← Beranda
Arrigo Sacchi Guru Besar Sepak Bola dari Fusignano
Miftakhul F.SKamis, 26 Januari 2017 | 18.43 WIB
Arrigo Sacchi

Antonio Conte di Chelsea, Carlo Ancelotti di Bayern Muenchen, dan Zinedine Zidane di Real Madrid membawa klubnya di liga masing-masing ke puncak klasemen sementara saat ini. Mereka memiliki guru besar yang sama: Arrigo Sacchi.





OBSESI Arrigo Sacchi membicarakan taktik sepak bola terkadang menyebalkan. Sampai-sampai para pemainnya dalam skuad timnas Italia pada Piala Dunia 1994 kesal. Bagaimana tidak, ketika ide akan taktik keluar dari kepalanya pada malam hari, dia segera mengetuk pintu kamar para pemain untuk membicarakannya.



Padahal, para pemain sudah lelah setelah berlatih pada pagi dan sore hari. Berdasar penuturan Alessandro Costacurta kepada Sky Sports, beberapa pemain bahkan berpura-pura tidur begitu kebiasaan Sacchi kumat. Tetapi, pria kelahiran Fusignano itu tidak peduli. Dia berteriak di lorong agar didengar para pemain.



Saking bosannya para pemain dengan Sacchi yang tidak henti-henti berbicara soal taktik, jarang ada yang mau duduk di sampingnya kala waktu makan. Tetapi, ada seorang anak muda, muka baru di timnas Italia, yang berani duduk di samping Sacchi dan menemani mengobrol soal taktik.



Ya, anak muda itu bernama Antonio Conte. Dengan setia, dia menjadi pemain yang paling sering menemani Sacchi. Meskipun, sepanjang turnamen di mana Italia keluar sebagai runner-up lantaran kalah adu penalti dengan Brasil di final itu Conte hanya sekali bermain inti dan sekali menjadi pengganti.



Sebagaimana ditulis Twenty Minute Reads, atas keberanian itulah pelatih Chelsea tersebut mendapat ilmu paling banyak dari Sacchi. Meskipun, dalam level klub, Conte berada di era keemasan Marcelo Lippi bersama Juventus. Tetapi, secara ideologis, dia merasa lebih dekat kepada Sacchi.



Sacchi dalam Inverting The Pyramid karya Jonathan Wilson dikenal sebagai sosok yang merevolusi wajah sepak bola pada akhir dekade 1980-an. Pada era tersebut, hampir semua klub Italia belum beranjak dari catenaccio warisan Gipo Viani, Nereo Rocco, dan Helenio Herrera.



Sacchi menawarkan filosofi yang berbeda. Pria yang pernah menjadi tukang sepatu itu memakai zonal marking kepada lawan-lawannya. Semua pemain harus bertanggung jawab ketika menyerang maupun bertahan. Skema 4-4-2 milik Sacchi sangat cair, fleksibel, dan menggunakan garis pertahanan tinggi.



Dia datang di AC Milan pada 1987 diterima dengan penuh keraguan. Penyebabnya, dia tidak punya latar belakang sepak bola profesional layaknya pendahulunya, pemain legenda Milan dan Swedia Nils Liedholm. Ternyata Sacchi yang sebelumnya melatih Parma menjawab sikap pesimistis dengan prestasi.



’’Saya tidak pernah tahu kalau ingin menjadi joki (balap kuda) harus menjadi kuda terlebih dahulu,’’ kata Sacchi yang kemudian menjadi kutipan paling terkenal terkait dirinya.



Mengidolakan permainan Honved Budapest era 1950-an, Belanda era 1970-an, dan Brasil era 1970-an, Sacchi melahirkan the dream team bersama Milan.



Satu gelar scudetto 1987–1988, European Cup (nama lawas Liga Champions) 1988–1989, dan 1989–1990, serta Intercontinental Cup (nama lama Piala Dunia Antarklub) 1989 dan 1990 adalah puncak-puncak kejayaan Sacchi. Trio Belanda Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard adalah pilar sukses Sacchi.



’’Saya selalu meminta pemain saya, ketika kami menguasai bola, ada lima pemain di sekitarnya. Kemudian, ada dua pemain yang melebar; satu di sisi kanan dan satu lagi di sisi kiri,’’ jelas Sacchi.



Dengan gaya ofensif tersebut, dia memang ingin menciptakan sepak bola yang menyenangkan. Bukan hanya untuk pemain, melainkan juga penonton. Sepak bola yang enak ditonton akan memberikan kebahagian bagi yang menyaksikan.



Salah satu metode latihan Sacchi yang paling terkenal adalah permainan bayangan. Para pemain diminta untuk melakukan permainan imajinasi di lapangan tanpa lawan, juga tanpa bola. Namun, mereka seolah-olah sedang menghadapi lawan.



Dalam permainan bayangan itu, Sacchi bisa mengevaluasi detail-detail pemainnya yang kurang. Sacchi terobsesi akan detail. Sebab, satu kesalahan kecil di lapangan bisa berdampak besar bagi keseluruhan permainan.



Nah, sama halnya dengan Sacchi ketika menjadi pelatih, Conte adalah sosok yang juga gila bola. Istri Conte, Elisabetta, sering mendapati suaminya tertidur di depan televisi ketika mencermati video permainan lawan-lawannya. Sehari bisa 15–16 jam hidup Conte didedikasikan buat sepak bola.



Andrea Pirlo yang pernah menjadi anak buah Conte di Juventus mengatakan, Conte adalah sosok yang sangat peduli akan detail. Karena itu, sesi latihan pun akan divideokan oleh Conte sehingga memperoleh kesalahan dasar anak didiknya. ’’Alasannya, Conte alergi kekalahan,’’ tutur Pirlo.



Conte bisa dengan sangat marah kepada anak asuhnya ketika kalah. Kalau sedang ’’kumat’’, kata-kata kasar dan intimidatif sering keluar dari mulut Conte. Tujuannya, anak buahnya termotivasi dan terlecut menang. ’’Saya tidak punya bintang dalam tim. Karena itu, semua harus bekerja keras,’’ terangnya.



Juventus era Conte mengembangkan pola permainan yang cair, efektif, juga agresif. Lihat bagaimana Juventus finis dengan perolehan poin 102 pada musim 2013–2014. Pencapaian itu di atas Real Madrid pada musim 2011–2012 yang finis dengan meraih 100 poin. Di tangan Conte, klub berjuluk Nyonya Tua itu memainkan 4-2-4. Kemudian, skema tersebut diubah menjadi 4-3-3, lalu 3-5-2. Dengan pola terakhir, titik berat serangan bertumpu kepada kelincahan winger di dua sisi.



Melihat gaya Chelsea yang sekarang, pola 3-4-3 dan permainan sepak bola menyerang tidak begitu saja ’’ditemukan’’ Conte musim ini. Pada awal musim, Conte menjajal skema 4-2-3-1 sampai dua bulan. Baru kemudian, pada Oktober, Conte mematenkan 3-4-3.



Lain Conte, lain pula Zinedine Zidane. Zidane merupakan cucu murid Sacchi. Zidane belajar dari murid Sacchi, Carlo Ancelotti. Zidane sebagaimana diberitakan AS sama dengan gurunya, Ancelotti. Yakni, punya kebiasaan mencatat detail untuk koreksi.



Meski Zidane tidak seperti Conte yang harus bertindak gila agar dihormati pemainnya, Zidane punya aura besar seperti Sacchi dan Ancelotti. Sebagai pemain yang sudah memenangi semuanya, Piala Dunia, Euro, Liga Champions, dan pemain terbaik dunia, sulit buat pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale tidak hormat kepadanya. (dra/c4/ham)


EDITOR: Miftakhul F.S