Kehangatan-Kehangatan yang Berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok
/1620/
dan kami tak lagi mendiami kehangatan
setelah tidur kami terusik
oleh suara kapal berisi karung-karung membusung
yang konon, dibawanya jauh dari negeri penghujung
dahulu, ayah dan ibu pernah mengisahkanku:
di negeri Nederland, negeri penghujung itu,
para jenderal menginginkan banyak muatan berisi kehangatan-kehangatan
sebab tidur panjang mereka menjelma kapal yang berlabuh
tanpa membawa kelengangan-kelengangan mimpi
sepanjang tiga ratus lima puluh tahun lamanya.
meski sejatinya kalian bertumbuh dewasa
dan menemukan cara kalian bermimpi
dari hangat kalian sendiri,
tapi bagi Nederland,
mimpi adalah cerita
yang tiada mereka temui selain dari
hangat pala dan lada
hangat kami tentu tak hanya sekecil lumbung para rempah
sepanjang hidup,
kehangatan kami adalah kehangatan Tanjung Priok
sebagai jati diri yang melampaui kelengangan hidup dan mimpi:
ombak-ombak menjelma selimut
dan kehangatan mengangkut
beribu pasang mulut
jangkar kapal bercabut, mimpi-mimpi dibawanya melaut
menuju maut
tak seperti Nederland, entah untuk apa kehangatan rempah pawah
yang dikehendaki sebagai pertaruhan itu
selain hendak dibawanya pulang ke ufuk barat
tempat mereka kelak membantai musim padi
sehingga dari Hindia Belanda,
kita saksikan matahari telah terkubur
hidup-hidup
/2024/
kuingat lagi, ayah dan ibu kami pernah bercerita:
dan kalian semua berada dalam tidur panjang,
Tuhan menempatkan ombak-ombak
sebagai selimut
sehingga kalian dapat terlelap
mengantarkan mimpi dengan kapal-kapal feri
dari Pelabuhan Bengkulu
lalu, ketika kami menanyakan
perihal bagaimana kondisi Nederland di sini bertahun kemudian,
ayah dan ibu berkata:
kalian yang mengibaskan selimut itu
sehingga membuat kapal-kapal mereka terlempar ke barat
satu per satu
Jogjakarta, 10 November 2024
Tanjung Priok dan Bahasa-Bahasa Kesunyian yang Berlabuh dari Negeri Asal
/1928/
di kantor pos,
kesunyian kami telah sampai
sebagai surat masai bunga rampai
ia lebih dulu membawa kesedihan kami berlabuh ke Nederland.
setelah lama menunggu kapal yang kautumpangi terisi penuh oleh dirimu
merelakan pergi dari Tanjung Priok
tisu di tangan adalah tempat mata kami berpegangan
di sana kesunyian menciptakan bising buat air mata
perihal tangisan yang ditinggal kesedihan
melambai seolah mengucap selamat tinggal
sedang, kesedihan justru tak ikut naik bersamamu menuju kapal
kau meminta kami merawatnya baik-baik di bibir Tanjung Priok
berhari-hari, ketika kami datang kembali ke pelabuhan untuk merawat kesedihanmu
kuingat di Tanjung Priok,
kesunyian pernah dirasakan pada bangsa Portugis
kala hendak dibawanya mantra Indonesia ke negeri mereka:
mantra yang menghuni segala hangat pala dan lada
pula pedih sewangi aroma cengkih
tempat mesa ditampahnya mantra-mantra sebagai rempah
pula janela diaturnya gembur ladang-ladangnya
yang suatu kala, kami mengenalnya sebagai ’’meja”, tempat kepedihan ditampah
dan ’’jendela”, tempat kami menyaksikan kesetiaan tumbuh subur dari dalam rumah
kelak kami tadah
sedang pada bangsa Tiongkok, kesunyian ialah jiwa
yang mereka kenakan sepanjang usia Batavia
tempat mereka menjaga panjang ukuran tangan
agar pakaian senantiasa dapat dikenakan
menutupi perjabatan denganku dan dengan Nederland
di penghujung,
telah kami terima ho-ki dan ki-chwa sebagai arah mata angin
terbit dan tenggelamnya nasib palsu bagi para pribumi
timur yang terbit sebagai ’’hoki”,
akan tenggelam sebagai barat sebagai ’’kecewa”
dan bagi bangsa Arab, kesunyian adalah keyakinan
yang tak ganti kami kenakan
ia adalah kamus besar bahasa kami
merawi khabar, hikmah, pula ikhlash
sebagai tangis syukur
yang melembapkan wajahmu
selayak tanah-tanah negeri subur
/2024/
dan kini di Tanjung Priok,
telah kami yakini bangsa Portugis, Tiongkok, pula Arab
mencipta bahasa kesunyian buat bangsa kami
lewat mantra-mantra, kekecewaan, dan keyakinan
namun, seseorang yang teringat kisah kakeknya mengatakan:
dulu sepulangnya dari Nederland,
beliau membawa bahasa kesunyian
yang menghimpun mantra, kecewa, dan keyakinan
ke dalam bahasa penjajahan.
di negeri ini beliau yakini, kesunyian adalah bahasa-bahasa sulit
sebagai jati diri
perjudian duit
Jogjakarta, 3 Oktober 2024