JawaPos.com - Malam itu di Anfield, dentuman sorak suporter Liverpool seolah menelan setiap napas Arsenal.
Gol tendangan bebas Dominik Szoboszlai yang brilian menjadi satu-satunya pembeda dalam laga yang ketat. Namun lebih dari sekadar hasil, pertandingan ini menyoroti persoalan lama yang belum terselesaikan: kreativitas lini serang The Gunners.
Jamie Carragher, Roy Keane, dan Theo Walcott menjadi suara paling lantang mengkritisi permainan menyerang Arsenal.
Bagi mereka, tak banyak yang berubah dari musim lalu, meski Mikel Arteta sudah mencoba menyegarkan skuad dengan beberapa tambahan nama besar.
"Sejak musim lalu, Arsenal perlu sedikit berubah, menjadi lebih proaktif dengan bola," ujar Carragher dalam analisis pasca pertandingan.
Ia menyoroti bagaimana kedatangan Martin Zubimendi, Eberechi Eze, dan Viktor Gyökeres belum memberikan dampak signifikan pada kreativitas serangan.
"Hanya ada tiga pertandingan sejauh ini, tetapi dalam dua laga tandang, tidak ada yang berubah," tambahnya.
Terlalu Bergantung pada Bola Mati
Carragher menilai Arsenal terlalu mengandalkan bola mati. Dalam permainan terbuka, mereka jarang menciptakan peluang bersih.
"Bagi saya, mereka adalah salah satu tim terbaik di Eropa dalam hal pertahanan," kata Carragher lagi.
"Tetapi jika bicara menyerang, mereka butuh lebih dari sekadar variasi set piece."
Komentar itu mengundang diskusi lebih luas di studio. Roy Keane, dengan gaya blak-blakannya, menyebut serangan Arsenal terasa "robotik". Baginya, permainan The Gunners sering kali terlalu terstruktur dan minim improvisasi.
"Saya merasa Arsenal, mirip seperti saat di Old Trafford, permainan menyerang mereka kurang bagus. Mereka kurang tajam, mereka perlu bermain lebih baik," ucap Keane.
"Bagus kalau punya rekor bertahan yang kokoh, bagus juga jika jago bola mati. Tapi ketika bertemu Liverpool yang bertahan dengan baik, itu tidak cukup," tambahnya.
Keane menekankan bahwa tim juara harus memiliki elemen kejutan dalam menyerang.
"Anda melihat mereka mengejar gol, tapi semuanya terlihat seperti dijalankan oleh mesin tanpa spontanitas. Mereka harus menemukan sesuatu yang lain."
Di lain sisi Theo Walcott, mantan bintang Arsenal, ikut menambahkan perspektifnya. Menurutnya, masalah bukan hanya pada kreativitas, tetapi juga tempo serangan.
"Ada momen-momen di mana Arsenal terlihat terlalu terburu-buru. Seolah mereka ingin cepat menyelesaikan semuanya, tapi tanpa rencana yang jelas," ungkapnya.
Di tengah kritik terhadap Arsenal, jangan lupakan satu momen magis dari pertandingan tersebut: tendangan bebas Szoboszlai. Sang gelandang Hungaria melengkungkan bola dengan presisi sempurna, membuat David Raya tak berkutik.
"Saya hanya fokus pada kontak bola dan sudutnya," kata Szoboszlai usai pertandingan. "Melihat bola bersarang di pojok gawang, rasanya luar biasa."
Pertanyaannya kini: apakah Arsenal akan tetap bersikukuh dengan struktur permainan yang sama atau mencoba menghadirkan kejutan baru di lini serang?
Jika kritik dari Carragher, Keane, dan Walcott bisa menjadi cermin, maka Mikel Arteta perlu menemukan keseimbangan antara disiplin taktik dan kebebasan kreatif.