JawaPos.com - Konsultan properti, Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat permintaan terhadap rumah tapak di Jakarta dan sekitarnya (Greater Jakarta) masih relatif stabil pada paruh pertama 2026 meskipun pasar properti dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Head of Growth and Head of Strategic Consulting JLL Indonesia, Vivin Harsanto mengatakan, rumah tapak atau landed house merupakan salah satu sektor properti yang relatif tangguh dalam menghadapi siklus pasar.
“Kalau kita lihat, landed house masih populer dan merupakan salah satu sektor properti yang cukup resilient selama siklus properti naik dan turun,” kata Vivin dalam Jakarta Property Market Overview 2Q di Jakarta, Selasa (18/8).
Berdasarkan riset JLL, total permintaan rumah tapak di kawasan Greater Jakarta pada semester I 2026 mencapai sekitar 3.900 unit, sementara peluncuran baru sekitar 3.500 unit. Adapun tingkat penjualan kumulatif mencapai sekitar 90 persen.
Vivin mengatakan, salah satu perubahan yang terlihat pada pasar rumah tapak adalah pergeseran preferensi konsumen terhadap jumlah kamar tidur.
Pada semester I 2025, rumah dengan tiga kamar tidur menjadi tipe yang paling banyak diminati dengan porsi sekitar 39 persen. Namun, pada semester I 2026, rumah dengan empat kamar tidur menjadi tipe yang paling populer.
Menurut Vivin, perubahan tersebut didorong semakin lengkapnya fasilitas yang tersedia di kawasan hunian terpadu (township). "Sekarang kita melihat township sudah memiliki fasilitas yang cukup baik. Semua developer sudah mendorong fasilitas seperti komersial, fasilitas publik, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya," ujarnya.
Kelengkapan fasilitas tersebut, menurutnya, membuat kawasan township semakin menarik bagi konsumen, termasuk pembeli dari kelompok usia muda. Selain fasilitas, konektivitas dan infrastruktur kawasan juga menjadi faktor yang meningkatkan kenyamanan konsumen.
Dengan kondisi tersebut, permintaan terhadap rumah dengan tiga hingga empat kamar tidur tetap kuat meskipun luas bangunan tidak selalu besar.
Riset JLL menunjukkan bahwa sari sisi harga, permintaan rumah tapak pada semester I 2026 menunjukkan pergeseran antarsegmen.
Segmen harga Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar masih menjadi yang terbesar dengan porsi sekitar 32 persen dan mencatat pertumbuhan dibandingkan semester I 2025. Rumah dengan harga di bawah Rp 600 juta menyumbang sekitar 19 persen permintaan.
Sementara itu, segmen rumah dengan harga di atas Rp 3 miliar juga meningkat signifikan dan menyumbang sekitar 19 persen.
Di sisi lain, segmen Rp 1,3 miliar hingga Rp 2 miliar menyumbang sekitar 22 persen, sedangkan segmen Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar sekitar 9 persen. Kedua segmen tersebut mengalami pelemahan moderat.