← Beranda
Bagaimana Luis de la Fuente Berencana Meredam Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026?
M Shofyan Dwi KurniawanMinggu, 19 Juli 2026 | 22.27 WIB
Timnas Spanyol harus menghentikan Lionel Messi pada final Piala Dunia 2026. (ig @leomessi) 

 

JawaPos.com - Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, timnas Spanyol dan Argentina, di Stadion MetLife.

Di atas kertas, timnas Spanyol akan melawan Argentina dengan kepercayaan diri tinggi, setelah tampil impresif sepanjang turnamen piala dunia. Namun, ada satu sosok yang menjadi perhatian utama mereka, Lionel Messi.

Kapten Argentina itu kembali membuktikan dirinya sebagai pemain pembeda. Di usia 39 tahun, Messi tampil luar biasa dengan koleksi delapan gol dan empat assist, membawa Albiceleste melaju hingga partai puncak untuk leawan timas Spanyol.

Baca Juga: Marc Cucurella Siap Pensiun dari Timnas Jika Spanyol Juara Piala Dunia 2026

Performa gemilang Messi tersebut membuatnya difavoritkan meraih Bola Emas Piala Dunia, bahkan masih berpeluang menyabet Sepatu Emas. Melansir Sports Illustrated, pelatih timnas Spanyol Luis de la Fuente mengakui timnya sangat menghormati kualitas sang megabintang, tetapi menegaskan fokus mereka bukan hanya menghentikan satu pemain.

"Berada di final saja sudah merupakan suatu kehormatan. Saya akan mendaftar untuk mencapai final kejuaraan dunia setiap tahun dan kalah," kata De la Fuente.

"Kami ingin berjuang untuk memenangkannya. Kami akan menikmati momen ini. Mereka adalah lawan yang hebat dengan rekam jejak yang spektakuler," imbuh dia.

Baca Juga: Taktik Bertahan Thomas Tuchel saat Lawan Argentina Tuai Kritik, Pemain Senior Inggris Dikabarkan Mulai Tidak Puas

Tidak Ada Penjagaan Khusus untuk Messi

Banyak yang memperkirakan Spanyol akan menugaskan satu pemain untuk terus membayangi Messi sepanjang pertandingan. Namun, De la Fuente memilih pendekatan berbeda.

"Kami tidak akan melakukan penjagaan ketat terhadap Messi, tetapi kami akan waspada," ujar Luis De La Fuente.

Pelatih berusia 65 tahun itu juga menegaskan rasa hormatnya kepada pelatih Argentina, Lionel Scaloni. "Scaloni dan saya adalah dua pesaing hebat yang sangat mengagumi satu sama lain. Merupakan suatu kehormatan untuk menghadapinya," papar dia.

Artinya, timnas Spanyol akan mengandalkan organisasi permainan, disiplin kolektif, dan koordinasi antarlini daripada mengorbankan satu pemain untuk terus mengikuti pergerakan Messi.

Pengalaman Lama yang Tak Terlupakan

Keputusan De la Fuente tidak lepas dari pengalaman yang pernah dialaminya lebih dari dua dekade lalu. Pada 2004, ketika masih menangani tim junior Sevilla, dia menghadapi Barcelona U-19 yang diperkuat Messi muda. Saat itu, De la Fuente menugaskan seorang pemain untuk menjaga Messi secara ketat.

Strategi tersebut berjalan cukup baik hingga menit ke-70 ketika pemain penjaganya mendapat kartu kuning dan ditarik keluar. Hasilnya justru menjadi mimpi buruk.

"Mereka berbicara sangat baik tentang seorang anak laki-laki bernama Messi. Jadi, kami menempatkan seorang pemain untuk menjaganya. Pada menit ke-70, skor masih 0-0. Ketika mereka memberi kartu kuning kepada pemain yang menjaganya, saya menariknya keluar. Dan dalam 15 menit, Messi mencetak empat gol," kenang De la Fuente.

Baca Juga: Dari Juara EPA ke Tim Utama, Muhamad Hafizh Rizkianur Resmi Perpanjang Kontrak Bersama Persija

Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga baginya.

"Apakah itu berarti kita akan menjaganya secara ketat? Tidak. Apakah itu berarti kita akan memperhatikannya dengan saksama? Ya, tetapi dengan cara yang sama persis seperti mereka harus memperhatikan pemain kita," tutur dia.

Spanyol Tetap Percaya Diri

Meski harus menghadapi Messi, Spanyol memiliki alasan kuat untuk optimistis. Lamine Yamal, Mikel Oyarzabal, Pedri, Dani Olmo, hingga lini pertahanan yang baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen menjadi modal besar menuju final.

Baca Juga: Resmi Berpisah, Persik Kediri Ucapkan Terima Kasih untuk Faris Aditama yang Telah Mengabdi Selama 11 Musim

Namun, satu hal yang harus benar-benar diwaspadai adalah kemampuan Argentina mencetak gol pada fase-fase akhir pertandingan. Dari total 19 gol yang dicetak Albiceleste sepanjang Piala Dunia 2026, sebanyak 12 lahir setelah menit ke-75. Messi menjadi aktor utama dengan empat gol dan tiga assist pada periode tersebut.

Statistik itu menjadi peringatan bahwa sekecil apa pun celah yang diberikan di menit-menit akhir bisa langsung dimanfaatkan Argentina. Karena itu, jika Spanyol ingin membawa pulang trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2010, mereka bukan hanya harus membatasi ruang gerak Messi, tetapi juga menjaga konsentrasi hingga peluit panjang dibunyikan.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah