← Beranda
Sajak: Kehangatan-Kehangatan yang Berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok
Narendra Brahmantyo K.R.Minggu, 29 Desember 2024 | 14.41 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Kehangatan-Kehangatan yang Berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok


/1620/

dan kami tak lagi mendiami kehangatan

setelah tidur kami terusik

oleh suara kapal berisi karung-karung membusung

yang konon, dibawanya jauh dari negeri penghujung

 


dahulu, ayah dan ibu pernah mengisahkanku:

di negeri Nederland, negeri penghujung itu,

para jenderal menginginkan banyak muatan berisi kehangatan-kehangatan

sebab tidur panjang mereka menjelma kapal yang berlabuh

tanpa membawa kelengangan-kelengangan mimpi

sepanjang tiga ratus lima puluh tahun lamanya.

meski sejatinya kalian bertumbuh dewasa

dan menemukan cara kalian bermimpi

dari hangat kalian sendiri,

tapi bagi Nederland,

mimpi adalah cerita

yang tiada mereka temui selain dari

hangat pala dan lada

 


hangat kami tentu tak hanya sekecil lumbung para rempah

sepanjang hidup,

kehangatan kami adalah kehangatan Tanjung Priok

sebagai jati diri yang melampaui kelengangan hidup dan mimpi:

ombak-ombak menjelma selimut

dan kehangatan mengangkut

beribu pasang mulut

jangkar kapal bercabut, mimpi-mimpi dibawanya melaut

menuju maut

 


tak seperti Nederland, entah untuk apa kehangatan rempah pawah

yang dikehendaki sebagai pertaruhan itu

selain hendak dibawanya pulang ke ufuk barat

tempat mereka kelak membantai musim padi

sehingga dari Hindia Belanda,

kita saksikan matahari telah terkubur

hidup-hidup

 


/2024/

kuingat lagi, ayah dan ibu kami pernah bercerita:

dan kalian semua berada dalam tidur panjang,

Tuhan menempatkan ombak-ombak

sebagai selimut

sehingga kalian dapat terlelap

mengantarkan mimpi dengan kapal-kapal feri

dari Pelabuhan Bengkulu

lalu, ketika kami menanyakan

perihal bagaimana kondisi Nederland di sini bertahun kemudian,

ayah dan ibu berkata:

kalian yang mengibaskan selimut itu

sehingga membuat kapal-kapal mereka terlempar ke barat

satu per satu

 


Jogjakarta, 10 November 2024

 

 Baca Juga: Dari Pameran Fosil Asli Manusia Purba di Museum Gajah, Fadli Zon Tegaskan Indonesia Adalah Rumah Homo Erectus

 

Tanjung Priok dan Bahasa-Bahasa Kesunyian yang Berlabuh dari Negeri Asal

 
/1928/

di kantor pos,

kesunyian kami telah sampai

sebagai surat masai bunga rampai

ia lebih dulu membawa kesedihan kami berlabuh ke Nederland.

setelah lama menunggu kapal yang kautumpangi terisi penuh oleh dirimu

merelakan pergi dari Tanjung Priok

 


tisu di tangan adalah tempat mata kami berpegangan

di sana kesunyian menciptakan bising buat air mata

perihal tangisan yang ditinggal kesedihan

melambai seolah mengucap selamat tinggal

sedang, kesedihan justru tak ikut naik bersamamu menuju kapal

kau meminta kami merawatnya baik-baik di bibir Tanjung Priok

 


berhari-hari, ketika kami datang kembali ke pelabuhan untuk merawat kesedihanmu

kuingat di Tanjung Priok,

kesunyian pernah dirasakan pada bangsa Portugis

kala hendak dibawanya mantra Indonesia ke negeri mereka:

mantra yang menghuni segala hangat pala dan lada

pula pedih sewangi aroma cengkih

tempat mesa ditampahnya mantra-mantra sebagai rempah

pula janela diaturnya gembur ladang-ladangnya

yang suatu kala, kami mengenalnya sebagai ’’meja”, tempat kepedihan ditampah

dan ’’jendela”, tempat kami menyaksikan kesetiaan tumbuh subur dari dalam rumah

kelak kami tadah

 


sedang pada bangsa Tiongkok, kesunyian ialah jiwa

yang mereka kenakan sepanjang usia Batavia

tempat mereka menjaga panjang ukuran tangan

agar pakaian senantiasa dapat dikenakan

menutupi perjabatan denganku dan dengan Nederland

 


di penghujung,

telah kami terima ho-ki dan ki-chwa sebagai arah mata angin

terbit dan tenggelamnya nasib palsu bagi para pribumi

timur yang terbit sebagai ’’hoki”,

akan tenggelam sebagai barat sebagai ’’kecewa”

 


dan bagi bangsa Arab, kesunyian adalah keyakinan

yang tak ganti kami kenakan

ia adalah kamus besar bahasa kami

merawi khabar, hikmah, pula ikhlash

sebagai tangis syukur

yang melembapkan wajahmu

selayak tanah-tanah negeri subur

 


/2024/

dan kini di Tanjung Priok,

telah kami yakini bangsa Portugis, Tiongkok, pula Arab

mencipta bahasa kesunyian buat bangsa kami

lewat mantra-mantra, kekecewaan, dan keyakinan

 

namun, seseorang yang teringat kisah kakeknya mengatakan:

dulu sepulangnya dari Nederland,

beliau membawa bahasa kesunyian

yang menghimpun mantra, kecewa, dan keyakinan

ke dalam bahasa penjajahan.

di negeri ini beliau yakini, kesunyian adalah bahasa-bahasa sulit

sebagai jati diri

perjudian duit

 


Jogjakarta, 3 Oktober 2024

EDITOR: Ilham Safutra