JawaPos.com–Stigma negatif telah hadir ketika di era awal kepelatihan Arne Slot menggantikan Jurgen Klopp di ruang ganti Liverpool. Bagaimana mungkin pelatih yang relatif kurang berpengalaman dari Eredivisie menggantikan juru taktik jenius di Anfield?
Ketakutan itu sedikit demi sedikit mereda selama musim debut pelatih asal Belanda itu di klub Merseyside. Liverpool berhasil memastikan gelar Liga Inggris musim 2024/2025 di pekan ke-34.
Arne Slot bergabung dengan kelompok empat pelatih asing terhormat lainnya yang berhasil membawa klub yang di asuhnya juara di Liga Inggris pada tahun pertamanya. Namun, keberhasilan Slot tidak akan mungkin terjadi tanpa fondasi yang dibangun pendahulunya. Klopp, satu-satunya pelatih Liverpool yang pernah memenangkan Liga Inggris yang mengesankan selama masa jabatannya bersama The Reds.
Membandingkan dua pelatih yang sangat berbeda dan perjalanan mereka menuju kejayaan Liga Inggris bukan hal mudah. Hari ini mungkin waktu yang tepat menyejajarkan pencapaian juara liga domestik yang sangat mengesankan untuk klub besar seperti Liverpool.
Kedalaman Skuad
Mungkin akan sulit untuk bisa memenangkan Liga Inggris tanpa kehadiran pemain yang impresif, itu sudah jelas. Kedua skuad peraih gelar Liverpool dipenuhi para bintang, dengan banyak pemain yang saling melengkapi.
Faktanya, delapan pemain yang tampil di liga selama musim juara 2019/2020 masih ada di dalam skuad juara tahun 2024/2025 saat ini. Termasuk sebagian besar pemain bertahan dan Mohamed Salah yang tak tergantikan selama masa baktinya di Anfield.
Roberto Firmino dan Sadio Mane merupakan bagian penting dalam keberhasilan Liverpool meraih gelar Liga Inggris di era kepelatihan Klopp. Mereka kemudian digantikan oleh Diogo Jota, Luis Diaz, Cody Gakpo, Darwin Nunez, dan Federico Chiesa.
Liverpool kini memiliki lebih banyak variasi dan kedalaman di barisan lini depan mereka. Meski tidak lagi menjadi raksasa penyerang seperti saat trio striker legendaris Firmino, Mane, dan Salah.
Lini tengah Liverpool tentu lebih bertalenta pada 2024/2025. Diisi pemain-pemain berteknik tinggi, bukan hanya pekerja keras. Tidak ada lagi ruang bagi pemain-pemain seperti Jordan Henderson dan James Milner, kecuali Wataru Endo yang kurang dikenal.
Jajaran pemain-pemain sekelas Alexis Mac Allister, Ryan Gravenberch, dan Dominik Szoboszlai, yang tampil sebagai gantinya menunjukkan perbedaan bagaimana lini tengah era Arne Slot sangat superior musim ini.
Sedangkan di lini pertahanan relatif hampir sama, Ibrahima Konate telah menggantikan Joel Matip dan Alisson masih bertahan di bawah mistar gawang. Kiper asal Brasil ini menjadi tulang punggung di dua era pencapaian gelar, meski para bek Liverpool 2019/2020 tampil lebih baik.
Secara keseluruhan, skuad Liverpool saat ini lebih ahli secara teknis dan memiliki stamina dan tingkat kerja yang sama saat tidak menguasai bola. The Reds era Slot sekarang memiliki lebih banyak senjata yang dapat digunakan daripada lima tahun lalu, meskipun mereka adalah kekuatan yang kurang dominan seperti era Klopp.
Gaya Bermain
Liverpool terkenal dengan gaya bermain berintensitas tinggi mereka di bawah Klopp. Pelatih asal Jerman yang bersemangat itu menuntut energi yang sama dari para pemain di lapangan, yang dia terima dengan berlimpah.
Mereka membuat bek dan gelandang lawan melakukan kesalahan secara berkala. Ketika tekanan berjalan dengan baik dan berhasil dilewati, lini pertahanan pimpinan van Dijk yang agresif siap untuk melumpuhkan penyerang lawan.
Gaya bermain tersebut cepat menghasilkan keajaiban, dengan setiap lini berfungsi sebagai pemain perebut bola yang sempurna dalam mesin yang harus kuat. Lawan tidak dapat menandingi tingkat kerja atau kualitas mereka, yang keduanya tidak mengendur sama sekali sepanjang kampanye mengejutkan merebut gelar Liga Inggris.
Namun, seperti yang sering direnungkan, Liverpool telah mengadopsi gaya bermain yang jauh berbeda dan lebih terukur di bawah tangan dingin Slot. Pelatih asal Belanda itu adalah pengagum berat Pep Guardiola, sesuatu yang semakin jelas terlihat seiring berjalannya musim.
The Reds masih bekerja tanpa lelah saat menguasai bola dan kehilangan bola, memasang jebakan di seluruh lapangan. Tapi kontrol sekarang jauh lebih penting daripada harus menggunakan otot dan tenaga sepanjang 90 menit.
Tim Slot termasuk sangat jarang menyerang lawan mereka dengan cara yang sama tetapi mereka masih mampu menghancurkan pertahanan musuh, meskipun dengan penguasaan bola dan ketertiban daripada ledakan murni dari etos kerja para pemain.
Pemain Kunci
Banyak pemain yang diandalkan Liverpool peraih gelar musim 2019/2020 masih menjadi pembeda musim 2024/2025. Alisson terus memberikan intervensi krusial. Van Dijk tampil menantang di jantung pertahanan.
Masih ada nama seperti Trent Alexander-Arnold menjadi penentu arah serangan dengan distribusi bola yang memukau. Namun, Salah yang terbukti paling penting bagi keberhasilan Liverpool di bawah asuhan Slot.
Pemain timnas Mesir itu telah memecahkan banyak rekor sambil menghasilkan angka yang mengerdilkan kontribusi golnya sebanyak 29 kali selama kemenangan gelar pertama Liverpool bersama Klopp dan hampir sendirian membawa The Reds meraih mahkota Inggris tersebut.
Jika bukan karena kejeniusannya, kampanye itu bisa jadi sangat berbeda jauh. Tak bisa diragukan lagi bahwa Salah sudah menjadi bagian dari pemain legendaris The Reds.
Tentu saja, dia mendapat bantuan pada musim 2019/2020. Mane dan Firmino memberikan 42 kontribusi gol di liga secara kolektif, meringankan beban Salah yang berat.
Enam pemain lain menghasilkan empat gol atau lebih untuk membantu, tetapi kurang lebih tiga serangkai penyeranglah yang bertanggung jawab penuh atas hasil sempurna serangan Liverpool musim itu.
Trio Liverpool yang tak kenal lelah di lini depan membuat mereka lebih konservatif di lini tengah, menggunakan pemain seperti Henderson, Fabinho, dan Georginio Wijnaldum sebagai tameng bagi empat bek.
Dengan Ryan Gravenberch dan Alexis Mac Allister di lini tengah, lini belakang Slot yang terdiri atas empat orang kurang mendapat perlindungan di musim ini. Sehingga tampak pertahanan The Reds kurang kuat dibanding tahun pertama mereka juara di era modern ini.
Pesaing Penantang Gelar
Manchester City telah menjadi kekuatan dominan dalam sepak bola Inggris sejak kedatangan Guardiola sebagai juru taktik. Tapi dua musim yang mengecewakan bagi The Citizens telah membuka pintu bagi kesuksesan Liverpool dalam delapan musim terakhir.
City adalah tim yang harus dikalahkan skuad Klopp pada 2019/2020 tetapi Liverpool melenggang melewati para bintang Guardiola yang kelelahan tanpa banyak kesulitan. The Reds finis 18 poin di atas musuh bebuyutan mereka yang merupakan juara bertahan.
Sementara Manchester United yang berada di posisi ketiga tertinggal 33 poin dari pasukan Klopp. Bicara tentang dominasi, musim 2019/2020 adalah tahun sempurna bagi pendukung setia The Reds.
Lagi-lagi, Liverpool juga memanfaatkan performa buruk City musim ini, tetapi mereka harus mengatasi penantang lain. Pada kesempatan ini, Arsenal adalah tim yang paling dekat dengan mereka.
The Reds sudah lama berada di posisi terdepan sebelum memastikan gelar juara tepat pada pekan ke-34, The Gunners selalu ada dalam benak mereka di peringkat kedua. Harus diakui, Arsenal, yang menjadi runner-up selama dua musim terakhir, tampil di bawah performa terbaik mereka musim ini, sehingga memperlebar jarak antara mereka dan posisi puncak.
Namun, Liverpool hanya mampu mengalahkan apa yang ada di depan mereka dan The Reds asuhan Slot melakukannya dengan sangat baik di tahun 2024/2025.
Hasil
Liverpool tidak diragukan lagi lebih kuat di bawah Klopp daripada saat mereka masih di bawah asuhan Slot. Mereka mengumpulkan 99 poin pada 2019/2020 dan hanya kalah dalam tiga pertandingan Liga Inggris, dua di antaranya terjadi setelah gelar juara dipastikan.
Mereka memenangkan 26 dari 27 pertandingan pembukaan dan hampir meraih trofi sebelum Natal dan tahun berganti.
Meski tim Slot tampil luar biasa musim ini dan masih memiliki pertandingan sisa yang harus dimainkan, mereka belum begitu dominan seperti era Klopp. Bahkan jika Liverpool memenangkan semua pertandingan yang tersisa, mereka hanya dapat mengumpulkan 94 poin total dari 38 laga dan keberhasilan mereka kali ini tentu saja dianggap kurang meyakinkan.
Namun, itu tidak terlalu penting. Yang penting bukanlah bagaimana proses memenangkan gelar, tetapi bagaimana mendapatkannya dalam musim ini. Liverpool memiliki bonus tambahan untuk merayakan kemenangan musim ini di hadapan pendukungnya sendiri di Anfield, hal yang tidak dapat mereka lakukan selama musim 2019/2020 yang dilanda virus corona. Itu adalah perasaan yang tak ternilai.