← Beranda
Dino Patti Djalal Kritik Pemerintah Tak Kirim Delegasi ke Pemakaman Ayatollah Khamenei: Apakah Indonesia Takut kepada Amerika?
Rian AlfiantoSenin, 6 Juli 2026 | 20.53 WIB
Massa pelayat berkumpul di Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada awal rangkaian upacara pemakaman di Teheran, 4 Juli 2026. / Foto: (The Guardian)
 

  

JawaPos.com - Diplomat senior sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal melontarkan kritik keras terhadap sikap pemerintah Indonesia yang tidak mengirimkan delegasi resmi ke pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.

Menurutnya, keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai konsistensi politik luar negeri (Polugri) bebas aktif Indonesia, bahkan memunculkan kesan bahwa Jakarta mulai bersikap sungkan atau takut terhadap Amerika Serikat.

Dino menilai absennya delegasi resmi Indonesia menjadi sorotan karena hampir seluruh negara besar di kawasan maupun dunia Islam justru mengirimkan perwakilan tingkat tinggi untuk menghadiri prosesi penghormatan terakhir tersebut.

"Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran untuk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yang terbunuh dalam serangan militer ilegal," tulis Dino dalam pernyataannya di akun X pribadinya.

Menurut Dino, pemerintah Iran telah berupaya mengundang Indonesia melalui berbagai jalur diplomatik. Namun, undangan tersebut disebut tidak mendapatkan tanggapan, hingga akhirnya Indonesia hanya diwakili oleh Duta Besar RI untuk Iran.

"Yang saya dengar, berbagai upaya gigih Iran untuk mengundang Pemerintah Indonesia tidak mendapat tanggapan. Mereka kan juga punya harga diri, tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita. Akhirnya, yang hadir hanya Dubes RI di Teheran, yang dianggap oleh Teheran sebagai sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sebagai tamparan," ujarnya.

Dino kemudian membandingkan sikap Indonesia dengan sejumlah negara lain yang tetap mengirimkan delegasi resmi. Ia menyebut Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhstan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh, dan sejumlah negara lain mengutus perwakilan setingkat menteri, bahkan Pakistan mengirim Presiden.

Menurutnya, Indonesia justru menjadi satu-satunya negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia yang tidak mengirimkan delegasi resmi.

"Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yang absen mengirim delegasi. Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia," katanya.

Dino mempertanyakan apakah keputusan tersebut menunjukkan mulai memudarnya prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pondasi diplomasi Indonesia.

"Apakah ini berarti politik luar negeri 'bebas aktif' kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Has 'FEAR' become a factor in Indonesian foreign policy?" tulisnya.

Selain kemungkinan adanya pertimbangan politik luar negeri, Dino juga menilai persoalan tersebut bisa mencerminkan lemahnya tata kelola pengambilan keputusan diplomatik di dalam pemerintahan.

"Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan manajemen sistem politik luar negeri yang penuh masalah, sebagaimana biasanya surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yang berani mengambil keputusan," ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya masih memiliki opsi mengirimkan Wakil Menteri Luar Negeri yang membidangi urusan dunia Islam, Anis Matta. Namun menurutnya, kesempatan itu tidak dimanfaatkan.

"Paling tidak Indonesia bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta, tapi beliau justru keliling Asia Tengah untuk kunjungan yang sifatnya rutin," kata Dino.

Lebih jauh, Dino mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran memiliki hubungan diplomatik yang telah terjalin lama dan selama ini berjalan baik tanpa konflik berarti.

Karena itu, kehadiran delegasi resmi Indonesia dinilai semestinya menjadi simbol persahabatan kedua negara sekaligus menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menegakkan hukum internasional.

"Kita seakan melupakan bahwa Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dengan hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara," ucapnya.

Menurut Dino, kehadiran delegasi Indonesia juga seharusnya menjadi bentuk penegasan bahwa pembunuhan Ayatollah Khamenei merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional.

"Kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional," katanya.

Di akhir pernyataannya, Dino mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menggaungkan prinsip bebas aktif dalam pidato, tetapi juga berani menunjukkan sikap ketika menghadapi situasi internasional yang sensitif.

Baca Juga: Iran Tutup Ruang Udara Teheran Selama Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

"Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah diplomasi berprinsip, bukan diplomasi sungkan," tutup Dino.

EDITOR: Kuswandi