maresca akui marah pada Jorgensen. (dok. Chelsea)

JawaPos.com-Chelsea lolos ke babak berikutnya Piala Liga Inggris (Carabao Cup) usai menumbangkan Lincoln City dengan skor tipis 2-1, Selasa (23/9) malam waktu setempat. Namun, kemenangan itu tidak datang dengan mudah.

Sang pelatih, Enzo Maresca, secara jujur mengakui dirinya sempat marah besar saat jeda babak pertama karena The Blues tampil mengecewakan dan tertinggal lebih dulu.

Di laga yang berlangsung di Sincil Bank, Chelsea yang turun dengan beberapa pemain rotasi harus kebobolan lebih dulu lewat gol Rob Street pada menit ke-42. Gol tersebut membuat Lincoln City, klub kasta ketiga Liga Inggris, sempat bermimpi bisa membuat kejutan.

Chelsea yang berstatus juara dunia justru terlihat kesulitan membongkar pertahanan lawan di babak pertama. Meski demikian, hanya butuh lima menit di awal babak kedua untuk mengubah jalannya pertandingan.

Tyrique George membuka harapan dengan gol indahnya, lalu Facundo Buonanotte tampil tenang menuntaskan peluang untuk membawa Chelsea berbalik unggul 2-1. Keunggulan itu akhirnya bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Melansir dari Sports Mole, kemenangan ini terasa penting bagi Chelsea. Pasalnya, mereka sebelumnya gagal menang dalam tiga laga terakhir di semua kompetisi. Hasil positif kontra Lincoln ini setidaknya menjadi suntikan moral, meski secara permainan masih jauh dari kata memuaskan.

Maresca dalam konferensi pers seusai laga menyebut dirinya tidak bisa menyembunyikan rasa marah saat jeda babak pertama.

"Saya benar-benar marah, karena kami sudah mempersiapkan laga dengan skenario yang ternyata persis terjadi di babak pertama," ungkap Maresca, dikutip dari laporan football.london.

Menurut Maresca, masalah utama di babak pertama bukan semata soal taktik, melainkan keinginan dan pengalaman bertanding.

"Jamie Gittens belum pernah bermain di laga seperti ini, begitu juga dengan Jorrel. Jadi, ini bukan hanya tentang kemampuan, tapi juga keinginan untuk berjuang lebih," tambah dia.

Namun, kemarahan Maresca di ruang ganti justru menjadi pemicu perubahan sikap anak asuhnya di babak kedua. Intensitas permainan meningkat, serangan lebih tajam, dan akhirnya Chelsea mampu menguasai pertandingan.

Situasi itu membuktikan bagaimana pengalaman menghadapi tim dari kasta bawah bisa menjadi pelajaran berharga bagi skuad muda The Blues. Selain membahas penampilan tim secara umum, Maresca juga memberikan pembelaan terhadap kiper Filip Jorgensen.

Pemain asal Denmark itu tampil tidak meyakinkan di laga ini, terutama saat menghadapi lemparan jauh dan umpan silang ke kotak penalti. Beberapa kali aksinya membuat jantung fans Chelsea berdebar, hingga muncul keraguan apakah dia layak mendapat menit bermain lebih.

Namun, Maresca menegaskan kondisi itu bukan kesalahan Jorgensen semata.

"Saya tidak tahu berapa banyak bola yang mereka masukkan ke kotak penalti malam ini. Jujur saja, itu tidak mudah untuk kiper mana pun," kata pelatih asal Italia itu.

Dia menambahkan bahwa Lincoln memang menerapkan taktik untuk mengerumuni kiper lawan, sesuatu yang kerap membuat situasi jadi sulit.

"Ini adalah laga pertama Filip musim ini. Tidak mudah langsung tampil maksimal di situasi seperti itu," tegas Maresca.

Dengan kata lain, dia ingin agar publik tidak buru-buru menghakimi sang kiper hanya karena satu pertandingan. Maresca juga mengingatkan bahwa kesalahan semacam ini sudah pernah terjadi sebelumnya.

Dia menyinggung momen saat Chelsea kebobolan melawan Brentford lewat lemparan ke dalam pada menit akhir, yang juga menimbulkan sorotan terhadap kelemahan tim dalam menghadapi bola mati.

Menurut dia, itu adalah pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Kemenangan atas Lincoln pun menjadi refleksi penting sebelum Chelsea menghadapi jadwal padat.

Setelah tiga laga tandang beruntun, The Blues kini kembali ke Stamford Bridge untuk tiga pertandingan kandang secara beruntun. Lawannya pun tidak bisa dianggap remeh.

Brighton & Hove Albion dan Liverpool sudah menunggu di Premier League, sementara di antara keduanya ada laga menarik menghadapi Benfica yang kini dilatih Jose Mourinho, mantan pelatih legendaris Chelsea.

Bagi Maresca, pengalaman di Piala Liga ini bisa menjadi bekal berharga, khususnya bagi para pemain muda yang baru merasakan atmosfer pertandingan kompetitif.

"Jika laga berikutnya di Carabao Cup menghadapi tim League One atau League Two di kandang mereka, pengalaman malam ini akan sangat membantu," ucap Maresca.

Dengan rotasi yang dia lakukan, Maresca juga bisa memberi waktu istirahat bagi beberapa pemain inti seperti Tosin Adarabioyo, Reece James, Moises Caicedo, hingga Joao Pedro. Mereka sama sekali tidak diturunkan, baik sebagai pemain cadangan maupun sekadar dibawa ke stadion.

Hal ini menunjukkan bahwa prioritas utama Chelsea tetap ada di Premier League, meski Piala Liga juga tidak diabaikan. Meski tidak tampil memukau, kemenangan tipis atas Lincoln City tetap memberi Chelsea tiket ke babak berikutnya.

Lebih dari itu, laga ini memperlihatkan bahwa Maresca tidak segan menunjukkan emosi demi membangkitkan semangat tim, sekaligus memberi dukungan penuh kepada pemainnya yang sedang kesulitan. Kombinasi amarah dan pembelaan ini menunjukkan sisi humanis seorang pelatih yang ingin timnya tumbuh bersama, bukan hanya sekadar mengejar hasil.

Kini, ujian lebih berat sudah menunggu. Chelsea akan ditantang untuk mempertahankan tren positif di kandang, sekaligus membuktikan bahwa kemenangan atas Lincoln bukan sekadar keberuntungan, melainkan awal dari kebangkitan setelah periode sulit.

Jika mampu mengatasi lawan-lawannya di Stamford Bridge, Maresca bisa perlahan meredam kritik dan meneguhkan langkahnya sebagai nakhoda baru The Blues.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah