JawaPos.com - Partai Gerindra mengapresiasi pertumbuhan ekonomi kuartal II yang mencapai 5,29 persen. Itu menunjukkan kebijakan ekonomi pemerintah tengah berada di jalur yang tepat.
Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Juru Bicara Partai Gerindra, Kamrussamad, mengatakan bahwa pertumbuhan yang tinggi menunjukkan pemerintah mampu menjaga momentum ekonomi nasional meski menghadapi tekanan global, termasuk kenaikan harga minyak dunia.
“Pertama, kebijakan ekonomi Pemerintah sudah berjalan pada jalur yang tepat, yang dibuktikan dengan keberhasilannya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh tinggi di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya eskalasi geopolitik yang mengerek harga minyak dunia,” ujar Kamrussamad dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu (8/8).
Baca Juga: Ekonomi Ditarget Tumbuh 5,4 Persen di 2026, Cek Tantangannya
Kamrussamad mengatakan, sejumlah program prioritas pemerintah turut menjadi penggerak roda ekonomi nasional.
Program tersebut antara lain Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Nelayan Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggulan.
Dari sisi fiskal, Kamrussamad menilai APBN 2026 telah berperan dalam mendorong program-program strategis pemerintah.
Hingga semester I 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN.
Pada periode yang sama, penerimaan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari pagu APBN.
Baca Juga: Daya Beli Kelas Menengah Tertekan Meski Ekonomi Tumbuh 5,29%
Dengan demikian, defisit anggaran tercatat Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ia menyebut, sejumlah program pemerintah juga disebut telah terealisasi, antara lain 84 unit Sekolah Rakyat dan 22 unit rumah sakit umum daerah (RSUD) dari target 66 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Pembangunan Sekolah Rakyat dan RSUD merupakan perwujudan amanat Pasal 34 UUD 1945, yaitu bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, serta negara bertanggung jawab atas fasilitas pelayanan kesehatan yang layak,” ujarnya.
Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia juga menunjukan daya tahan di tengah dinamika nilai tukar rupiah dan pasar modal dalam negeri.
Hal itu membuktikan bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang kuat, bukan hanya bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek.
Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen tapi Masih Menyisakan Masalah Struktural
Kamrussamad menyebut, fundamental ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor riil yang kuat, seperti konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta realisasi investasi produktif yang terus berlanjut,
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dengan kontribusi 53,32 persen terhadap PDB.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87 persen dan berkontribusi 29,36 persen terhadap PDB.
Kinerja tersebut juga sejalan dengan realisasi investasi, yang pada kuartal II 2026 mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy menurut Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Kamrussamad menilai capaian pertumbuhan ekonomi tersebut perlu dijaga untuk meredam tekanan volatilitas di pasar modal dan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Komdigi Percepat Roadmap 5G, Target Cakupan Nasional pada 2029 demi Ekonomi AI
Karena itu, sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat melalui perbaikan iklim investasi, efisiensi belanja negara, serta dorongan terhadap ekspor bernilai tambah tinggi.